Noktah Merah

Noktah Merah
Part 99


__ADS_3

"Pagi sayang, bangun ....!" Bisma mencium-cium pipi, dan bibir istrinya. Cara baru membangunkan istri ala Bisma akhir-akhir ini merusuh suka-suka.


"Apa sih, Mas, emangnya ini jam berapa? Aku masih ngantuk," ujarnya menarik selimut kembali. Sudah dua hari ini semenjak menempati rumahnya kembali, Bila setelah subuhan lebih menyukai tidur lagi ketimbang sibuk menyiapkan sarapan.


"Mas, makanya jangan bikin aku lelah kalau pagi, aku 'kan capek tak terkira, mana lemes lagi, jauh-jauh deh."


"Coba buka matanya deh, terus rasakan aromanya," ujar pria itu bangga.


Bila menurut, sayup-sayup membuka matanya dan tentu saja ia tersenyum dibuatnya.


"Mas, kamu buat ini?" tanya perempuan itu dengan mata berbinar. Menatap roti panggang alpukat sudah tersaji di depan matanya, lengkap dengan segelas susu.


"Iya, kamu suka 'kan?" Bisma mengangguk dengan mata berbinar.


"Kamu sweet banget sih Mas, buatin aku sarapan. Aku berasa lagi hamil kalau makan makanan gini," ujar perempuan itu semangat.


"Anggap saja begitu, semoga cepet launching adeknya Razik." doa Bisma tulus.


"Kamu pengen banget aku hamil lagi ya Mas, tetapi Razik masih kecil, masa hamil lagi?"


"Nggak pa-pa, biar ramai pokoknya nggak boleh di KB, sini aku suapin." Bisma merebut nampan dalam genggaman istrinya, namun perempuan itu malah menahannya.


"Aku mau makan sendiri, Mas, habis ini gantian ya aku buatin sarapan buat kamu," ujarnya mengertian.


"Nggak usah ayang, aku udah sarapan kaya gitu juga tadi, cukup kenyang, aku buatin buat Razik juga, aku lihat dia masih bobok tadi di kamarnya."

__ADS_1


Semenjak ditinggal dari Bali, Razik menjadi terbiasa tidur mandiri. Anak itu semakin pintar dan tumbuh besar.


"Mas, kamu nggak ngantor? Kok nggak siap-siap?"


"Ngantor lah, agak siangan bentar, sekalian nganter Razik sekolah, nanti kamu tinggal jemput aja biar nggak pulang pergi, nanti kamu capek."


"Kamu nggak kesiangan? Jam setengah delapan?"


"Masih aman, mulai hari ini aku yang antar Razik, kamu yang jemput, semua pekerjaan rumah sudah dilimpahkan ke mbok Inah, kamu tugasnya cuma ngurusin aku, aku, dan aku lagi," ujarnya lebay.


"Masak aku cuma ngurusin kamu doang sih Mas, nggak seru banget hidup aku seputaran di kamu doang, Razik gimana?"


"Ya, sama Razik tentunya, cuma— lebih banyak akunya. Hehe."


"Nggak salah nih, nggak mau ngalah sama bocil, aku bisa gendut kalau nggak ada kegiatan," protes Bila tak terima.


"Menjauh dariku Mas, aku nggak suka kamu nempel mulu kaya gini, bau kamu nggak enak!" ujar Bila blak-blakan.


"Eh, kok gitu, aku udah mandi lo yank, malah kamu yang belum mandi."


"Aku dingin nggak mau mandi, ini aja berasa merinding." Bila menunjuk kulit lengannya dengan bulu kuduk berdiri.


"Kamu kok nggak wajar, aku aja biasa aja, jangan-jangan beneran hamil. Kapan ayang terakhir datang bulan?"


"Waktu itu ya pas waktu kita baru aja rujuk Mas, malam dipakai, siangnya aku mens, sekarang tanggal berapa sih?"

__ADS_1


Bisma bangkit mengambil handphone di atas nakas, melihat aplikasi kalender dan segera menghitung.


"Kamu udah telat yank, kayaknya kita perlu ke dokter deh, aku izin aja deh hari ini, biar aku suruh Yosua yang handle iklan minggu ini."


"Emangnya ada proyek baru, Mas?" Bila malah tertarik membahas pekerjaan suaminya dibanding kehamilannya yang belum bisa dipastikan.


"Ada, iklan sampo, biarin aja Yosua yang handle, dia bisa diandalkan."


"Pasti artisnya cantik ya, Mas, kamu beneran biarin Yosua yang handle?"


"Cantik 'kan perempuan, ah ... nggak juga, cantikan istri aku lah pastinya. Nyonya Bila kamil. Hehehe."


"Dih ... gombal banget. Eh, itu pegawai kamu yang Yosi, eh Yosua itu lucu ya, cowok sangar tetapi kadang kemayu."


"Jangan ngomongin orang, nggak baik lo yank."


"Bukan gitu maksudku Mas, dia lucu, baik banget malah. Kemarin kasih hadiahnya parfum, katanya biar kamu tambah lengket sama aku, ternyata bener ya Mas, kamu jadi makin nempel sama aku, emang parfum kaya gitu mengandung apa?"


"Itu parfum wanita dewasa, aromanya khas dan begitu menusuk, jadi bisa membangkitkan syahwat pria kala nempel kaya gini. Kamu boleh memakainya kalau di rumah aja buat aku, di luar rumah jangan harap!" peringatnya tegas.


"Masa iya sih Mas, pantes kamu minta mulu sejak aku memakainya? Gitu ternyata ya, baru tahu aku."


"Sekarang boleh nggak?" Bisma nempel-nempel.


"Dih ... dibilangin jauh-jauh dari aku, aku nggak suka sama bau kamu!"

__ADS_1


"Astaghfirullah ... ayank, aku wangi gini kok," sanggah Bisma tak terima.


__ADS_2