My Wild Rose

My Wild Rose
INGATAN YANG MENGUSIK HATI


__ADS_3

Seusai pesta ulang tahun Ornado malam itu Jeremy dan Niela masih mampir di rumah mereka sebentar sambil membantu menurunkan beberapa hadiah yang tadi sempat dititipkan di mobil mereka, sedang Cladia memilih untuk meminta ijin beristirahat karena lelah.


"Ok, Ad, semua hadiahmu sudah diturunkan, kami akan langsung pulang," Jeremy mengambil kunci mobil dari kantongnya, karena kebetulan malam ini dia sengaja tidak membawa sopirnya, ingin sekali-sekali berduaan dengan Niela.


"Kalian tidak mau menunggu sebentar lagi untuk mengobrol?" Jeremy tersenyum nakal mendengar tawaran dari Ornado.


"Kami cukup tahu diri Ad, hari ini sepertinya kamu bahagia sekali, rasanya tidak pantas kalau kami memaksamu untuk menemani kami sedangkan Cladia sudah menunggumu di kamar," Niela ikut tersenyum mendengar candaan Jeremy.


"Aku harap apa yang dilakukan Cladia tadi bisa kalian lanjutkan lagi di tempat yang sudah semestinya, selamat merayakan sisa waktu ulang tahunmu malam ini berdua dengan Cladia." Kali ini Niela tidak dapat lagi menahan tawanya mendengar godaan Jeremy yang sukses  membuat wajah Orando sedikit memerah dan salah tingkah. Tangan Jeremy meraih tangan Niela untuk mengajaknya meninggalkan rumah itu, tapi baru dua langkah, Jeremy kembali membalikkan badannya, memandang ke arah Ornado dengan seyum menggoda.


"Jangan lupa kadoku sebelum hari pernikahan kami tiba, semoga beruntung malam ini, berusahalah lebih keras lagi Ad," Setelah berbicara Jeremy langsung berjalan ke arah pintu keluar dengan suara tawanya bersama Niela, meninggalkan Ornado yang hanya bisa tersenyum simpul karena godaan dari Jeremy.


Sekilas Ornado menyentuh bibirnya dengan jari-jari tangannya sambil tersenyum, teringat akan ciuman lembut bibir Cladia malam ini yang benar-benar tidak bisa dia lupakan, rasanya bekas ciuman itu sampai sekarang masih tertinggal di bibirnya, terasa begitu lembut dan manis, juga..... tanpa sadar membangkitkan gairahnya. Sejak kejadian tadi Ornado terus terbayang-bayang dengan ciuman Cladia. Ornado menarik nafas panjang, sampai akhirnya memutuskan untuk berjalan meninggalkan ruang keluarga dan berjalan menuju kamarnya dengan senyuman bahagia yang sedari tadi terus menghiasi wajah tampannya.





Sebenarnya yang dirasakan Cladia bukan sekedar lelah secara fisik. Entah mengapa sejak tadi Cladia begitu sulit menghapuskan ingatan tentang Ola dan Amadea yang mencium Ornado, ada rasa bergemuruh di hatinya yang membuat hatinya merasa tidak nyaman.


Entah kenapa ingatan tentang Amadea dan Ola hari ini benar-benar membuatnya merasa sedih, jengkel, marah, kecewa yang tidak dapat dia ungkapkan dan tidak dapat dia mengerti perasaan macam apa itu. Tanpa terasa Cladia yang sedang duduk di depan kaca jendela kamarnya sambil memandangi lampu-lampu di kebun mawarnya tiba-tiba meneteskan airmata. Cladia tidak tahu apa yang sedang dia rasakan, tapi hatinya merasa perih setiap teringat tentang kejadian itu. Karena terlalu kalut dalam pikirannya Cladia tidak menyadari kalau Ornado yang baru saja mendekat ke arahnya terlihat kaget karena melihatnya sesuatu yang bening mengalir di pipi istrinya.


"Apa kamu baik-baik saja Amore mio?" Cladia buru-buru menghapus airmatanya dengan kedua punggung tangannya. Ornado bergerak ke hadapan Cladia yang dalam posisi duduk, dengan satu kakinya Ornado berlutut di depan Cladia. Kepalanya mendongak untuk memandang wajah Cladia yang terlihat sembab, entah sudah berapa lama dia menangis.


"Apa yang terjadi padamu? Apa ada yang menyakitimu? Katakan padaku," Cladia mengelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Ornado, rasanya lidahnya hari ini terasa kelu, bagaimana dia bisa mengeluarkan suara untuk mengatakan pada Ornado bahwa hari ini dia benar-benar tersiksa karena ingatannya tentang Ola dan Amadea di pesta tadi.

__ADS_1


Ah, benar-benar bodoh, kenapa aku harus menangis? Aku benar-benar tidak mengerti kenapa airmataku tidak bisa dihentikan, Cladia berkata dalam hati sambil berusaha untuk terus mengusap airmatanya.


Ornado menarik nafas panjang melihat Cladia tidak merespon pertanyaannya sama sekali, membuat Ornado berusaha menebak-nebak apa yang ada di hati Cladia.


"Apa kamu merasa sedih karena Ola?" Tanpa sadar mata Cladia langsung menatap Ornado dengan sedikit terbeliak begitu pria itu menyebut nama Ola. Ornado langsung tersenyum, karena tebakannya benar.


"Tidak pernah terjadi apapun antara aku dan Ola, dan tidak akan pernah, percayalah padaku, bagiku hanya satu orang yang pantas menjadi Nyonya Xanderson," Cladia menelan ludahnya, benar-benar sulit mengatakannya, tapi akhirnya pernyataan yang di tahan-tahannya terucap juga.


"Tapi kamu tidak keberatan menerima ciuman darinya..." Mata Ornado melotot kaget mendengar perkataan Cladia.


"Tidak sama sekali, memang dia bermaksud menciumku, tapi aku berhasil menghindarinya, apa kamu lihat dia menciumku?" Tiba-tiba Orando tertawa kecil, menyadari bahwa posisi Cladia saat itu memang tidak memungkinkan untuk melihatnya mendorong tubuh Ola, tangan kanan Ornado bergerak pelan menyentuh rambut di kepala Cladia lembut. Kali ini Cladia hanya terdiam terpaku, tidak ada gerakan menghindar dari tubuhnya.


"Percayalah, malam ini yang sudah mencuri ciumanku adalah Nyonya Xanderson, tidak ada wanita lain,"


"Tapi Amadea juga...." Ornado mengernyitkan alisnya mendengar Cladia menyebutkan nama Amadea, memang tadi di pesta Amadea sempat mencium pipinya.


"Ternyata karena kecemburuanmu terhadap mereka berdua yang membuatmu berubah berani sampai mengambil inisiatif menciumku?" Pipi Cladia langsung memerah mendengar perkataan Ornado barusan.


"Aku tidak cemburu. Benar, buat apa aku cemburu...." Ornado melepaskan tangannya dari kepala Cladia. Dengan sedikit menundukkan kepala Orando tertawa, tangan kanannya menutupi bibirnya yang tertawa geli.


"Oh ok, kalau aku tahu dengan cara itu bisa membuatmu lebih berinisiatif, aku tidak keberatan memikirkan cara lain untuk mengulanginya lagi," Mata Cladia terbeliak kaget, beberapa detik kemudian air matanya kembali menetes, dia benar-benar merasa tidak suka masalah itu dijadikan candaan oleh Ornado, dia merasa dipermalukan. Ornado yang langsung menyadari kesalahannya langsung terdiam, menghentikan tawanya.


"Maaf, maafkan aku Amore mio. Jangan menangis lagi, aku tidak bermaksud membuatmu merasa terhina, aku terlalu bahagia karena kejadian hari ini," Cladia mengusap airmatanya kembali, berusaha untuk menghentikannya, tapi airmatanya tetap mengalir.

__ADS_1


"Aku tahu butuh kekuatan dan keberanian ekstra untuk membuatmu melakukan itu, aku benar-benar berterimakasih untuk usaha kerasmu belajar mencintaiku," Ornado menatap Cladia lembut, membuat Cladia sedikit menghela nafasnya agar dia bisa mengendalikan dirinya yang tampak kacau.


"Sepertinya aku benar-benar melupakan tentang Amadea. Jangan pernah merasa cemburu padanya, dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisimu di hatiku," Ornado kembali mengelus kepala Cladia lembut dengan mesra.


"Dia adik sepupuku," Cladia memberanikan diri untuk membalas tatapan Ornado dengan pandangan sedikit kaget karena penjelasan Ornado tentang siapa Amadea.


"Dia putri dari adik perempuan papa yang menikah dengan pria bermarga De Luca. Papaku adalah putra pertama kakekku, yang kedua adalah papanya James dan Afro, diluar itu papaku masih memliki 5 adik perempuan, salah satunya mama Amadea. Aku sudah pernah bilang, aku punya banyak sepupu perempuan yang usianya ada di bawahku, jumlahnya lebih dari 10 orang. Sejak kecil Amadea dan James sering menginap di mansion kami, karena itu dia dan James yang paling dekat denganku. Bahkan papa sudah menganggap mereka berdua seperti anaknya sendiri, sengaja membiarkan mereka tinggal di mansion kami untuk menemaniku agar aku tidak merasa sendirian sejak meninggalnya mama. Sejak kecil memang Amadea mengidolakanku, tapi hanya sebatas adik yang menyayangi kakaknya, karena itu dia sangat penasaran  denganmu, satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi. Dia merasa harus gadis yang terbaik yang boleh menikah denganku," Ornado menghentikan bicaranya sejenak, diliriknya Cladia yang wajahnya sudah mulai tenang.


"Dia pernah dengan sengaja mengenalkanku pada teman-temannya yang dia anggap cantik dan hebat untuk mencoba membuktikan apakah aku tetap akan memilihmu," Ornado tersenyum mengingat kejadian waktu itu yang cukup membuatnya marah besar pada Amadea, padahal sebelumnya dia tidak pernah memarahi Amadea.


Saat itu Amadea sengaja berpura-pura mengalami kecelakaan dan meminta Ornado untuk datang. Amadea melakukan itu untuk dapat membuat Ornado datang ke rumah temannya supaya Amadea bisa mengenalkannya dengan temannya tersebut. Untuk selanjutnya Amadea kembali menjebak Ornado lebih dari dua tiga kali dengan berbagai modus yang berbeda-beda. Ornado bukannya tidak mengerti tapi dia sengaja berpura-pura bodoh daripada terus marah kepada Amadea, mengikuti permainan Amadea sampai akhirnya Amadea lelah dan menyerah, bahkan membuatnya benar-benar penasaran dengan sosok Cladia.


"Pada akhirnya setelah bertemu dan bekerja sama denganmu dia mengakui bahwa kamu adalah wanita hebat yang layak menjadi istriku," Ornado menundukkan kepalanya sebentar, kemudian kembali memandang wajah Cladia yang walaupun dengan mata sembabnya tetap tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.


"Kamu tidak pernah mengatakan apapun tentang Amadea padaku," Ornado bangkit dari berlututnya, berdiri di hadapan Cladia sambil lagi-lagi mengusap lembut rambut Cladia, berusaha menunjukkan betapa dia mencintai Cladia dan tidak pernah menyesal menjadikan Cladia sebagai pendamping hidupnya.


"Maaf, saat bersamamu aku terlalu fokus sehingga sering melupakan hal lain, lain kali aku akan ingat untuk menceritakan apapun tentang aku kepadamu, termasuk tentang siapapun orang yang berada di dekatku," Cladia menarik nafas panjang, tanpa disadarinya ada perasaan yang begitu melegakan di dadanya saat ini, dan dia merasa bersalah atas tuduhan yang sempat dia tujukan pada Ornado tanpa mencari tahu lebih dahulu tentang kebenarannya.


Cladia menarik nafas panjang, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya sebagian besar adalah kesalahan dia sendiri. Selama ini Ornado begitu mengerti tentang dirinya sampai pada hal-hal yang kecil, sedangkan Cladia, terlalu acuh tak acuh terhadap Ornado, dia hampir-hampir tidak pernah mencari info tentang siapa Ornado, bagaimana kehidupannya, tentang keluarganya di Itali, bahkan apa hobi suaminya pun sepertinya Cladia belum tahu pasti.


"Maaf Al, selama ini aku terlalu tidak perduli tentang kamu," Ornado tersenyum lega melihat wajah Cladia yang sudah tidak menunjukkan wajah sedih lagi.


"Jangan khawatir, kita punya banyak waktu untuk kamu bisa mengenalku lebih dalam lagi, kita punya waktu seumur hidup kita," Ornado memandangi wajah Cladia sekali lagi, tiba-tiba ingatan tentang ciuman Cladia segera terlintas lagi di pikirannya.

__ADS_1


"Ehem, istirahatlah, sudah malam, aku akan berganti pakaian dulu," Ornado berjalan ke arah ruang ganti sambil melepas jasnya. Untuk beberapa menit Cladia masih berdiam diri, tapi kemudian dia bangkit berdiri berjalan ke arah tempat tidurnya setelah menutup tirai jendela kamarnya.


NOTE : Untuk para pembaca setia, terimakasih untuk waktu dan kesetiaanya menunggu novel ini berlanjut. Karena satu dan lain hal, up selanjutnya akan sedikit tertunda, diusahakan akan up kembali di bulan Maret, terimakasih. Jangan lupa like, comment, vote dan follow ya.....Happy reading.


__ADS_2