
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," Ornado menggerakkan tubuhnya, berbalik kembali sehingga tubuhnya berhadapan kembali dengan Cladia.
"Hanya ingin mendapatkan kepastian bahwa kamu baik-baik saja," Tangan kanan Cladia yang menggenggam tangan Ornado bergerak sedikit menarik ke arahnya, membuat Ornado kembali berjalan mendekati kursi di dekat tempat tidur dan duduk kembali disana. Begitu Ornado kembali duduk Cladia buru-buru melepas genggaman tangannya.
"Aku mohon, aku baik-baik saja," Ornado menarik nafas panjang mendengar Cladia yang tetap bersikeras.
"Aku hanya sedikit butuh istirahat, besok juga aku akan segar kembali," Tangan Cladia meraih segelas susu yang ada di nakas samping tempat tidurnya.
"Baiklah, tapi kalau sampai besok pagi kondisimu belum membaik aku akan tetap memanggil Laurel," Ornado berkata sambil matanya mengawasi Cladia yang meneguk susunya tanpa menjawab pernyataan Ornado barusan, membuat kecurigaan Ornado tentang kehamilan Cladia semakin kuat.
"Seingatku kamu tidak pernah meminum susu sebelum tidur, tapi akhir-akhir ini aku lihat kamu cukup rutin meminum susu sebelum tidur, benarkah tidak ada yang salah denganmu?" Cladia meletakkan kembali gelas bekas susu yang diminumnya ke atas nakas, membersihkan bibirnya dengan tissue lalu memandang Ornado dengan tersenyum.
"Aku baik-baik saja, jangan terlalu khawatir, aku tahu batas kekuatanku, kapan aku harus tetap berjalan ataupun kapan aku harus berhenti," Ornado sedikit menahan nafasnya, rasanya malam ini akan percuma memaksa Cladia mengakui kondisi kesehatannya, apalagi jika Cladia benar-benar hamil, Ornado benar-benar tidak akan membiarkan Cladia merasa tertekan atau tidak bahagia sehingga dapat mempengaruhi kondisi bayi kecil mereka.
"Kalau begitu tidurlah sekarang, supaya besok kamu bisa merasa segar. Tidak perlu berangkat ke kantor kalau kondisimu belum membaik besok," Cladia mengangguk, Ornado bangkit dari duduknya, dengan perlahan dia memberanikan diri mendekat ke arah Cladia, menundukkan badannya, sehingga bibirnya bisa mencium puncak kepala Cladia, dan dia cukup terkejut dengan reaksi Cladia yang hanya tersentak pelan karena kaget, tapi tidak berusaha menjauhkan kepalanya dari bibirnya. Ornado tersenyum dan meluruskan kembali tubuhnya sambil meraih remote televisi yang ada di atas nakas, lalu mematikan televisi.
"Tidurlah, perbanyak waktu istirahatmu, aku akan kembali ke acara di bawah, atau aku perlu meminta ijin kepada mereka untuk menemanimu sampai tertidur?" Cladia tersenyum dengan sedikit malu-malu, bukan hanya karena penawaran dari Ornado barusan dan kejadian sebelumnya, tapi juga karena ciuman Ornado barusan di puncak kepalanya yang menyebabkan sesuatu yang panas tiba-tiba merambat ke pipi dan dadanya.
"Tidak perlu, tidak sopan membiarkan tamu berpesta tanpa adanya tuan rumah bersama mereka. Tolong sampaikan maafku karena tidak bisa melanjutkan menemani mereka," Ornado mengangguk, tangannya meraih gelas kosong di atas nakas.
"Ok, selamat beristirahat amore mio," Ornado berjalan melangkah keluar dari kamar, sedang Cladia segera mengambil posisi berbaring, memandang ke arah bantal di sebelah barat, di tempat dimana biasanya Ornado tidur di sampingnya selama berapa lama ini.
Cladia manarik nafas panjang sambil menyentuh lembut bantal di sampingnya. Bau harum parfum Ornado yang masih tertinggal di ruangan ini, membuat Cladia merasakan seolah-olah Ornado masih ada di dekatnya, di dalam kamar bersamanya. Tanpa sadar bibir Cladia menyunggingkan senyum. Dengan mata sedikit terpejam, beberapa kali dia menarik nafas panjang, menikmati bau harum parfum dari tubuh Ornado yang masih tertinggal.
__ADS_1
Ah, kenapa semakin hari aku merasa berubah menjadi wanita manja jika Al ada di dekatku. Bayi kecil mama, apa kamu sudah mulai bisa mengenali suara dan keberadaan papamu? Dengan masih tersenyum dan menutup matanya, Cladia mengelus-elus perutnya dengan lembut.
"Kenapa kamu kembali kemari? Bagaimana kondisi Cladia?" Tante Ema langsung menyambut Ornado dengan pertanyaan begitu dilihatnya Ornado berjalan kembali ke tempat mereka mengadakan pesta barbeque di halaman belakang.
"Dia baik-baik saja, sekarang dia sedang beristirahat," Ornado menepuk bahu Tante Ema 2 kali, lalu berjalan ke arah gasebo dimana ada Niela dan Jeremy yang sedang duduk sambil mengobrol disana.
"Ad, apa benar Cladia sedang hamil?" Niela juga langsung menyambut Ornado dengan pertanyaan begitu dia duduk di sebelah Jeremy di gasebo yang posisinya aga jauh dari tempat yang lain sedang menikmati berbeque.
"Aku tidak tahu pasti, kalau dari gejala yang ditunjukkan Cladia memang seperti ciri-ciri orang yang sedang hamil, tapi dengan usia kehamilan yang masih terlalu muda kepastian hanya bisa didapat kalau kita melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan," Ornado menjawab pertanyaan Niela sambil tersenyum, membayangkan jika Cladia benar-benar hamil membuat dadanya berdebar-debar dan benar-benar tidak percaya.
"Lalu kenapa kamu tidak langsung menelpon dokter Laurel?" Senyum Ornado sedikit surut mendengar pertanyaan Niela tentang pemeriksaan.
"Aku tidak mau memaksanya, kalau benar dia hamil, tidak bagus membuat emosinya tidak stabil," Ornado menyatukan kedua telapak tangannya dan menumpangkannya di atas kedua lututnya.
"Tapi jangan khawatir, beberapa hari ini aku akan berusaha membujuknya, selain itu aku juga akan minta pendapat dari Laurel, kalau perlu aku akan mengunjungi Laurel," Niela dan Jeremy hanya bisa mengangguk mendengar perkataan Ornado.
"Dan kalau memang kondisinya tidak membaik untuk berapa lama ini, dengan terpaksa aku akan memanggil Laurel untuk datang memeriksanya, tapi aku berharap semua akan baik-baik saja," Ornado mengatupkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya ke bibirnya, menunjukkan dia sedang memikirkan sesuatu yang serius.
Kenapa kamu benar-benar menolak untuk diperiksa dengan Laurel, jangan-jangan.... kamu sudah tahu kalau kamu sedang hamil? Ornado berkata dalam hati dengan kening yang berkerut karena kemungkinan yang baru terpikir olehnya barusan, apalagi teringat tentang susu yang diminum Cladia tadi di kamar sebelum dia pergi.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Ad?" Sentuhan tangan Amadea di bahu Ornado langsung membuat Ornado menoleh dan sedikit mendongak ke arah Amadea dan James yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Ah, tidak ada apa-apa," Ornado tersenyum, menggeser duduknya sehingga James dan Amadea bisa duduk bergabung di gasebo bersamanya.
"Apa terjadi sesuatu yang serius dengan Cladia? Kenapa wajahmu terlihat bingung?" James bertanya sambil menyodorkan gelas berisi minuman dingin ke arah Ornado yang langsung mengambil dan meneguknya.
"Aku harap tidak, dia sedang beristirahat sekarang," Tangan James langsung bergerak melingkar ke bahu Ornado.
"Apa benar yang dikatakan paman? Kamu akan segera menjadi seorang papa?" James bertanya dengan senyuman menggoda di wajahnya.
"Entahlah, aku berharap sekali itu benar," Telapak tangan James menepuk-nepuk bahu Ornado.
"Ternyata kamu bukan hanya hebat dalam hal bisnis, dalam hal itu pun kamu hebat juga. Belum ada 3 bulan kalian menikah kamu sudah mendapatkan hasil, benar-benar patut diacungkan jempol, ke depannya aku perlu belajar banyak darimu setelah aku menikah," James berkata sambil terkikik, Amadea yang mendengar candaan James ikut tertawa.
Dasar James, kalau saja dia tahu aku baru sekali melakukannya, dia pasti akan mengejekku habis-habisan, Ornado berkata dalam hati sambil tersenyum kecut, kemudian meneguk kembali minuman di gelasnya.
"Ayolah Ad, jangan berwajah serius seperti itu, kalaupun Cladia belum hamil, tidak apa-apa, tunggu saja, dan bekerjalah dengan lebih giat lagi," Amadea ikut menimpali candaan James yang membuat Ornado bertambah salah tingkah.
"Kalian ini....benar-benar suka mengolok-olok orang," James tertawa terkekeh mendengar omelan Ornado.
"Sebagai pengusaha sukses kamu tahu kan prinsip tentang kerja keras untuk mendapatkan hasil terbaik? Sepertinya dalam hal itu kamu juga harus ingat prinsip itu." Melihat wajah Ornado yang memerah karena candaan James, Jeremy dan Niela langsung ikut terkikik, apalagi mereka berdua tahu benar kondisi Cladia. Bukannya Ornado tidak mau bekerja keras dalam hal satu itu, tapi dia belum bisa melakukannya untuk saat ini. Mereka yakin bukan hal yang mudah bagi Ornado untuk menahan dirinya sampai sejauh ini. Niela dan Jeremy, khususnya Jeremy benar-benar menghargai Ornado yang telah banyak berkorban untuk Cladia.
"Sayang sekali malam ini aku tidak bisa mengobrol banyak dengan kakak iparku," Amadea tersenyum manja sambil berpura-pura memasang wajah kecewa, membuat yang lain tersenyum geli.
"Besok kamu berangkat ke Bali siang kan? Pagi kamu masih ada kesempatan kalau ingin mengobrol dengannya, lagipula sebenarnya kalau dilihat dari usia kalian harusnya kamu yang menjadi kakaknya, yang harusnya memanjakannya, bukan sebaliknya," Amadea terkikik mendengar perkataan Ornado. Memang benar, umurnya lebih tua 2 tahun dibanding Cladia, namun karena dia anak perempuan satu-satunya di keluarga besar papanya, De Luca, karena itu seluruh keluarga besar De Luca sangat memanjakannya dan membuatnya berumur dewasa dengan sikap tetap sedikit manja.
__ADS_1
"Tapi karena kamu lebih tua dariku, maka siapapun wanita yang menikah denganmu adalah kakak iparku, tidak perduli dia berumur berapa," Amadea berkata sambil tersenyum manja. Tangan James langsung terarah ke kepala Amadea dan mengacaknya, sedang Ornado lebih memilih untuk tersenyum kecil, karena pikirannya sedari tadi masih tidak bisa lepas dari Cladia.