
Pagi ini Bisma izin ke kantor, pria itu mengkhususkan mengantar istrinya ke dokter, setelah lebih dulu mengantar Razik ke sekolah. Pria itu begitu bersemangat, padahal belum tentu juga dirinya hamil.
"Mas, kalau hasilnya negatif gimana? Kita test sendiri dulu aja, ya, baru ke dokter kalau udah jelas, biar nggak buang-buang waktu," ujar perempuan itu malas. Pergi ke dokter selalu membuat dirinya malas, karena ujungnya harus minum obat.
"Siapa bilang buang-buang waktu, kalau emang belum dikasih ya nggak pa-pa juga, kita sekalian cek kesehatan kandungan kamu, dan juga program hamil."
"Program KB mungkin, Mas, Razik masih kecil, aku masih belum siap hamil lagi."
"Siap, nggak siap kalau udah dititipin amanah ya harus dijaga dong sayang, itu rezeki namanya," ujar pria itu sungguh-sungguh.
Bisma membawa ke rumah sakit khusus ibu dan anak. Pria itu langsung masuk dan mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian tunggu. Karena sebelumnya tidak membuat janji, alhasil mereka harus menunggu antrian panjang yang lumayan membosankan.
"Mas, aku haus?" ujar perempuan itu menyela.
"Ke kantin rumah sakit aja, Mas, kita beli cemilan sekalian," ujarnya memberi solusi.
"Kamu lapar? Mau makan apa nanti aku beliin," ujarnya pengertian.
"Nggak lapar juga sih, cuma pengen ngemil aja, sama haus aku mau jus melon, Mas," pintanya tanpa basa basi.
"Tunggu aja, atau mau ikut, ini masih lumayan lama soalnya."
"Ikut aja," ujarnya mengekor, menjumput ujung kausnya lalu berjalan di sampingnya. Bila menolak ketika Bisma hendak menggandeng.
__ADS_1
"Jalannya sini sayang, kamu kenapa sih aneh banget dari tadi," tanya Bisma merasa heran.
Mereka menuju kantin rumah sakit, tanpa disengaja bertemu dengan mantan pacar sahabatnya.
"Lho, pengantin baru kok udah di sini aja?" tegur Rayyan yang tengah menikmati sarapan.
"Dokter Ray, tugas pagi, Dok?" tanya Bila mencoba berkomunikasi resmi.
"Iya, kalian kenapa di sini pagi-pagi, ada saudara yang sakit?" tanya Rayyan akrab. Ikut duduk bergabung membaur jadi satu.
"Dok, aku duluan ya?" pamit seorang perempuan yang baru saja mengambil duduk bersama. Rayyan hanya merespon dengan anggukan dan senyuman.
"Tidak ada, Dok, istri saya mau cek kandungan sekalian program, rencananya."
"Gas lah ... Pak Dokter, siapa sih cewek yang nolak ajakan kak Ray, nggak ada pastinya."
"Siapa bilang, buktinya sampai sekarang masih gini-gini aja."
"Yang kemarin dibawa kondangan nggak jadi kak?" tanya Bisma kepo. Bila ikut menanti jawaban itu.
"Insya Allah. Cuma 'kan kamu tahu sendiri, mama aku nggak klop. Aku anak satu-satunya gini, mama jodoh-jodohin aku terus, bikin pusing."
"Urusan jodoh emang kadang bikin pusing, Kak. Iya sih sekuat apapun cinta kalau tak ada restu mau melangkah pun berat," ujar Bisma curhat.
__ADS_1
"Yang jelas, setiap orang punya ujian sendiri-sendiri dalam hidupnya."
"Udah nggak bisa komen kalau masalah keluarga, aku sendiri sama mama paling dekat, sabar aja kak, mungkin pelan-pelan kasih tahunya."
"Sebenarnya nggak juga nggak suka, tetapi karena mungkin aku punya masa lalu yang kurang berkenan dengan keluarganya, jadi orang tua merasa khawatir, jadinya sensi. Aku pasrah aja lah, mau dibawa hubungan ini," curhat Rayyan yang terlampau pusing dengan urusan asmaranya.
Pernah sakit tidak membuat ia jera dalam mengejar cinta. Namun, adakalanya ia lelah dan bosan ketika harus menunggu tanpa kepastian. Ditambah desakan dari orang tua menuntutnya untuk segera menikah dengan wanita pilihannya. Membuat ia bimbang dalam kegalauan.
"Eh, kok jadi curhat ya, nggak berasa keenakan ngobrol sambil ngemil ini," ujarnya baru nyadar. "Ya sudah, selamat ya atas kehamilan yang kedua," ucapnya tulus. Memberikan ucapan bahagia pada kedua pengantin yang tengah bahagia itu.
Bila sendiri menjadi pendengar yang setia, sibuk ngemil sembari mantengin ponsel di tangannya.
"Lho, kok nggak dimakan, katanya minta dimsum?" tegur Bisma meneliti makanan di depan istrinya yang hanya dicicipi saja.
"Rasanya lain, nggak enak. Nggak mau yang ini? Hehe." Perempuan itu nyengir sendiri melihat suaminya yang mendesah pasrah.
"Aku kenyang padahal, kamu tadi minta ini, sekarang minta apalagi, kalau nggak dimakan jangan beli, perutku udah nggak muat jadi tempat penampungan sisa kamu."
"Siapa suruh makan bekas aku, lagian kamu ada-ada aja."
"Kamu tuh dari tadi milihin makanan, dan cuma icip-icip doang, setelahnya nggak dimakan sama sekali, sayang kamu tuh bener-bener. Untung cinta," kata pria itu menghela napas pasrah. Ketika boba yang baru satu sedot, minta ganti dengan rasa yang lain, hingga ganti lagi yang ketiga kalinya.
"Sabar ... nggak boleh marah, biar ditambah rezekinya. Aamin.
__ADS_1