Noktah Merah

Noktah Merah
Part 54


__ADS_3

"Astaghfirullah ... Bila," tegurnya seraya mengikis jarak. "Ada apa denganmu, wahai bundanya Razik?" pria itu menatap begitu lekat. Mencoba mencari tahu apa maunya perempuan itu lewat sorot matanya.


"Jangan menatapku begitu, bukan mahram!" peringatnya memutus tatapan sekaligus membuang muka.


"Kalau aku tidak boleh menatapmu, jangan biarkan aku menanggung banyak dosa lagi, tangguhkan diriku atas hak dirimu," ucapnya tanpa memutus tatapan itu.


Hawa panas langsung menyerbu pipi, ronanya membuat perempuan itu salah tingkah. Bisma gemas sendiri melihat mantan istrinya yang malu-malu.


"Aku keluar sebentar ya?" pamitnya lalu.


Bila hanya mengangguk tanpa menatapnya, terlalu malu hanya untuk sekedar itu. Hampir satu jam lebih perempuan itu menunggu, sempat berpikir mungkinkah mantan suaminya itu pulang dan tidak kembali. Saat Bisma membuka pintu, terlihat Bila baru saja melaksanakan sholat, mukena ditubuhnya belum terlepas.


"Kok lama?" protesnya sedikit kesal.


"Kenapa? Kangen ya?" celetuk Bisma menggoda.


"Ish ... percaya diri banget jadi orang," jawabnya menggerutu. Bisma tersenyum kecut menatapnya.


"Tadi antri lama, terus aku tinggal isyaan sebentar, maaf telah membuatmu menunggu," jelasnya merasa tak nyaman.


Takut-takut perempuan itu memikirkan hal lain. Karena wanita kadang seunik itu, kalau sudah kesal ya apapun bisa menjadi sasarannya.


Bisma membuka dua bungkusan, nasi goreng babat plus krupuk udang tersaji di sana. Lebih dari menggugah selera untuk perut yang tengah menjerit keroncongan.


"Maaf kalau tidak sesuai seleramu, aku refleks aja beli itu," ujarnya seraya menempatkan air mineral yang sudah dibuka sealnya terlebih dahulu. Memudahkan perempuan itu menuang air ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Makasih," ucapnya dengan senyuman.


"Kembali kasih." Mereka makan dalam diam. Sampai isi dari bungkusan itu habis. Razik sendiri sudah tertidur jadilah keheningan yang menyapa mereka.


Di sudut ruangan sofa, terlihat Bisma tengah sibuk dengan ponselnya. Ia membiarkan Bila yang duduk di kursi tepian ranjang. Mereka cukup berjarak, sebenarnya Nabila ingin mengatakan banyak hal, namun perempuan itu merasa malu sebagai perempuan. Apalagi dulu dirinya sangat membenci setengah mati pria itu. Jadi, sudah pasti sungkan hanya untuk membangun komunikasi.


Perempuan itu tertidur dengan menggenggam tangan Razik. Posisi yang teramat tidak nyaman, duduk dengan menjatuhkan kepalanya di atas ranjang. Ingin sekali Bisma memindahkan tubuhnya, namun tentu bingung, agamanya melarang seorang wanita dan pria yang bukan mahram saling bersentuhan sedekat itu.


Bingung mau berbuat apa, pria itu melepas jaketnya dan menyampirkan pada pundak perempuan berhijab itu. Menyelimuti agar tubuhnya terasa hangat. Dirinya kembali ke sofa, duduk termenung sebelum akhirnya ikut terlelap di sana.


Setengah malam perempuan itu terjaga, sedikit merasa hangat dan menemukan kain jaket membungkus tubuhnya. Tanpa dikomando, sudut bibirnya membuat lengkungan. Senyum tipis membayangkan si pelaku utama tidak lain dan tidak bukan bapak dari anaknya.


Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Menemukan pria itu tengah tertidur dengan kedua tangannya melipat rapat di dada. Sudah bisa ditebak, Bisma kedinginan di ruang itu. Gantian Bila yang menyelimuti tubuh pria itu dengan jaketnya. Sejenak Bila memperhatikan maha karya Tuhan di depannya yang nyaris sempurna. Perempuan itu tanpa sadar tersenyum sendiri.


Malu, Nabila tertangkap basah tengah memperhatikan pria itu. Dirinya ingin kabur, namun Bisma langsung menariknya. Hingga perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Kedua mata itu bersirobok, bertaut lekat satu sama lain. Sebelum akhirnya bisa berpikir normal ingin bangkit dari sana, namun pria itu menahannya.


"Kenapa?" tanya Bila gusar. Berada di pangkuan pria itu membuat dirinya malu dan bingung.


"Kalau mau dekat, jangan setengah-setengah, bukankah menatap lekat itu dilarang kenapa nggak sekalian menempel saja," celetuknya seraya menahan tubuh perempuan itu.


"Maaf, seharusnya aku menjaga pandangan, tidak akan kubiarkan mata ini lancang lagi," ucapnya tanpa berani menatap wajahnya.


Nabila menarik tubuhnya agar bangkit berdiri. Dirinya sungguh bingung dalam menyikapi hati ini.


"Apakah aku boleh bertanya?" Pria itu mendekat duduk di atas ranjang pojok bawah. Sementara Nabila sendiri duduk di kursi pinggir ranjang yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


"Tanya apa?" Perempuan itu menunggu dengan gusar. Kira-kira mantan suaminya itu mau bertanya perihal apa?


"Kalau kamu menikah nanti, bolehkah Razik tetap bersamaku? Aku tidak bisa jauh dari anak itu, sudah cukup perpisahan kemarin membuatku tersiksa rindu. Kamu boleh mengambilnya kembali saat anak itu beranjak remaja. Biarkan sekarang tinggal bersamaku," mohon pria itu sendu.


"Siapa yang mau menikah? Tidak boleh, aku mana bisa hidup terpisah tanpa Razik, bisa oleng pijakanku," tolaknya cepat.


"Ya kamu, bukankah Ustadz Zaky telah mengkhitbahmu, bahkan dia izin khusus terhadapku," curhatnya dramatis.


"Terus, kamu bilang apa?" tanyanya tertarik dengan tanggapan pria itu.


"Ya ... mulutku bingung, tidak punya hak untuk mengiyakan atau melarang, tetapi hatiku sakit," jawabnya jujur.


"Sakit kenapa?" tanyanya seperti orang bodoh.


"Sakitlah, ngebayangin kamu nikah sama orang lain," jawabnya ngegas.


"Ya udah impas!" ucap perempuan itu begitu saja.


"Kok impas? Mana ada?"


"Adalah, kamu juga dekat dengan perempuan lain," celetuknya gemas sendiri.


"Lain lah ... aku hanya dekat untuk status sahabat," jawabnya membela diri.


"Aku juga hanya dekat karena status saudara seiman," jawabnya refleks. Berharap Bisma bisa menangkap kalimat itu.

__ADS_1


__ADS_2