My Wild Rose

My Wild Rose
TEMANI AKU MALAM INI


__ADS_3

“Ah, maaf…., maksudku bukan itu…..” Cladia melepaskan tangannya dari piyama Ornado.


"Bukan seperti yang kamu pikirkan....," Cladia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Ornado yang masih menatapnya dengan wajah tidak percaya.


“Aku takut…., aku berharap kamu tidak keberatan...., untuk menemaniku tidur di sampingku..., malam ini saja," Suara Cladia terdengar semakin terbata-bata.


"Tapi….. kumohon...., jangan melakukan apa-apa, jangan terlalu dekat denganku....," Cladia benar-benar kehabisan kata-kata.


"Malam ini aku hanya berharap...., bisa merasa tenang....., karena aku tahu aku tidak sendirian…,” Ornado tersenyum, andai saja bisa, rasanya dia ingin tertawa sambil berteriak sekuat-kuatnya untuk mengungkapkan begitu bahagianya dia, hatinya yang begitu bahagia seakan-akan bisa membuatnya terbang. Saat ini rasanya jantungnya mau meledak mendengar apa yang baru saja Cladia katakan. Andai saja Cladia bisa melihat betapa bahagianya hatinya saat ini.


"Tenang Cla, kamu tidak perlu sibuk menjelaskannya, dari tadi aku tidak mengatakan apa-apa kan?" Ornado tersenyum, melangkah mendekati sofa, mengambil selimut dari sana dan mendekati tempat tidur dari sisi lain, merebahkan badannya disana, menutupi tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya seolah-olah di tempat tidur itu hanya ada dirinya. Mata Cladia melirik kearah Ornado, mengawasi apa yang dilakukan pria itu sejak dia berjalan mengambil selimutnya dari sofa sampai dia tidur berbaring di sampingnya. Ukuran tempat tidur yang besar membuat jarak mereka cukup jauh karena mereka membaringkan tubuh mereka masing-masing di bagian ujung tempat tidur.


"Al," Mendengar namanya disebut Ornado membuka matanya, menoleh ke arah Cladia yang masih dalam posisi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, dengan mata memandang lurus ke depan, tanpa berani memandang wajah Ornado.


"Beberapa hari ini maaf membuatmu tidak nyaman tidur di sofa," Ornado menggerakkan badannya ke samping, ke arah Cladia, sedikit mengangkat badannya, menopang kepalanya dengan punggung telapak tangannya.

__ADS_1


"Maaf, aku selalu menjadi orang yang paling egois," Belum sempat Ornado membalas kata-katanya, Cladia melanjutkan bicaranya.


"Cladia, rasanya kamu masih belum tahu betapa besarnya kekuasaanmu sebagai Nyonya Xanderson," Ornado bangkit dari tidurnya, mengikuti posisi Cladia, duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, mau tidak mau Cladia mengerakkan kepalanya ke samping untuk memandang wajah Ornado karena dia begitu tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ornado barusan.


"Kamu sudah membuatku memberikan semua hatiku sejak 15 tahun lalu, semuanya sudah kamu rebut tanpa tersisa sedikitpun untuk yang lain. Kalau kamu katakan aku harus menunggu, aku akan menunggu, kalau kamu katakan aku harus berlari, aku akan berlari, kalau kamu katakan aku harus melakukan sesuatu yang mustahil, apapun akan aku usahakan untuk mendapatkannya, sesulit apapun itu, apapun yang kamu katakan, akan aku lakukan, asal jangan memintaku pergi dari sisimu, aku tidak akan sanggup melakukan itu," Cladia terkesiap mendengar perkataan Ornado, buru-buru dia memalingkan wajahnya ke arah lain, takut Ornado membaca gejolak yang saat ini sedang terjadi di dalam hatinya karena kata-kata Ornado barusan.


Apakah benar aku sepenting itu di dalam hatimu Al? Cladia berbisik dalam hatinya, walaupun dia bisa melihat kesungguhan dari kata-kata Ornado, tapi dia masih berusaha mengendalikan dirinya agar tidak jatuh oleh perkataan makhluk yang dinamakan pria, yang sudah dia saksikan sendiri bahkan atas nama cinta pun mampu melakukan perbuatan yang sadis kepada orang yang dicintainya.


"Percayalah padaku, tidak pernah dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Apapun yang orang lain katakan, jangan pernah percaya itu, jangan pernah mencari penjelasan kepada orang lain, datanglah padaku saat kamu mempertanyakan sesuatu, apapun itu aku akan menjawabnya dengan jujur. Apapun yang kamu lihat, tetaplah arahkan matamu padaku, jangan melihat yang lain, aku akan melakukan segalanya untukmu. Aku adalah Ornado Xanderson, aku bukan Edo, aku bukan Jeremy, aku Ornado Xanderson, yang sejak 15 tahun lalu sudah dalam genggaman tanganmu, dalam kendalimu," Dada Cladia tiba-tiba terasa perih, rasanya dia ingin menangis sekeras-kerasnya, dia segera berusaha menjauhkan wajahnya dari jangkauan pandangan Ornado.


Lalu bagaimana dengan Amadea? Dengan kecantikannya, dengan sikap manjanya, apakah suatu hari posisiku dihatimu akan tergeser olehnya? Cladia menarik nafasnya dalam-dalam, ingin sekali dia menanyakan itu kepada Ornado, tapi dia tak sanggup untuk mengeluarkan suaranya untuk menanyakan itu.


"Cla, 15 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi bagiku, asal seperti saat ini kamu ada di sisiku, rasa penantian 15 tahun itu bagiku seperti baru kemarin. Aku tidak perduli berapa lama lagi hatimu siap untukku, aku akan tetap menunggumu. Saat kamu siap, kamu tidak perlu berjalan ke arahku, aku yang akan berlari ke arahmu," Cladia semakin tidak bisa berkata-kata, Ornado bergerak membaringkan tubuhnya.


"Hari ini pasti membuatmu sangat lelah, tidurlah Cla, selamat malam," Ornado kembali menarik selimutnya menutupi badannya, kedua tangannya terlipat di atas selimut yang menutupi dadanya.

__ADS_1


Untuk waktu yang lama Cladia tetap dalam posisinya sampai akhirnya dia memutuskan untuk ikut membaringkan tubuhnya, diliriknya wajah Ornado yang tidur di sampingnya, dilihatnya mata laki-laki itu sudah terpejam. Melihat wajah Ornado dari samping dengan jarak yang beritu dekat, bagi Cladia ini baru pertama kalinya. Siluet yang ditimbulkan dari wajah Ornado yang terlihat dari samping membuat Cladia tidak sadar telah menikmati pemandangan itu untuk waktu yang tidak sebentar.


"Al, apa kamu sudah tidur?" Setelah lama dalam keheningan, Cladia bergumam pelan sambil matanya memandang ke langit-langit kamar.


"Belum, kenapa?" Ornado menjawab pelan dengan mata tetap terpejam, Cladia cukup dibuat kaget dengan jawaban Ornado, karena dia benar-benar menyangka Ornado sudah tertidur. Bagaimanapun pria itu sudah diam tidak bergerak lebih dari 30 menit, dalam posisi yang sama, sehingga membuat Cladia yakin dia sudah tidur.


"Ah, tidak, apakah kamu merasa tidak nyaman sehingga belum bisa tidur?" Ornado tersenyum mendengar pertanyaan Cladia, Cladia memalingkan wajahnya menghadap ke arah Ornado yang masih dalam posisi memejamkan matanya.


"Tentu saja lebih nyaman tidur disini daripada di sofa, apa kamu ingin aku kembali tidur disana?"


"Tidak..., tidak Al, tetaplah disini, aku hanya khawatir kamu merasa tidak nyaman," Kali ini Ornado benar-benar harus menahan dirinya dengan sekuat tenaga untuk tidak tertawa, bagaimana mungkin dia bisa tidur dengan nyaman, sedangkan di sisinya ada sosok wanita yang begitu dicintainya, diinginkannya lebih dari siapapun di dunia ini, sosok wanita yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar, otot-otot di tubuhnya menegang karena begitu menginginkannya. Kalau boleh jujur, betapa sulitnya selama ini dia berusaha mengendalikan diri saat berada dekat dengan Cladia.


Jangankan tidur di sampingnya, selama berapa hari dia tidur di sofa, dengan sengaja dia selalu berusaha tidur dengan membelakangi tempat Cladia tidur, karena sebenarnya sangat sulit baginya untuk mengendalikan diri saat dia menyadari dia berada dalam satu ruangan dengan Cladia. Bahkan kadang hal itu membuatnya tidak tidur untuk waktu yang lama sehingga dia memutuskan untuk berjalan tanpa suara mendekati tempat Cladia berbaring, memandangi wajah cantiknya yang tertidur sampai dia merasa lelah dan menyerah, kembali ke sofanya berharap untuk bisa tidur walau hanya beberapa waktu sebelum fajar datang. Untuk beberapa waktu Ornado berkutat dengan pikirannya sendiri, tidak merespon perkataan Cladia.


“Cla….,” Ketika Cladia tidak lagi merespon panggilannya, Ornado membuka matanya, melirik ke arah Cladia yang ternyata sudah tertidur dengan tubuh terarah kepadanya, nafasnya terdengar teratur, benar-benar sudah menikmati tidurnya, Ornado tersenyum sambil menarik nafas panjang sambil menggerakkan tubuhnya ke samping sehingga tubuh mereka saling berhadap-hadapan.

__ADS_1


Wanita secerdas kamu, ternyata pengetahuanmu tentang pria benar-benar nol. Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pria. Bagaimana kamu berharap aku bisa menikmati tidurku sedangkan kamu terbaring di sampingku, dengan pesonamu yang membuat setiap sel dalam tubuhku memberontak karena menginginkanmu, Ornado berkata dalam hati, tangan Ornado menyentuh rambut Cladia yang menutupi sebagian wajahnya, merapikannya ke belakang sehingga dengan jelas dia dapat menikmati wajah Cladia yang tertidur.


Ratusan wanita telanjang di depanku tidak akan pernah bisa menggoyahkanku, tapi hanya dengan melihat wajahmu yang tertidur saja kamu bisa membuatku kehilangan kendali atas akal sehatku. Ornado mendesis, buru-buru dia mengalihkan pandangannya dari wajah Cladia dan membalikkan tubuhnya membelakangi Cladia sebelum dia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri malam itu.


__ADS_2