
Bila merasa kedinginan, ia pun mengeratkan pelukannya begitu saja. Perempuan itu pikir, Raziklah yang anteng dalam dekapan hangatnya. Saat merasa tangannya menyentuh tubuh itu yang terasa lebar, Bila lekas membuka mata. Ia hampir terpekik syok, menemukan dirinya memeluk seseorang yang paling ia benci dalam hidupnya.
Dengan hati-hati, Bila mengangkat tangannya, namun terlalu sayang bagi Bisma melewati moment itu, pria itu tentu sudah terjaga sedari tadi, lebih tepatnya pura-pura terlelap. Ia sengaja memiringkan tubuhnya hingga memunggungi tubuh wanita itu, dengan menarik tangan Bila begitu saja, lalu menyimpannya dalam genggaman, jadilah perempuan itu seperti tengah memeluknya dari belakang.
Bila bergeming, membenahi detak jantungnya yang memompa lebih cepat tak beraturan. Wanita itu perlahan mengendurkan genggaman tangannya yang semakin kuat. Ia terus menarik perlahan. Nihil, rasa sakit yang ia dapat.
Nih orang tidur atau apa sih! Kenapa erat banget pegang tangan aku? Duh ... awas aja kalau sengaja!
Bila yang lelah berusaha, akhirnya terdiam, dan memilih terlelap kembali. Suasana dingin membuat perempuan itu betah menutup mata, hingga menjelang subuh, perempuan itu masih memejamkan matanya.
Bisma tersenyum tipis mendapati istrinya yang pasrah. Perlahan namun pasti, pria itu harus membiasakan istrinya berdekatan dengannya atau bahkan dengan sentuhan-sentuhan kecil, agar perempuan itu melawan trauma pada dirinya sendiri. Tentunya, pria itu harus sabar. Suatu kesalahan yang teramat membekas, bukan hanya pada si korban, bahkan pada si pelaku pun, moment itu tidak pernah akan terlupa.
Bisma terpaksa harus menyudahi rasa hangat nan nyaman itu karena panggilan dari Sang Maha Pencipta telah menyeru. Perlahan, pria itu bangkit, memberanikan diri mengusap tangannya, dan mengecupnya. Ada rasa yang entah, andai saja tangan itu bisa ia genggam setiap hari, sepanjang malam dalam tidurnya, tentu itu akan lebih baik.
Pria itu lekas bangkit dari ranjang, meninggalkan jejak sayang pada kening putranya. Beralih menatap Bila, ada rasa ingin menyentuhnya, namun terlalu takut, rasa ingin itu semakin menggebu, hingga ia pun memberanikan diri mengecup puncak kepalanya yang berbalut hijab. Terakhir, menyelimuti keduanya.
Bisma melangkah gontai menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan berganti pakaian dengan yang bersih. Saat pria itu keluar, menemukan istrinya yang baru saja terjaga. Mata mereka saling bertemu, sebelum akhirnya Bila lebih dulu memutus dan menatap ke arah lain.
Keduanya bergeming, seakan paham melihat pergerakan istrinya yang menuju kamar mandi, pria itu menyiapkan begitu saja. Dua sajadah ia gelar di samping ranjang, set mukena berwarna abu telah siap menanti di atas sajadah, pria itu sengaja menunggu untuk berjamaah. Moment yang selalu dirindukan Bisma dalam doanya.
__ADS_1
Derit pintu kamar mandi mengalihkan netra pria itu. Sama juga dengan Bila yang menyorotnya dengan tatapan yang entah, perempuan itu bahkan dibuat bingung cara bersikap. Ia terdiam sejenak, memilih duduk di bibir ranjang untuk mengalihkan perhatian. Berharap Bisma mau mengerti, bahwa dirinya ingin melakukan sendiri.
Rupanya pria itu cukup ngeyel, melihat istrinya yang pura-pura tidak peka, atau katakan saja dingin padanya. Bisma memang harus mengalah dalam hal kebaikan. Ia lekas bangkit, mendekati wanitanya dengan mukena ditangannya.
"Pakailah ... aku sengaja menunggumu, aku sudah membelikan ini sejak lama, baru sekarang bisa sampai pada orangnya. Datang dan jadi makmumku, aku menunggu di ujung sajadah," ucapnya tenang seraya menaruh mukena abu itu di atas pangkuannya.
Bila tidak bisa untuk menolak, tentu ia akan menunaikan kewajiban itu. Dengan langkah pelan, ia lekas mengenakan mukena itu dan mendekati suaminya yang sudah menunggu di sana.
Dua rakaat paling syahdu ia tunaikan bersama. Memohon doa kebaikan yang panjang untuk dirinya dan keluarganya. Bisma berbalik, menemukan Bila yang baru usai memanjatkan doa.
"Doa apa yang paling kamu inginkan, Bila?" tanya pria itu tiba-tiba. Bila bergeming, tidak tertarik untuk menjawabnya.
"Aku tidak lagi akan memaksamu untuk tetap bertahan dengan status ini jika itu menyiksamu, maafkan aku Bila, aku mencintaimu, tapi kalau itu membuatmu semakin terluka, aku siap mewujudkan keinginanmu, dengan syarat, Razik tetap bersamaku, aku tidak ingin lagi berpisah dengannya, cukup tiga tahun ini aku terpisah, biarkan aku selalu dekat dengan anak kita," ujar Bisma bijak.
Berat, sakit, sesak terasa menghimpit rongga dada. Tapi itulah kenyataannya, jika perpisahan itu yang terbaik dari pada harus terus menyakiti, mungkin sudah saatnya pria itu melepaskan apa yang selama ini ia genggam begitu erat.
"Kapan kamu menginginkan itu?" tanya Bisma memperjelas pernyataannya.
Bila mendadak galau, bagaimana mungkin ia harus hidup terpisah dengan Razik, bahkan sebentar saja ia tak sanggup, apalagi kalau harus berhari-hari. Atau bahkan selamanya. Sudah pasti itu berat dari seorang wanita bergelar ibu itu.
__ADS_1
"Kamu memang ayahnya, tapi kamu tidak ada hak untuk mengambil keputusan tentang Razik, akulah ibunya, yang mempunyai nasab penuh pada putraku, tentu kamu tidak lupa, awal Razik itu ada. Kamu hanya sebagai ayah biologis, tapi tidak mempunyai nasab atas anak itu. Terlalu egois jika kamu memisahkan aku dengannya," jawab Bila cukup tenang.
Bisma menghembuskan napas dalam. Ia menatap istrinya yang sedari tadi tak mau menatapnya.
"Nabila, aku tahu, aku hanya ingin dekat, bukankah dulu kamu tidak menginginkannya? Selepas hubungan aku dan kamu seperti apa, ada darah yang mengalir pada diri Razik, aku dan dia tetap Ayah dan anak yang mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lain," timpal pria itu tak mau kalah.
Nabila mulai lelah, dari awal hubungan itu dimulai, semua berawal dari rasa benci yang menghancurkan. Bahkan membekas ke relung jiwa.
"Kalau kamu tidak bisa memilih, aku tetap akan pada posisi di mana itu membuatmu merasa tersiksa, terkecuali kamu merasa sudah ikhlas dengan takdir yang ada, dan mau berdamai dengan masa lalumu, akan lain ceritanya," jelas Bisma seraya beranjak. Meninggalkan perempuan itu yang setia membisu.
"Apa ada pilihan lain untukku?" tanya Bila ikut bangkit dari sana.
Bisma menoleh, menatap lembut netra hitam istrinya. "Ada," jawabnya datar.
"Apa?" tanya perempuan itu berharap mempunyai solusi atas hubungan itu. Jujur, Bila terlalu lelah, ia ingin segera berakhir, bagaimana pun, hubungan tanpa cinta itu hanya akan saling menyakiti.
"Menikah resmi denganku, mari kita mulai dengan yang baru," jawabnya cukup jelas dan tenang.
Nabila hampir mengumpatinya, andai rasa sabar itu telah sirna, mungkin pagi ini ocehan panjang yang bakalan menyapa. Seribu sayang ia sedang bertamu di rumah mertua. Adab kesopanan dan sopan santun harus ia junjung.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tidak mau, apa kamu punya penawaran lain yang lebih menguntungkan untukku? Aku hanya ingin hidup tenang dengan putraku, kamu boleh menjenguknya, bermain dengannya, tapi tidak untuk memilikinya. Begitu juga aku, semua hanya titipan, namun, aku tidak mengizinkan Razik hidup bersamamu. Terima kasih sudah mencintai aku dan anakku."