Noktah Merah

Noktah Merah
Part 60


__ADS_3

"Serius? Secepat itu?" tanya Bila ragu.


"Iya lah, kapan aku bohong emangnya, aku pulang dulu ya, perlu menyiapkan semuanya."


"Jangan becanda deh, ini tuh acara sakral, kamu mantepi dulu hatimu, aku nggak mau berujung kecewa."


"Kok malah kamu yang meragukan perasaan aku, atau jangan-jangan ini hanya alasan kamu aja ya untuk mangkir dari lamaran ini. Kamu nggak serius balikan sama aku?" tanya Bisma memutar balikan keadaan.


"Nggak gitu, ya namanya juga perempuan itu pasti perasaanya cemas, apalagi untuk acara kaya gini, aku pernah gagal dua kali dan itu rasanya sakit, aku hanya takut ekspektasi tidak sesuai rencana."


"Kamu yang sabar ya, perasaan waswas itu wajar, cukup manusiawi, tetapi tolong percaya aku insya Allah termasuk golongan yang tidak muda berpaling dengan yang lainnya tanpa sebab musabab yang jelas. Ketika hatiku telah berpaut padamu, selama ini perasaanku masih sama, menggebu dan ingin segera menghalalkan 'kan dirimu untuk menjadi ladang ibadah bersama seumur hidupku," jelasnya berusaha menyakinkan Bila.


"Ya udah sana pulang, siapin semuanya, aku menunggumu dengan pengharapan kebaikan untuk kita bersama," ucapnya penuh harap.


Bisma keluar rumah setelah pamit pada ayah dan juga bunda. Bahwa nanti malam, insya Allah keluarga akan datang bersilaturahmi ke rumahnya. Pria itu berjalan gontai memasuki pintu utama yang membuat orang di sana merasa heran.


"Dari mana Bim, ngilang aja dari tadi, ada tamu dianggurin," protes Alan yang masih berleha-leha di sofa ruang keluarga.

__ADS_1


"Sorry tadi keluar sebentar, ada hal yang musti aku bereskan dulu," ujarnya tersenyum.


"Anak kamu lucu banget ya, Bis, gemesnya aku ...." Hanum berseru riang membuai putra sahabatnya itu.


"Sayang, sama Oma dulu ya, istirahat dulu nggak boleh main terus, Razik 'kan baru sembuh, nanti Bunda marah nggak ngebolehin Razik main lagi ke rumah Ayah," titah Bisma mengintrrupsi.


Bocah kecil itu menurut, berlari kecil ke dalam yang langsung disambut mama. Sebenarnya Bisma sibuk, berharap tamu itu cepat pulang, namun pria itu tak sampai hati merusak moodnya yang baik hati sudah jauh-jauh datang.


Ingin menjelaskan tetapi bingung cara memulai, mungkin untuk Alan oke, tetapi memberi penjelasan ke Hanum dengan bercerita, ada sedikit rasa sungkan, dan kurang tepat. Biarlah perempuan itu tahu sendiri saja. Jujur Bisma tipikal cowok yang tidak tegaan, apalagi kalau melihat perempuan menangis, takut juga membuat Bila nanti salah paham lagi, mereka lebih baik cari amannya saja.


Cukup lama mereka bertamu, berbincang hangat layaknya sahabat.


Hanum sudah berantusias ikut karena waktu pertemuan kemarin Bisma mengiyakan.


"Maaf banget ya, lihat sikon besok deh kalau memungkinkan, soalnya anakku juga baru sembuh kasihan kalau ditinggal," ujarnya merasa tidak nyaman.


"Alan 'kan ikut bareng sama Alan dari pada sendirian," saran yang tepat.

__ADS_1


"Gue sih kemarin ngajakin Bila, tetapi belum dibalas entar gue chat lagi deh, kalau bareng-bareng sekalian ya pakai mobil saja, tetapi kalau cuma berdua sama pasangan ya enakan pakai motor sekalian pedekate, iya nggak Bis?" Alan mengerling.


Bisma mendelik, apa maksud sekalian pedekate, apa jangan-jangan Alan narget Bila? Sungguh kamu berada dalam huru hara.


"Berangkat bareng lebih baik, lebih aman dan pastinya lebih menjaga, dari pada yang cuma berdua doang, nggak lucu lah banyak dosa."


"Ya udah gue maunya sih lo tetap ikut, nggak asik banget weekend cuma di rumah doang, kabar baiknya ditunggu ya?"


Sepeninggalan dua sahabatnya itu, Bisma langsung menghadap mama dan papanya. Pria itu mengutarakan maksud baiknya untuk kehidupannya yang akan dijalani. Kedua orang tua Bisma menanggapi dengan senang hati, karena pada awalnya memang mereka sudah menyukai Bila sejak dulu zaman bersama Gema.


Sore itu menjadi hari paling sibuk untuk dua keluarga itu. Semuanya serba mendadak disiapkan hari itu juga. Pandu yang awalnya masih belum percaya pun akhirnya membantu dengan keriwehan sore itu untuk acara nanti malam.


"Pah, kalau misalnya acara lamaran langsung nikah aja bisa nggak? Ke KUA nyusul bareng menyiapkan surat-surat perlengkapannya.


Ya bisa saja, sebelumnya pernah menikah untuk perihal rujuk bahkan kemarin sempat diurus untuk isbat nikah perkara perceraian siri untuk membuat kelengkapan dokumen Razik. Sepertinya ini tidak akan sulit. Selalu ada jalan untuk menuju kebaikan. Bisma mengangguk yakin.


Semua diurus dalam waktu yang sesingkat-singkatnya demi menghalalkan kekasih hatinya kembali.

__ADS_1


"Bismillah ... kok aku deg degan ya Ma, Pa? Padahal ini udah kali kedua. Mungkin karena dulu tidak seresmi ini nyiapinnya jadilah berasa kaya momen pertama," ujar Bisma pada diri sendiri.


Pria itu masih belum percaya kalau pujaan hatinya yang jutek bin hobby berkata pedas itu sudah merubah haluan membuka hatinya. Penantiannya selama ini berbuah manis dan tidak sia-sia. Tuhan punya caranya sendiri untuk umatnya menjemput jodoh.


__ADS_2