My Wild Rose

My Wild Rose
POSSO AMARTI AL?


__ADS_3

Ornado mengerjap-ngerjapkan matanya karena sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya lewat sela-sela tirai jendela kamar yang sepertinya belum tertutup rapat tadi malam. Kepala Ornado menoleh ke arah kanan, yang membuat matanya sedikit terbeliak kaget, karena tanpa dia dan Cladia sadari, entah apa yang terjadi tadi malam, saat ini Cladia tampak masih tertidur lelap dengan kepalanya berada di atas lengan tangan kanannya, dengan posisi tubuhnya yang menghadap ke arah Ornado dengan posisi sedikit meringkuk.


Dengan hati-hati sekali tangan kiri Ornado memegang kepala Cladia, mengangkatnya sebentar sehingga dia bisa menarik tangan kanannya, baru kemudian kembali meletakkan kepala Cladia di atas bantal. Bukan karena Ornado tidak nyaman kepala Cladia bertumpu di atas lengan tangan kanannya, tapi dia justru takut tindakan histeris Cladia jika saat dia terbangun dan tersadar dalam posisi seperti itu.


Ornado mengarahkan tubuhnya ke samping kanan, menghadap ke arah Cladia yang masih tertidur, tangan kanannya menahan kepalanya yang sedikit terangkat dari tempat tidur. Dipandanginya wajah Cladia yang terlihat tenang dan damai. Tangan Orando bergerak merapikan rambut yang menutupi wajah Cladia, lalu dengan sangat pelan dan berhati-hati Ornado mengarahkan tangannya ke perut Cladia, menyentuhnya lembut, lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cladia, dan dengan lembut dikecupnya kening Cladia sekilas dengan kecupan yang benar-benar lembut dan pelan.


Ornado teringat tentang kejadian kemarin malam saat dia pulang ke rumah dan melihat Cladia sudah tertidur. Ornado sengaja ke ruangan di dalam kamar tempat Cladia biasa membuat susu hangatnya sebelum tidur. Dibongkarnya kulkas dan semua lemari yang ada di ruangan itu, dan gerakan tangan Ornado langsung terhenti setelah melihat beberapa kotak susu yang tersusun rapi, diraihnya salah satunya dan senyum Ornado langsung mengembang begitu dibacanya tulisan di kotak susu yang bertuliskan "SUSU UNTUK IBU HAMIL".


Walaupun Ornado sudah berusaha melakukannya dengan sangat-sangat pelan dan hati-hati, ternyata setelah mendapatkan kecupan dari Ornado, tubuh Cladia bereaksi, bergerak dari posisi meringkuk menghadap barat bergerak ke samping, berbalik arah, ke arah timur. Beberapa detik kemudian Cladia membuka sedikit matanya, sedikit mengerjap-ngerjapkan matanya karena sorotan sinar matahari yang agak menyilaukan. sebelum akhirnya dia benar-benar membuka matanya. Tapi begitu disadarinya posisi tidurnya yang terlalu ke arah barat tidak seperti biasanya dengan buru-buru Cladia langsung membalikkan tubuhnya, mengarahkan tubuhnya menghadap barat kembali untuk melihat Ornado, yang ternyata masih dalam posisi berbaring, menghadap ke arahnya, dengan kepalanya sedikit terangkat dan ditopang oleh punggung telapak tangan kanannya, membuat wajah Cladia hampir menabrak tubuh Ornado. Tanpa sadar Cladia tidak lagi berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ornado yang saat ini sebenarnya boleh dibilang cukup dekat.


"Selamat pagi amore mio, apakah tidurmu nyenyak tadi malam?" Cladia tersenyum dengan wajah sedikit malu-malu, karena walaupun ini hari libur akhir pekan mereka, tapi menyadari Ornado bangun lebih awal darinya merupakan suatu hal yang memalukan baginya, karena biasanya tidak pernah sekalipun Ornado bangun lebih cepat darinya kecuali saat dia harus berangkat pagi ke Itali seperti beberapa waktu yang lalu.


"Maaf aku bangun kesiangan," Ornado tersenyum geli mendengar perkataan Cladia yang terdengar dengan suara malu-malu.


"Hari ini kan kita libur, tidak akan ada yang menyalahkanmu kalau kamu ingin tidur lebih lama dari biasanya," Cladia menggerakkan tubuhnya untuk duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur, Ornado segera mengikutinya.


"Jam berapa semalam kamu pulang? Maaf, semalam aku tertidur," Cladia berusaha menunggu Ornado semalam, biasanya apapun yang terjadi, semalam apapun Ornado pulang dia akan menunggunya, tapi semalam dia benar-benar tidak sadar kalau tertidur duluan.


"Tidak apa, memang kemarin meeting kami selesai terlalu malam, pukul 9 malam kami baru selesai meeting setelah itu aku masih harus menjamu mereka untuk makan malam bersama. Pukul 12 malam kemarin aku baru sampai rumah. Untung saja hari ini kita libur. Bisa lebih bersantai sedikit," Tiba-tiba Cladia mengernyitkan alisnya sedikit, teringat akan sesuatu.


"Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?" Mendengar pertanyaan Ornado, Cladia menggeleng cepat. Dia teringat kemarin malam dia menunggu Ornado sambil membaca novel, duduk berselonjor di atas sofa, tapi tadi pagi dia terbangun dengan kondisi tertidur di atas tempat tidur.


"Mmm, Al, semalam....aku tertidur di sofa," Ornado sedikit tersentak mendengar perkataan Cladia, sedikit bingung menjelaskan kejadian tadi malam.

__ADS_1


"Maaf, semalam aku yang memindahkanmu dari sofa ke tempat tidur," Cladia sedikit tertunduk lalu buru-buru dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ornado berusaha menerka-nerka apa yang ada di pikiran Cladia dari wajahnya, apakah takut, kecewa, marah, apapun itu, Ornado ingin tahu, tapi Cladia buru-buru bangkit dari tempat tidur tanpa mengatakan sepatah katapun pada Ornado, seolah dengan sengaja tidak membiarkan Ornado melihat perubahan pada raut wajahnya.


"Aku akan mandi, setelah sarapan bisakah kamu menemaniku berjalan-jalan di taman?" Cladia berkata tanpa memandang ke arah Ornado, dengan tubuhnya membelakangi Ornado yang ikut bangkit dari duduknya dari tempat tidur.


"Ok, aku akan menemanimu," Ornado terdiam sesaat, membiarkan sosok Cladia berjalan memasuki kamar mandi, sedang dia sendiri benar-benar berpikir keras mencoba untuk menerka-nerka kira-kira kenapa secara tiba-tiba Cladia ingin mengajaknya bersantai di taman mawarnya pagi ini.





Setelah mandi Cladia memakan sarapannya dengan sedikit ogah-ogahan. Saat ini hanya Ornado dan Cladia yang ada di meja makan. Tante Ema sudah sejak kemarin menginap di rumah saudaranya, Alberto sudah pergi ke Bali dengan Amadea.


Cladia teringat dengan kejadian beberapa malam yang lalu seusai pesta barbeque. Dini hari jam 2 ketika Cladia membuka matanya, dilihatnya Ornado sudah tertidur pulas di sisinya. Cladia menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga bisa memandang ke arah Ornado dengan jelas, diamatinya wajah Ornado dalam-dalam. Tanpa terasa tiba-tiba Cladia mengulurkan tangannya ke arah wajah Ornado, disentuhnya lembut wajah suaminya sambil dia menarik nafas panjang, mencoba menahan gejolak dalam dadanya.


Entar kenapa tiba-tiba airmata Cladia menetes, tangannya berhenti dengan posisi menyentuh pipi kanan Ornado. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa tiba-tiba airmatanya keluar saat memandangi wajah laki-laki itu. Apakah dia jadi begitu sensitif setelah kehamilannya, dia benar-benar tidak tahu kenapa dia menjadi begitu cengeng akhir-akhir ini.


Sejak malam di pesta ulang tahunmu itu, kenapa aku begitu sulit untuk melupakan ciuman itu, apa yang terjadi denganku?  Cladia berbisik dalam hati.


"Aku rasa kamu sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu," Cladia berbisik pelan, lalu buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Ornado dan kembali pada posisi tidurnya semula, mencoba mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba begitu cepat, membuat nafasnya sedikit memburu.


"Amore mio..." panggilan lembut dari Ornado membuat Cladia sedikit tersentak dan langsung memandang ke arah Ornado yang duduk di sampingnya.


"Ada apa denganmu hari ini? Sedari tadi aku lihat kamu banyak melamun, sepertinya selera makanmu juga buruk hari ini," Cladia tersenyum, dipandanginya wajah Ornado dalam-dalam untuk waktu yang lama. Ornado terlihat segar dan santai pagi ini, dengan pakaian casual dan celana jeansnya, rasanya jenis pakaian apapun yang dikenakan di tubuh atletisnya selalu membuatnya tampak menawan.


"Ada sesuatu di wajahku?" Cladia langsung menggeleng mendengar pertanyaan Ornado, sedang Ornado langsung tertawa ringan.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu terlalu mengagumi wajah tampanku," Ornado berkata sambil memasukkan sepotong steik ke mulutnya.


"Memang kamu tampan, hanya orang buta yang tidak bisa melihat kalau kamu begitu tampan," Ornado menghentikan kunyahannya, dipandanginya Cladia yang baru kali ini bercanda seperti itu dengannya. Melihat pandangan kaget Ornado, Cladia hanya tersenyum, menaikkan bahunya sedikit dan langsung mengambil gelas berisi susu hangat dan meminumnya.


"Makanku sudah selesai," Cladia melipat serbet yang ada di pangkuannya dan meletakkannya di atas meja makan, diliriknya Ornado melakukan hal yang sama.


Cladia bangkit berdiri, dengan sigap Ornado mengambil posisi berdiri di belakangnya, menarik kursi Cladia ke belakang agar Cladia bisa dengan nyaman keluar dari tempat duduknya. Setelah itu Cladia laagsung berjalan keluar dari rumah menuju kebun mawarnya, Ornado berjalan di sampingnya sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeansnya. Cladia melirik ke arah Ornado sambil menarik nafas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya saat ini, mencoba memastikan hatinya benar-benar siap untuk apa yang akan dia lakukan.


Cladia menghentikan langkahnya ketika dia sampai di depan kebun mawarnya, dilihatnya mawar merah yang tersusun rapi membentuk hati di depannya. Ornado melirik ke arah Cladia yang terlihat termenung memandangi bunga mawar di depannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Cladia menoleh mendengar pertanyaan Ornado, tiba-tiba tangan kanan Cladia menarik tangan kiri Ornado sehingga Ornado mengeluarkan tangannya dari kantong celananya. Belum lagi Ornado mengatasi rasa kagetnya tangan kanan Cladia bergerak untuk menggenggam tangan kiri Ornado, menariknya, mengajaknya berjalan di antara tanaman mawarnya, kemudian berhenti di tengah-tengah kebun mawar itu, mendekati mawar yang tersusun rapi membentuk huruf C.


Cladia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ornado yang wajahnya masih terlihat sedikit bingung dengan apa yang barusan dilakukan Cladia padanya. Tanpa melepas genggaman tangan kanannya di tangan kiri Ornado Cladia bergerak untuk lebih dekat lagi dengan Ornado, kemudian tangan kirinya meraih tangan kanan Ornado dan menggenggamnya juga. Ornado menatap wajah Cladia dalam-dalam, tidak ada ketakutan di wajah Cladia hari ini, justru wajah kikuk dan salah tingkah yang dilihatnya, semburat warna merah terlihat jelas di kedua pipi Cladia, membuatnya semakin terlihat cantik dan menggemaskan.


"Al..," Bibir Cladia memanggil nama Ornado dengan sedikit bergetar, dari genggaman tangan Cladia yang semakin erat pada tangannya dan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangan Cladia, Ornado bisa merasakan saat ini Cladia benar-benar gugup.


"Al, ada sesuatu yang mau aku sampaikan padamu," Ornado tersenyum sambil menundukkan kepalanya, berusaha membuat Cladia tenang dengan senyumannya.


"Aku.....Aku...." Cladia menarik nafas dalam-dalam.


"Aku...aku rasa, aku sudah....sono innamorato di te. Posso amarti? (aku jatuh cinta kepadamu. Bolehkah aku mencintaimu?)" Mata Ornado sedikit terbeliak mendengar ucapan lirih Cladia, benar-benar tidak menyangka Cladia menyatakan cinta kepadanya. Tiba-tiba kedua kaki Cladia berjinjit, dengan kedua tangannya masih menggenggam tangan Ornado. Cladia mendekatkan bibirnya ke bibir Ornado dan mencium bibir Ornado sekilas, membuat mata Ornado semakin membeliak karena kaget.


Setelah mencium Ornado sekilas, Cladia melepaskan genggaman kedua tangannya, tapi tanpa diduga oleh Cladia, dengan gerakan yang begitu cepat tangan kiri Ornado yang sudah bebas langsung bergerak memeluk pinggang Cladia, menarik tubuh Cladia ke arahnya, tangan kanannya memegang leher Cladia bagian belakang, mengarahkan wajah Cladia untuk mendongak ke wajahnya sendiri yang sudah menunduk untuk mendekati wajah Cladia, dan bibir Ornado langsung mencium bibir Cladia, melumatnya dengan lembut dan penuh perasaan, menikmati kelembutan bibir Cladia yang begitu lama sudah diinginkannya. Untuk sesaat Ornado benar-benar melupakan tentang phobia Cladia terhadapnya. Cladia awalnya tersentak kaget, namun dengan perlahan Cladia membiarkan matanya terpejam, kedua tangannya bergerak ke arah punggung Ornado dan membalas pelukan Ornado, membiarkan bibir Ornado menghisap bibirnya dengan lembut untuk waktu yang tidak sebentar, membuat dia harus beberapa kali sedikit menarik diri untuk mengambil nafas. Sesekali dirasakannya tangan kiri Ornado mengelus lembut punggungnya. Melihat tidak adanya penolakan dari Cladia, bahkan Cladia mulai membalas pelukan dan ciumannya, dengan tangan kanan Ornado yang masih tetap merengkuh leher Cladia, Ornado mempererat rengkuhan tangannya sehingga bibir Cladia semakin menyatu dengan bibirnya.

__ADS_1


Saat Ornado sudah benar-benar telah menarik bibirnya dari bibir Cladia, Cladia melepaskan pelukannya pada tubuh Ornado yang langsung mengatur nafasnya karena detakan jantungnya yang menjadi begitu cepat. Ornado tersenyum sambil menggigit bibirnya bagian bawah, lalu memandangi wajah Cladia dengan pandangan tidak percaya. Sebentar kemudian Ornado kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Cladia.


"Ti amo, amore mio, grazie per il tuo amore," (aku mencintaimu, cintaku, terimakasih untuk cintamu) Dengan perlahan-lahan tangan kanan Ornado menyingkirkan rambut yang menutupi leher Cladia lalu bibirnya mencium leher Cladia dengan lembut, selanjutnya bibirnya bergerak ke arah bahu Cladia dan menciuminya, sedang hidungnya menarik udara di sekitar leher Cladia dalam-dalam, menikmati harum tubuh Cladia, membiarkan jantungnya berdetak dengan kencang, otot-otot pada tubuhnya menegang tanpa bisa dia kendalikan lagi, menginginkan sesuatu yang lebih.


__ADS_2