
"Sah?"
"SAH!"
"Sah!" seru para saksi kompak.
Kata sakral itu telah terucap dengan lancar dalam satu tarikan napas. Bisma begitu fasih melafalkannya. Tangis haru nampak jelas menyambangi pelupuk matanya. Saat dihadapkan dengan Bila, yang telah resmi menjadi istrinya kembali, hati pria itu gerimis tangis. Ada rasa lega yang besar, namun ada amanah dan tanggung jawab baru yang akan hadir.
Sepasang cincin meminta disematkan, Bu Mita menyodorkannya untuk saling menyematkan ke jari mereka.
Bisma tersenyum simpul saat jari manis istrinya menyambut dengan tenang. Begitu pun sebaliknya, Bila menyematkan cincin itu pada suaminya.
Setelah selesai mengucap ijab qobul dan memberi tanda pengikat pada tangannya, pria itu memegang ubun-ubun istrinya sambil membaca doa kebaikan.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Dalam hati, Bila mengaminkan setiap untaian doa yang dibacakan suaminya. Satu kecupan sayang di kening istrinya Bisma daratkan dengan penghayatan yang cukup lama. Kembali matanya berkaca-kaca, haru seperti mimpi.
Perempuan itu menatap wajahnya saat tangan itu terulur meminta untuk diraih. Dia adalah lelaki yang telah meminangnya kembali, mengikat dalam sebuah ikatan suci.
Bila meraih uluran tangan itu, mencium punggung tanganya dengan takzim, bukti penghormatan pada lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya. Hatinya diselimuti bahagia penuh cinta. Mereka saling menatap melempar senyum.
Beberapa foto mereka abadikan sebagai kenang-kenangan. Walaupun kali kedua, rasanya bahagia itu melebihi segalanya.
"Cantik banget malam ini, istri siapa?" celetuk pria itu berani menggoda. Bila hanya menanggapi dengan senyuman.
Sementara yang lainnya tengah berbincang akrab sambil menikmati hidangan yang telah khusus dipersiapkan untuk acara spesial itu. Bila dan Bisma sendiri asyik mengobrol akrab ditemani anak mereka di tengah-tengahnya.
"Cie ... pengantin baru ... permisi Non, boleh minta foto." Lastri tak kalah ngeksis.
"Boleh Mbak." Lastri mengambil beberapa gambar.
"Kamu nggak makan?" tanya Bila pada suaminya yang tidak lekas bergabung dengan bapak-bapak mengambil hidangan.
__ADS_1
"Masih kenyang, belum terlalu lapar, nanti saja," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan itu.
"Kenyang apaan, dari siang malah belum sempat makan!" sahut Bu Mita yang tak sengaja mendengar obrolan mereka.
"Iya kah Ma, kok gitu?"
"Mungkin saking senangnya, nervous sampai lupa makan," jawab Mama Mita geleng-geleng kepala.
"Kenapa Mas? Makan ya aku ambilin?" Bukannya mengiyakan Bisma malah senyum-senyum tidak jelas.
"Ada yang lucu sama dandanan aku? Kok lihatinya gitu banget?"
"Enggak, aku senang dengernya, coba panggil lagi?" ujar Bisma tersenyum.
"Owh ... 'kan udah jadi suami, ya masak panggil nama aja, nggak sopan dong."
"Makasih," ucapnya penuh haru.
"Untuk?" Bila kembali mendekat.
"Maafkan aku, Mas, terlambat mencintai, semoga tidak terlambat untuk berkomitmen sehidup sesurga. Terima kasih telah memilih aku kembali untuk menjadi pendamping hidupmu."
"Cuma itu? Hadiahnya mana?" todongnya mengerling.
"Ikh ... genit!" Bila berlalu sementara Bisma tersenyum memperhatikan istrinya yang salah tingkah berjalan menjauh.
Pria itu mengekor, sudah tidak bisa jauh, bahkan tidak canggung saling berbisik di antara keluarga mereka. Hingga ledekan terlontar dari yang tak sengaja memergokinya.
"Mau makan sama apa? Razik mau makan juga?" Bocah kecil itu menggeleng.
"Razik baru minum susu sama Bik Lastri, sepertinya masih kenyang," jawab Bisma seadanya.
"Mas, mau pakai lauk apa?" Bila tengah memilih menu.
__ADS_1
"Apa aja sayang, barengan ya?" pintanya tanpa canggung.
"Indahnya pengantin baru, bisa duduk berdekatan tanpa dosa, makan diambilin dan disiapin, bersyukurnya dicintai," ucapnya haru.
"Kamu saingan sama Razik," gumam perempuan itu sembari menyuap nasi ke mulut suaminya.
"Nggak pa-pa, anak kita aja seneng lihat kita barengan terus." Mereka berdua menatap Razik yang tengah asyik sendiri bermain, duduk tak jauh dari mereka berdua.
"Makan malam terindah dalam hidupku," jawabnya sumringah.
Mereka bergantian saling menyuapi, romantisnya tak mengenal tempat, yang lain pindah saja ke mars.
"Kenyang Mas, cukup, tadi sore aku udah makan," ujarnya menghentikan suapan.
"Benar kata mama, aku lupa makan saking excitednya menyiapkan semua ini. Alhamdulillah ... akhirnya sah juga, masih berasa mimpi."
"Hmmm ... nggak boleh gitu dong Mas, tetap sayangi diri sendiri walau sibuk. Isi perut itu penting, untung tadi ijab qobul nya lancar, nggak pingsan karena lapar," selorohnya merasa konyol.
"Aku cemas waktu kamu merajuk, gemes banget bikin aku tak tenang. Udah nggak bisa ditunda lagi, apalagi kerjaan kamu salah paham mulu, cemburu kamu bikin aku oleng dan gemas."
"Aku semeresahkan itu Mas?"
"Kamu membuat aku gegana, galau hati merana."
"Sekarang udah tenang 'kan?"
"Belum?"
"Kok belum, kenapa lagi?"
"Ada yang belum tenang pada diriku, bisakah malam ini kamu membuat aku tenang melewatinya?" Bisma mengerling.
Nabila pun lekas paham dengan apa yang dimaksud suaminya.
__ADS_1
"Astaga!"