
"Mas, aku capek," keluhnya merasa pegal.
"Kamu duduk aja, aku ambilin minum sepertinya kamu haus," ujarnya perhatian.
"Nggak, Mas, aku hanya merasa kakiku kejut."
Saat keduanya tengah mengobrol Pandu datang dengan membawa Razik dalam gendongan, lalu mendudukan bocah itu di tengah-tengah kursi pengantin.
"Selamat menempuh hidup baru, Bang, Bila, doa terbaik mengiringi kalian," ucapnya tersenyum. Memeluk saudaranya tanpa pamrih.
"Makasih, Du. Aamiin ... doa terbaik kembali padamu," jawabnya membalas pelukan itu. Menatap Bila beberapa detik hingga detik berikutnya tersenyum simpul.
"Razik, om mau ke sana, Razik mau ikut nggak?" tawar pria itu menyeru. Razik nampak menatap kedua orang tuanya secara bergantian, meminta persetujuan.
"Boleh," gumam Bila mengangguk.
Pandu kembali membawa Razik, menggendong bocah kecil itu dengan mengitari berbagai menu.
"Razik mau makan apa?" tanya pria itu lembut.
"Wah, hot daddy ya, anaknya ganteng banget, Mas," celetuk seorang perempuan yang tengah mengambil hidangan jamuan.
"Iya dong, siapa dulu bapaknya," jawab Pandu bangga.
"Namanya siapa Adek?" Perempuan itu menurunkan tubuhnya menyamai bocah kecil itu.
"Azik," jawabnya spontan.
"Pintar sekali, ke mana mamamu sayang, pasti dia sangat cantik melahirkan anak seganteng dirimu," pujinya serius.
"Owh ... tentu saja dia sangat cantik, tetapi—" Pandu tidak melanjutkannya perkataannya.
__ADS_1
"Sudah pisah ya, Mas?" tebaknya sok tahu.
Pandu hanya tersenyum samar menanggapi pertanyaan itu, dirinya terlihat kembali sibuk mengambil menu untuk Razik dan dengan telaten menyuapinya.
"Adek mau buah?" tawar perempuan itu masih belum beranjak.
Razik merespon dengan gelengan pelan.
"Kamu datang ke sini sendirian, kenal sama Bisma atau Bila," tanyanya kepo.
"Saya teman kuliahnya Bisma dan Bila, Mas, terharu banget sama mereka akhirnya bersatu," ujarnya tersenyum.
"Memangnya dulu mereka seperti apa, bukannya dulu Bila itu nikah dulu sama Gema, ya?" pancing Pandu merasa penasaran.
"Kisah mereka itu manis, walaupun tidak ada kata jadian, kalau Bisma sih kentara banget suka sama Bila sedari dulu, tetapi ceweknya terlalu cuek, eh, sampai akhirnya ditinggal nikah sama kakak tirinya. Mungkin yang namanya jodoh, nggak ada yang tahu Bila cerai gitu aja, eh, tahu-tahu dapat undangan pernikahan mereka. Ikut bahagia lah sebagai teman dan orang yang mengenalnya dengan baik," paparnya.
"Eh ya kenalin, aku Dara, senang bertemu denganmu." Perempuan itu menjulurkan tangannya.
"Pandu," jawab pria itu menyambut uluran tangan Dara.
"Nggak pa-pa, main paling di sekitaran." Terlihat bocah itu asyik berlari mendapat teman, siapa lagi kalau bukan si kembar rusuh anaknya Disky. Mereka asyik dengan dunianya sendiri. Reagan dan Shalin terlihat gemas dengan bocah kecil yang sedari tadi mencuri atensinya.
Saat asyik berlari di depan perempuan itu, Razik langsung menarik tangan Pandu begitu saja.
"Om, ayo Om, tangkap aku," ujarnya menarik-narik tangan pria itu.
"Iya sebentar kamu main dulu," tolaknya lembut.
"Kalau nggak mau, om saja yang lari biar aku kejar," ujarnya seraya mendorong pria itu. Tidak membuat terjatuh, namun posisi tubuh yang tidak siap menyebabkan ia sedikit condong pada seseorang di dekatnya, hingga membuat tubuh mereka begitu rapat tanpa jarak, dalam seperkian detik membuat dua pasang netra itu saling bertaut.
"Sorry," ucapnya salah tingkah.
__ADS_1
"Ya," keduanya nampak jadi canggung.
Dari sudut yang berbeda, Gema melihat dengan haru, sebuah perjalanan cinta yang begitu tulus, akhirnya disatukan juga dalam ikatan suci yang sakral. Pria itu mendoakan kebahagiaan untuk adiknya. Terlihat sudut matanya basah, mamanya menepuk bahunya pelan, lalu tersenyum.
"Kamu nggak mau ngucapin buat mereka," ujarnya dengan sahaja.
"Cukup mendoakan dari sini saja, Ma. Aku seneng akhirnya Bila dan Bisma terlihat begitu bahagia, semoga langgeng sampai jannahnya. Aamiin." Mama ikut mengaminkan doa anaknya.
"Iya, mereka terlihat bahagia, terima kasih kamu sudah mendoakan kebaikan untuk saudaramu."
"Pasti, Ma. Doaku mengiringi kebahagiaan mereka."
***
Sementara di luar gedung, terlihat seseorang nampak berjalan gontai menuju pintu masuk dengan membawa undangan yang akan ditunjukan pada petugas yang berjaga. Seorang perempuan berhijab berjalan tak jauh dari tempatnya saat ini tengah mengantri masuk. Alan mengamati perempuan yang nampak aneh gelagatnya itu. Sekilas pandang seperti pernah melihatnya, tidak mau salah menduga membuat ia enggan menyapa, toh dia setengah lupa.
Tanpa dinyana perempuan dengan penampilan anggun itu menyapa lebih dulu.
"Maaf, Mas, bisa tolong saya?" ujarnya nampak ragu.
"Iya, kenapa?" Alan menyahut bingung.
"Mas datang ke acara ini dengan siapa?" tanya perempuan itu hati-hati.
"Kamu mau ngeledek saya, karena saya nggak bawa pasangan, saya cukup bahagia kok berjalan sendiri," jawabnya nyolot. Mendadak sensitif jika ada seseorang menatapnya aneh.
"Eh, bukan gitu, anu— itu ...."
"Kenapa?" jawabnya jauh dari kata ramah. "Buruan saya mau masuk!"
"Ini lo Mas, sebelumnya kita 'kan kita pernah ketemu ya, waktu itu di kafe, Mas ingat nggak saya sama Bila, yang lagi jadi manten, Mas."
__ADS_1
"Iya, ingat, terus hubungannya denganku apa?"
"Mmmm ... undangan aku tertinggal, bisa nggak kalau aku nebeng masuk sebagai pasangan kamuflase. Please ... mau balik jauh," mohonnya.