
"Pamit dulu Ma, Pa, terima kasih sudah jagain Razik," pamit Bila diikuti Bisma.
"Tak apa sayang, Mama berharap malah Razik tinggal di sini saja buat nemenin Mama," ujar perempuan itu sembari mengelus sayang puncak kepala cucunya.
"Razik salim dulu sama nenek dan kakek," pinta Bila mengarahkan. Bocah kecil itu menurut.
Cukup malam mereka sampai di kediaman Bu Rima. Mbak Lastri datang membantu membawakan printilan bawaan di tangan Bila. Sementara Bisma langsung membawa Razik ke kamar, bocah pintar itu sudah tertidur semenjak di jalan pulang.
"Bun, belum tidur?" sapanya melihat Bu Rima masih stay di ruang keluarga.
"Masih jam segini, kamu ke mana saja sampai malam gini?" tanya Bu Rima alakadarnya.
"Main aja Bun, tadi sempet ke mall, terus di rumah aja, mampir ke rumah Mama," jawabnya jujur.
"Kalian nggak mau bulan madu gitu?" tanya Bu Rima sambil menikmati teh dan cemilan.
"Bisma sih mau Bun, Bila-nya nggak tega ninggalin Razik," sahut Bisma yang baru saja bergabung.
"Nanti rewel pas ditinggal, takutnya gitu Bun, jadi galau," jawab Bila jujur. Dirinya juga suka tidak tenang kalau menitipkan pada orang lain, walaupun keluarga sendiri. Mengingat Razik sangat menempel padanya.
"Nggak pa-pa dilatih aja, udah tiga tahun juga. Sudah pinter gitu kok, cuma belum terbiasa karena sebelumnya cuma sama kamu doang."
"Dulu sih nggak Bun, malah seringnya ikut sama Ustadz Zakir ke mana-mana, ngintilin mulu," celetuk Bila refleks. Tanpa Bila sadari ada hati yang merasa berdenyut nyeri mendengar hal itu.
"Aku ke kamar dulu ya Bun," pamit Bisma begitu saja.
__ADS_1
"Mas, katanya mau ngopi, nggak jadi?" tanyanya yang tidak menjawab respon istrinya. Pria itu berjalan cepat menaiki tangga.
"Astaghfirullah ... jangan-jangan suamiku merajuk, karena dengar aku sebut nama pria lain. Harus segera dilurusin ini," gumam Bila lirih. Pamit ke Bunda sambil menenteng secangkit kopi.
"Bawa ini dulu Bun," pamitnya. Bunda mengangguk datar.
"Mas kopinya," sapa Bila mendekati suaminya yang nampak sibuk di depan laptop.
"Makasih," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari layar monitor.
"Kamu kok cuekin aku, ya udah lah aku tidur dulu," kata perempuan itu beranjak dari yang semula berdiri menghampiri suaminya.
Bisma langsung menarik tangannya dan menahannya. Namun mulutnya yang tak kunjung bicara malah tangan lainnya sibuk di atas keyboard membuat Bila jengah.
"Kenapa?" tanyanya kesal, mencoba melepas genggaman tangan itu, namun Bisma mengeratkan. Merubah posisi duduknya dan menarik perempuan itu ke pangkuannya.
"Menurut kamu?" Bukannya menjawab pria itu balik bertanya.
"Kamu marah karena aku sebut nama Ustadz Zaki?" ulang Bila dengan polosnya.
Bisma langsung menyambar bibir ranum itu, menggulat sengit seorang diri. Mengekspresikan rasa kesalnya pada perempuan yang telah membuat hidupnya jungkir balik tak karuan.
"Jangan pernah sebut nama pria lain selain mahrammu, aku cemburu," ujarnya jujur.
"Iya Mas, maaf aku refleks saja," kilah Bila membela diri.
__ADS_1
Bisma paling sensitif denger nama Ustadz Zaki, bahkan pria itu sangat dekat dengan anaknya. Ya maklum saja Bila tinggal di pesantren cukup lama, jelas tidak bisa dipungkiri istrinya dekat dengan keluarga itu.
"Kamu jangan cemburu gitu dong Mas, kapan-kapan aku malah pingin main ke sana, sama kamu tentunya. Umi itu baik banget, makanya aku sempat ngerasa nggak enak dan merasa bersalah karena menolak pinangan anaknya." Bila menerawang.
"Aku masih penasaran sih sebenernya, aku juga kaget waktu denger kamu menolak khitbah dari Ustadz Zaki?"
"Sebenarnya sudah ada beberapa pria yang ingin mendekatiku di pesantren. Mereka ngomong langsung sama abah, dan umi. Karena mereka pikir aku ini adalah saudara mereka yang menetap di sana. Tetapi tentu saja aku menolak, kamu sih ... nggak mau lepasin status kita waktu itu, 'kan aku masih terikat." Bila curhat.
"Aku nggak mau cerai waktu itu ya karena aku masih sangat berharap kita bisa akur kaya gini, alhamdulillah kesampaian, walaupun harus beberapa kali terjatuh. Terus, apa alasan kamu nolak ustadz? Padahal waktu itu 'kan status kamu aman, sendirian?"
"Ya ... yang pertama aku belum mau menikah, setelah gagal dua kali tidak semudah itu membina rumah tangga kembali."
"Yang kedua, hatiku mulai ragu dan gelisah semenjak kamu hadir kembali, apalagi setelah semua jelas aku merasa sangat bersalah denganmu Mas."
"Jadi, mau balik sama aku karena merasa bersalah saja?" pria itu kembali mrengut.
"Astaga, enggak Mas, tentu saja ada hal lain juga yang membuat aku mau."
"Apa?" desak Bisma gemas.
"Ya ... aku nggak suka kalau kamu deket sama cewek lain, aku mulai terusik hatinya, ah ... kamu bikin aku kesel," giliran Bila yang merajuk.
"Eh, kok jadi aku, jadi sebenarnya kamu cemburu karena sudah mulai mencintaiku?" tebaknya.
"Ya," jawab Bila samar.
__ADS_1
"Ya apa sayang yang jelas kalau jawab."
"Ya, aku mencintaimu Mas, aku mencintaimu!" Bisma tersenyum mendengar pengakuan istrinya.