
Tawaran Ustadz Zaki tiba-tiba membuat bila galau sendiri. Ia lebih dulu menatap Bisma di sebelah sana yang tengah bersenda gurau dengan Hanum dan juga Sinta.
"Hmm ... terima kasih, Ustadz, kebetulan saya sudah memesan taksi," jawab Bila berbohong. Perempuan itu mengangguk sopan, lalu merogoh benda pipih di tas slempangnya. Dengan cepat memesan taksi online di aplikasinya.
Nabila tersenyum lega saat taksi pesanannya berhenti tepat di depan kafe. Dirinya tidak harus terjebak dengan rasa sungkan atas penolakan terhadap seseorang yang dengan terang menawarkan tumpangan. Perempuan itu bisa saja mengiyakan, namun tak tahu kenapa, merasa ada hati yang harus ia jaga.
"Mari Ustadz, saya duluan," pamitnya tersenyum ramah. Sekilas sudut matanya menangkap bayangan mantan suaminya yang masih asyik dengan candaan.
"Salam buat Razik, dan bapak ibu, Bil," ujarnya dengan senyuman. Nabila mengangguk balas tersenyum.
"Duluan ya gaes ...!" pamit Bila menyeru dua sahabatnya.
"Bila, sudah mau pulang? Bareng dong, kita 'kan searah!" seru Sinta tiba-tiba.
"Owh ... boleh Sin, mari," ajaknya semangat.
"Num, sekalian bareng nggak?" tawar Sinta tak terduga.
"Hmm ...." Hanum melirik Bisma. "Mau nebeng Bisma, kalau boleh sih." Perempuan itu malu-malu mau.
"Num, kebetulan habis ini gue masih ada urusan ma Alan." Bisma menyorot Alan dengan kedipan, sementara Alan sendiri melotot penuh tanda tanya. "Kamu bareng saja sama mereka," tolak Bisma merasa tak nyaman. Apapun itu, dirinya tidak ingin membuat ibu dari anaknya itu salah paham. Terlepas dari hubungannya saat ini seperti apa, Bisma hanya ingin menjaganya.
"Gitu ya Bis, ya udah deh, gue bareng ma kalian," ujar Hanum kecewa.
Sepeninggalan tiga cewek tersebut, Alan langsung menyela.
__ADS_1
"Urusan apa Bim, emang kita mau ngapain?" tanyanya bingung.
"Ah, elo mah gitu ... belagak bego, udah tahu gue nggak enakan, masa iya gue harus iyain aja, sementara hati gue nggak nyaman."
"Apanya yang kurang sih, cantik, modis, sepertinya naksir berat sama lo?"
"Kurang cinta, puas lo! Kenapa nggak PDKT aja sama lo?"
"Sahabat bro, sudah nyaman menjadi sahabat," jawabnya enteng.
"Permisi, Mas Bisma ya, bisa kita bicara sebentar Mas?" Tiba-tiba Ustadz Zaki menghampiri Bisma yang tengah asyik berdebat dengan Alan.
"Iya, Ustadz, apa kabar?" sambut Bisma basa basi.
"Alhamdulillah baik, Ustadz sendiri bagaimana kabarnya?"
"Ada apa ya Ustadz?" tanya Bisma cukup keheranan. Pria yang ditafsir seumuran dirinya itu mendadak sok care dan mengajak ngobrol.
"Al, gue tinggal bentar ya?" pamit pria itu terhadap sahabatnya.
"Oke, have fun Bro, gue mau balik," jawab Alan enteng.
Ustadz Zaki dan Bisma kembali ke kafe. Duduk di tempat dengan santai. Ustadz Zaki nampak berdehem cukup keras.
"Hmm ... begini Mas, sepertinya saya perlu meminta restu ataupun izin denganmu." Perasaan Bisma semakin tak enak.
__ADS_1
"Izin, restu? Untuk siapa?" Kening Bisma berkerut indah.
"Bolehkah saya mengkhitbah ananda Bila, mantan istri Anda," ucapnya cukup hati-hati.
Bisma nampak syok mendengar hal itu. Walaupun dirinya sudah bisa menilai, dilihat dari sudut manapun ustadz tersebut menginginkan mantan istrinya.
"Sejak kapan Anda mencintai Nabila?" tanyanya merasa sakit.
"Cukup lama, semenjak perempuan itu datang ke pesantren. Saya sudah menaruh hati padanya. Waktu itu, saya baru tahu ternyata Nabila sedang mengandung. Sekian lama hatiku bertanya-tanya tentang status perempuan itu. Lewat umi pastinya, Nabila selalu bungkam. Ia sering menangis dalam kesendirian. Semenjak itu, umi tak lagi membahas apapun, kedekatan beliau natural saja, membuat lambat laun Nabila nyaman, hingga Razik sebesar sekarang."
"Tepatnya, saat dua hari sebelum Bila memutuskan untuk pulang, Razik pingsan di selasar masjid. Aku begitu takut kehilangan anak itu, kami sudah sangat dekat," curhatnya panjang lebar.
"Razik pingsan?" Bisma nampak syok, pasalnya Bila tidak mengabari apapun.
"Iya, kami membawanya ke rumah sakit, satu hari dirawat di rumah sakit, Bila tidak mau ditemani. Dia wanita yang cukup mandiri, dan kuat. Keputusannya untuk pulang, membuat saya ingin mengenal keluarganya lebih jauh. Jujur, saya sangat kecewa waktu itu kamu ada di sana sebagai suaminya. Tapi mungkin itu adalah petunjuk atas jawaban dari doa-doa saya."
"Sebagai seorang pria yang menginginkan kebahagiaan untuk wanitanya, ia akan melakukan apapun untuk itu. Namun, sayangnya semua itu tidak semulus angan. Maaf, Ustadz, hal tersebut sebaiknya Anda tanyakan langsung pada pihak terkait, seperti keluarganya. Sekarang, saya hanyalah orang luar bagi Nabila. Tetapi tentu tidak untuk Razik, terima kasih sudah menyayangi anak saya," jawab Bisma dengan perasaan entah.
Mungkin ini adalah saat yang tepat mengikhlaskan perempuan itu untuk bahagia dengan orang lain. Ustadz Zaki terlihat begitu tulus menyayangi Razik, tentu membuat Bisma lega, jika suatu hari nanti dirinya tak bisa bersama perempuan itu. Razik mempunyai ayah sambung yang menyayangi dirinya.
Bisma pulang dengan perasaan hampa. Apapun yang terjadi nantinya, pria itu sudah siap semenjak memilih untuk melepaskan. Bahagianya adalah penawar rasa sakit yang ada. Tidak harus diratapi atau terus diselami, biarlah semua berjalan atas kehendak-Nya, sampai takdir membawa hidupnya.
Sementara Bila, Hanum, dan Sinta, mereka terlibat obrolan satu sama lain sepanjang perjalanan.
"Menurut kalian Bisma itu gimana?" ujar Hanum meminta pendapat. Bila terdiam sementara Sinta terlihat berpikir.
__ADS_1
"Baiklah pastinya, mapan, tajir, sholeh, dewasa, paket komplit, doi emang udah keren sih semenjak kuliah. Sayang, zona sahabat," Pendapat Sinta cukup mewakili.
"Menurut lo gimana, Bila? Gue cocok nggak sama Bisma?"