
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju rumahnya, Bila tertidur. Membuat pria dibalik kemudi itu sedikit bernapas lega sebab tidak harus menuruti kemauanya yang berubah-ubah, dalam kurun waktu singkat. Kendati demikian, pria dewasa itu tengah berbahagia sebab baru saja melakukan cek kandungan istrinya dan dinyatakan positif hamil. Tentu saja pria itu girang, bersyukur tak terkira. Sebentar lagi rumah mereka akan diwarnai tangisan bayi yang sempat ia rindukan dulu kala tak pernah menemui pada diri Razik, ia bersyukur kali ini diberi kesempatan ada di sampingnya, mendampinginya walau mungkin akan banyak hal baru yang bahkan akan membuat dia kerepotan, tak mengapa, semoga semakin bertambah sabarnya.
Sampai rumah hari sudah siang, bahkan untuk penjemputan Razik dilimpahkan pada Lastri dengan driver ojek keceh langganannya. Bisma memastikan mobil terparkir sempurna, barulah mencari cara untuk turun dan menggendong istrinya tanpa banyak drama, sebab istrinya mendadak rempong tidak suka dirinya. Lantas, ia sukanya sama siapa?
"Pindah ya sayang, jangan kaget aku gendong," gumamnya seraya mengangkat tubuh istrinya. Sebab pria itu akan memindah ke kamarnya.
Bila hanya melenguh sebentar, sebelum akhirnya tubuh itu terasa melayang. Pria itu berjalan perlahan dengan tenaga yang luar biasa membawa ke lantai dua, membaringkan istrinya dengan perlahan, takut istrinya marah, kaget, dan bahkan mengamuk memergoki dirinya yang menempel.
Sungguh repot, dan menyedihkan bagi Bisma, bila istrinya tidak mau dekat-dekat barang sedikit pun dengan dirinya. Ujian lagi, bahkan mungkin ngenes karena harus menahan rindu di depan mata.
"Mas, kamu ngapain? Sana minggir!" usir Bila mendorong tubuh suaminya.
"Aku nggak ngapa-ngapain sayang, tadi kamu ketiduran terus aku gendong ke kamar," jelasnya santai.
"Gimana sih, kenapa nggak dibangunin aja, kamu jadi nempel 'kan sama aku, duh ... mana aku lagi nggak suka juga sama bau kamu. Musti mandi nih kayaknya," oceh Bila sepanjang jalan kenangan.
Bisma melongo mendengar penuturan istrinya, detik berikutnya istighfar sebanyak-banyaknya agar diberi kesabaran yang berlimpah. Minta ini itu mungkin masih bisa ditolerir, ini bagaimana ceritanya kalau dekat saja marah-marah.
"Sayang, aku cuma gendong lo yah, kenapa harus mandi, aku juga wangi gini, ini parfum rekomendasi kesukaan kamu," sanggah Bisma sedikit kesal.
__ADS_1
"Duh ... Mas, ini tuh gara-gara kamu nggak ngebolehin aku KB jadi kaya gini, adeknya nggak suka sama kamu, makanya jauh-jauh sana, nyebelin banget sih!" Bila nampak marah-marah dan merajuk. Membuat pria itu mengalah dan keluar dari kamar dengan langkah lesu.
Kekesalannya teralihkan saat menemui Razik dan bermain bersama putra mereka. Pria itu kembali tersenyum walau hatinya masih diliputi rasa gelisah akan perubahan sikap istrinya.
"Bim, kok lemes kenapa?" tanya Bunda mengeryit.
"Bila hamil, Bun," jawabnya lesu.
"Alhamdulillah ... akhirnya Razik mau dapat adik, eh, tetapi kenapa kamu murung, harusnya kamu seneng dong mau bertambah keluarganya."
"Bisma seneng, Bun, kami bahagia mau punya anak lagi, tetapi Bisma sedih, Bila nggak mau dekat-dekat dengan Bisma, aku harus gimana? Masa iya kita jauh-jauhan lagi."
"Gitu ya, Bun, Kira-kira ngidam itu berapa lama Bun?" tanya pria itu kepo akut.
"Dua bulan paling, kamu banyakin stok sabar aja, karena selain ngidam ibu hamil cenderung sensitif, jadi akan banyak air mata kalau sedikit saja tidak berkenan di hatinya."
"Dua bulan ya Bun, lama juga ya?" Bisma nampak menerawang jauh. Ia begidik ngeri membayangkan istrinya akan menolak dirinya, dan berakhir melewati malam-malam panjang dalam keseharian. Sungguh, itu sulit bahkan teramat sulit bagi batinnya.
"Bun, aku bawa Razik pulang ya, siapa tahu Bila nyariin, belum ketemu dari tadi pagi," pamit pria itu seraya menggendong Razik dan membawanya pulang.
__ADS_1
***
"Hallo sayang, anak Bunda dari rumah nenek ya?" ujar Bila langsung memeluk putranya.
Sementara Bisma hanya terdiam mengamati interaksi keduanya. Ingin ikut memeluk, namun tak siap hati jika nanti ditolak.
"Mas, kamu ngapain berdiri di situ, nggak pegel apa berdiri terus, sini Mas!" Bila menepuk-nepuk sebagian kasurnya.
"Emang boleh?" tanya pria itu menautkan alisnya.
"Duduk di ranjang masa nggak boleh sih, Mas, ngarang kamu ya?"
Owh ya ampun ... orang hamil apa semenyebalkan ini?
"Kamu udah nggak pa-pa dekat sama aku?"
"Emang kenapa? Deket sama suami sendiri nggak boleh? Atau kamu udah bosen ya sama aku?" tanyanya mrengut.
"Bukan gitu sayang," Bisma melangkah cepat dan mengikis jarak, hendak menenangkan seperti biasa memeluknya.
__ADS_1
"Ih ... kamu tuh dibilangin jangan nempel- nempel kok nggak ngerti sih!" omelnya kesal.