Noktah Merah

Noktah Merah
Part 85


__ADS_3

"Siapa?" tanya Bila mengintip demi melihat Bisma yang hanya memperhatikan layar ponselnya tanpa minat mengangkat. Kemudian saling menatap seakan meminta pendapat atau izinnya lewat sorot matanya.


"Angkat aja nggak pa-pa? Siapa tahu penting," ujarnya sedikit merasa cemburu.


Bila mengira suaminya akan mengangkat dengan sedikit menjauh, tetapi ia cukup lega karena pria itu masih stay duduk di tepi ranjang. Sadar atau tidak, Bila tentu mencuri dengar. Tak ada obrolan yang privat di sana, hanya ucapan penolakan lembut yang keluar dari bibirnya, tentu saja penyebabnya karena pria itu cendrung mempunyai sifat tidak enakan. Tetapi lain kali, sepertinya Bila harus memprotes hal ini.


"Kamu menolak ajakannya?" tanya Bila bak orang bodoh.


"Emangnya ada jawaban lain yang mau kamu dengar. Atau kamu ingin aku berangkat ke Bali dengannya," godanya mencoba memancing sisi wanitanya.


"Kalau sampai terjadi, tamat riwayatmu hari itu juga Mas," jawabnya menggebu.


"Serem amad, bilang aja nggak rela, nggak bisa, aku cemburu karena terlalu mencintaimu," ujarnya memberi solusi.


"Nggak usah terlalu ge-er dan kepedean, udah sana kalau mau pulang, pulang aja nggak usah balik sekalian," gurau Bila sebal.


"Eh, jangan gitu dong sayang, perkataan itu adalah doa. Jadi, ucapkan yang baik dan manis-manis dari bibirmu," sergahnya memprotes penuh ultimatum.


"Iya deh iya, aku ralat. Cepat pulang Mas, jangan buat aku cemas, aku mudah merindu dan tersiksa bila harus jauh darimu," jawabnya alay bin lebay. Bisma menarik sudut bibirnya mendengar hal itu. Sedikit lebih lega karena diam-diam pujaan hatinya kembali ceria.


"Gemes banget sih kalau kaya gini, sayang kita honeymoon yuk, siapa tahu pulang-pulang otw dedeknya Razik."


"Kapan ada waktunya Mas, kamu sibuk melulu. Habis resepsi aja gimana, family trip," ujar Bila berbinar.

__ADS_1


"Mau sih, tetapi aku pinginnya berdua, benar-benar berdua." Bukannya pulang kini pria itu malah merebah, menjadikan pah@ istrinya sebagai bantalan. Sedang tangan kanan perempuan itu memainkan rambutnya, menyisir lembut dengan sela-sela jarinya. Sementara tangan yang lainnya dalam genggaman di atas dadanya. Sesekali membawanya dalam kecupan.


"Mas, kamu nggak jadi pulang? Katanya mau mandi?"


"Sebentar lagi, mandiin boleh?" pintanya tanpa dosa, wajahnya ia benamkan pada perut istrinya. Kedua tangannya melingkar indah, mengurungnya posesif.


"Mas, geli jangan gini," sergah perempuan itu memprotes.


"Kamu udah sembuh?" tanyanya tanpa merubah posisinya. Tak ada sahutan, namun tangan istrinya masih aktif membelai rambutnya.


"Udah ya?" Pria itu mendongak, menemukan istrinya tersenyum simpul.


"Alhamdulillah udah, Mas," jawab Bila mendadak panas pada wajahnya. Perempuan itu mengalihkan pandangannya.


"Boleh apa?"


"Ibadah bareng," jawab pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas jangan gini, Razik mana, Mas, bawa dia ke sini dulu, aku ingin meminta maaf."


"Siap sayang, nanti diantar sama Lastri. Aku pulang dulu gerah," ujarnya bangkit dan beringsut turun. Kembali mencuri satu kecupan di pipinya sebelum benar-benar pergi.


"Bik Lastri, tolong antar Razik ke kamar bundanya ya!"

__ADS_1


"Siap Den Bisma," jawabnya sembari bergerak menuntun bocah itu.


"Eh, Bik Lastri, mau bonus double nggak?" tawarnya mendadak mempunyai ide yang cemerlang. Lastri langsung mengerem langkahnya.


"Boleh, pasti ada maunya ya, Den?" tuduhnya hafal di luar kepala tentang majikannya yang satu ini. Terlalu sering mendapatkan bonus tambahan setiap informasi yang diberikan tentang Razik waktu itu, membuat keduanya sedikit akrab tanpa canggung.


"Tahu aja kamu, Bik, nanti bonus THRnya double deh kalau berhasil," ujarnya menggiurkan.


"Wah ... bau-bau cuan berkerlipan." Perempuan itu terpekik girang dengan bias sinar di matanya.


"Apa tugas saya, Bos?" tanyanya tak sabaran.


"Dua hari besok, aku sama Bila mau ke Bali, nah berhubung rencananya tidak mau membawa Razik, tugas kamu adalah jagain dia, apapun caranya tidak boleh sampai anak itu rewel dan menangis, harus aman sehat sentausa sampai kami kembali."


"Wah ... berat itu, bonusnya kudu gede. Ditinggal honeymoon ya Den?" keponya mendarah daging.


"Bukan Bik Lastri, tetapi kondangan ke sahabat, cuma dua hari ini kok, ya sudah pokoknya tunggu kabar dariku nanti aku rembug kembali dengan istriku."


"Siap Den, ditunggu tanggal tugasnya. Ada cuan misi lancar. Hehe." Dasar pembantu yang satu ini tidak ada akhlak.


Lastri berlalu mengantar Razik ke kamar istrinya sementara dirinya melesat pulang ke rumah. Merasa ada yang janggal, pria itu bermaksud mengecek ke control room komputer yang menghubungkan CCTV rumahnya. Dengan tujuan mencari tahu keadaan rumah selama ditinggal.


Fokus menggeser layar, dari satu gambar ke gambar dalam monitor. Tidak ada aktivitas mencurigakan di sana, hanya ada aktivitas biasa rutinitas pagi keluarganya. Ia pun berpikir mungkin kejadian ketelodaran istrinya bisa jadi penyebab lain, Bisma tidak bisa mendesak Bila untuk bercerita. Ia benar-benar butuh waktu berdua untuk sama-sama saling terbuka dalam suasana santai tanpa beban dan membuat istrinya nyaman. Mungkin saatnya pria itu mengajaknya liburan keluarga nantinya.

__ADS_1


Cukup lama Bisma bergelut dengan pikirannya sendiri. Tak ingin mengambil resiko terlalu banyak dalam keluarganya, serta untuk memantau istrinya di mana pun perempuan itu berada. Bisma sampai menghubungkan CCTV rumahnya pada ponselnya. Serta memasang GPS yang terhubung dengan ponsel istrinya untuk memantau lokasi Bila di mana pun istrinya singgah. Untuk berjaga-jaga saja, Bisma benar-benar merasa takut.


__ADS_2