
Mereka baru saja keluar dari kamar mandi secara bersamaan. Pria itu berbinar cerah penuh semangat, berbeda dengan Bila yang nampak tak semangat karena mengeluh lelah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si nakal suaminya.
"Duh ... yang cemberut, cantiknya nambah," goda pria itu seraya mengeringkan rambut istrinya. Tak puas sampai di situ, pria itu terus menciumi tengkuknya yang terekspos nyata.
"Mas, kamu resek banget sih dari tadi, minggir sana, aku mau ngeringin sendiri aja," ujar perempuan itu mendorong tubuh suaminya.
"Aku bantuin sayang, udah ditungguin teman-teman ayok turun," titahnya semangat.
"Hmm ... aku ganti baju dulu." Bila berganti pakaian, sementara Bisma menunggu dengan sabar. Cukup lama menunggu istrinya berdandan, Bisma masih stay di dekatnya memperhatikan setiap detail perempuan itu mengaplikasikan berbagai kosmetik di wajahnya.
"Katanya lapar yank, kok betah berjam-jam gini di depan kaca, perasaan udah cantik banget dari sananya, kalau kaya gini bisa bahaya menarik perhatikan pria lain."
"Ya udah aku nggak usah ikut aja, Mas, aku makannya pesan aja lewat layanan kamar."
"Eh, kok gitu, bukan gitu sayang, ini maksudnya kamu udah lapar, teman-teman juga udah pada ngumpul, nanyain kita berdua lebih tepatnya."
"Gara-gara kamu nih, kamu turun duluan aja, aku nyusul."
"Nggak gitu juga konsepnya lah, aku udah bilang sama teman-teman kalau aku nggak sendirian, dan aku yakin banget mereka pada kepo siapa orang yang telah berhasil memenangkan si ganteng Bisma Maulana Ikhsan Kamil most wanted seantero alumni fekon."
"Mantan ketua BEM, anak cerdas dan bersahaja," sambung Bila melirik suaminya kesal. "Dasar narsis," cibirnya memoyongkan bibirnya.
"Apal bener sayangku, terpatri dalam memori ya cinta."
"Mana ada terpatri, itu udah sering kamu katakan, bikin aku eneg dengernya," protesnya sebal.
__ADS_1
"Gimana ya, faktanya gitu, tetapi kamu seneng 'kan jadi istri aku, duh beruntung banget Nabila Maharani dapat Abang Bisma." Pria itu nyengir tanpa dosa.
"Ya ampun ... nimpuk suami dosa nggak sih, mau muntah nih ....!" selorohnya mendrama.
"Gitu banget sama aku, nanti aku bales ya."
"Eh! Aku mau pesan layanan kamar sendiri kalau gini caranya."
"Bakal aku dobrak pintunya, kita itu sepaket, sepakat, dan sependapat. Di mana ada aku di situ ada kamu. Satu tujuan, satu aliran, satu frekuensi, dan pastinya satu tujuan hidup sampai ke jannahnya." Bisma mendekap kemudian menempelkan bibirnya pada puncak kepala istrinya yang sudah tertutup hijab rapih.
"Ayo sayang!" Bisma memberi ruang pada lengannya untuk Bila menggamit dengan mesra. Mereka saling menatap sejenak, melempar senyum, sebelum akhirnya berjalan beriringan.
"Mas, tunggu deh, kok aku deg degan ya, kita secara tidak langsung memberitahu pada teman-teman kita, nanti kalau pada kepo tentang masa lalu kita gimana."
"Biar aku yang menjawab semuanya, kamu cukup berdiri di samping aku memberikan dukungan apapun pendapat orang lain, tentu itu tidak akan merubah apapun pada diri kita, aku dan kamu adalah satu, saling mencintai sejak dulu." Kata-kata Bisma selalu mampu menghipnotis perempuan itu, membuatnya begitu nyaman di dekatnya.
"Malam teman-teman, maaf sedikit terlambat," interupsi Bisma membuat semua orang fokus padanya. Lebih tepatnya pada mereka berdua.
"Kalian? Kok bisa bareng?" todong Alan menyorot penuh selidik. Bisma tersenyum simpul, sebelum akhirnya mengangguk untuk memberikan jawaban yang paling tepat, mereka sudah siap dicecar teman-temannya. Tentu saja kedatangan mereka menjadi pusat perhatian.
"Bisa dong, aku dan Bila 'kan satu paket, iya 'kan sayang?"
"Sayang?" beo Alan dan Hanum kompak.
"Kita duduk dulu ya, kasihan istri aku berdiri mulu, sayang, kamu duduk sebelah sini." Bisma menarik kursi dan mempersilahkan ratu hatinya untuk duduk.
__ADS_1
"Makasih, Mas," jawabnya tersenyum.
"Ya ampun ... kalian pasangan? Kok nggak ngabarin kalau udah nikah." Sinta heboh sendiri.
"Gue sih udah tahu, kemarin sempat kepergok kita ya yank, pas kencan," timpal Disya.
"Kalian tega banget sih, nggak mikir apa gimana, membiarkan aku dalam harapan tanpa kepastian. Kamu jahat tahu nggak, Bim! Dan kamu, Bila, seharusnya kalau mempunyai perasaan ke Bisma yang sportif dong, nggak kaya gini jadinya, aku berasa tidak dianggap apapun. Kalian berdua jahat tahu nggak!" Hanum yang shock dan sakit hati, benar-benar kecewa dengan fakta ini, perempuan itu berdiri dan meninggalkan meja prasmanan.
Bila tertegun untuk beberapa saat, merasa bingung dan tidak menyangka dengan respon yang menggebu-gebu. Perempuan itu hendak berdiri mengejar Hanum, namun Bisma menahannya dan menggeleng pelan. Masih begitu tenang, dan sangat siap dengan apapun respon teman-temannya.
"Kami saling mencintai, apa salahnya kalau pada akhirnya saling menyatukan dalam kehalalan. Mohon maaf sekiranya bila ada yang tidak berkenan dengan hubungan kami, kami berdua juga sudah mempunyai putra yang sangat lucu." Bisma membayangkan Razik.
Kali ini giliran Alan yang benar-benar shock mendengar penuturan Bisma, beberapa hari yang lalu sempat mengganjal dalam pikirannya terjawab sudah, bahwa anaknya Bila juga anaknya Bisma.
Tbc
Marhaban ya ramadhan ....
Semoga di bulan suci ini kita semua senantiasa diberi kelancaran dan kesehatan dalam segala urusan.
Selamat menunaikan ibadah puasa teman-teman semua, jangan lupa mampir di novel terbaru aku ya ...
"Mendadak Nikah Dengan Ustadz"
__ADS_1
Sambil nunggu novel aku up boleh juga mampir di karya temanku gaes