Noktah Merah

Noktah Merah
part 48


__ADS_3

"Ya ampun ... memilih makanan aja jodoh, kalian bikin gue gemes!" celetuk Alan terkekeh.


Bila hanya menanggapi dengan senyuman canggung, sementara Bisma sendiri diam saja seolah tidak mendengar apapun.


"Gue ke toilet bentar ya?" Pamit Alan tiba-tiba yang diangguki keduanya.


Suasana mendadak canggung ketika hanya duduk berdua, apalagi saat Bisma sama sekali tidak berminat membangun komunikasi dengan perempuan di depannya. Bila jelas bingung, banyak yang ingin ia tanyakan, namun kepasifan lelaki itu menahan segalanya. Menahan rasa ingin tahu, menahan ketidak mampuan seorang wanita untuk memulai apa yang pernah ia sia-sia 'kan.


"Sariawan Bis, kok diam-diaman kaya lagi marahan?" celetuk Alan tiba-tiba sudah kembali berada di antara mereka.


Pria itu tersenyum tipis, "Alhamdulillah nggak, hanya menjaga sesuatu yang mungkin bisa membuat hati berangan tipu daya," jawab Bisma kalem.


Ada rasa yang entah ketika pria itu menjawab seperti itu. Seonggok daging bernama hati itu diam-diam tersindir. Bukankah hak pria itu untuk mengatakan apapun, ayolah Bila jangan baper?


Obrolan mereka terjeda saat pesanan mereka datang. Lebih tepatnya obrolan Bila dan Alan, karena Bisma menjadi dingin semenjak perempuan itu bergabung ke mejannya.


"Ya ampun ... pada janjian di sini nggak bilang-bilang?" Itu suara Hanum, kebetulan baru masuk ke kafe hanya untuk rehat sejenak selepas pulang kerja.


"Hai Num, kita kebetulan ketemu kok," jawab Bila jujur. Mereka berdua bertegur sapa lalu cipika cipiki.


Perempuan yang telah lama menjadi sahabat semenjak kuliah itu langsung mengambil duduk di antara Bisma dan Bila.


"Baru pulang Num, sendirian aja?" tanya Alan berbasa-basi.

__ADS_1


"Hooh, gabung ya ... kebetulan belum makan juga," jawabnya cukup santuy.


"Udah pada pesen ya?" Hanum menilik menu Bisma. "Wah ... nuttelo chocolate, kebetulan aku udah haus ...." celetuk Hanum nyengir.


"Kamu mau?" tawar Bisma tiba-tiba yang membuat Bila langsung menoleh ke arahnya.


"Emang boleh?" Pria itu mengangguk dengan senyuman.


Ada rasa tidak rela melihat senyum itu begitu ikhlas dengan orang lain. Sementara dengannya, menoleh pun tidak, timbul sedikit kesal di hati Bila, perempuan itu pun segera sadar dan beristighfar banyak-banyak dalam hatinya.


"Boleh, buat kamu dulu aja nggak pa-pa, kebetulan masih utuh, aku mau pesan menu yang lain," ujar pria itu berbicara asyik dan normal.


Bisma memanggil waiters memesan dengan menu yang berbeda, entah itu sengaja membuat Bila tersinggung atau memang menjaga perasaan Hanum. Merasa tidak diperhatikan, Bila mulai jengah, perempuan itu fokus dengan isi piringnya saja tanpa mengambil hati.


Semua makan dengan diam, sesekali celotehan jenaka muncul dari mulut Alan. Bisma bisa berbicara renyah dan asyik ketika menanggapi sahabatnya itu.


"Boleh juga tuh, udah lama nggak terjun ke alam bebas, lo mau gabung nggak bro, ayolah sekali-kali, lo lama banget absen." Bisma nampak menimbang-nimbang.


"Ikut aja Bil, asyik kok, isinya juga kebanyakan alumni fakultas kita, bakalan seru," bujuk Hanum pada perempuan berhijab di sampingnya.


"Aku ... nanti aku kabari deh, sabtu besok?" tanyanya ragu.


"Isya Allah gue ikut, kebetulan belum ada planing," jawab Bisma akhirnya.

__ADS_1


"Asyik ... gue bareng lo ya Bis," timpal Hanum girang. "Lo gimana Bil? Nggak mesti lho acara kaya gini?"


"Nanti aku kabari ya Num?" Bila tidak bisa seleluasa dulu jika ingin pergi. Ada Razik yang menjadi bahan pertimbangan. Perempuan itu tak lagi bebas seperti dulu, ada rasa rindu sebenarnya ingin mengulang masa-masa itu, namun kenyataan di lapangan kadang tidak memungkinkan.


"Oke, aktif dong beb di grub, perasaan cuma lo yang ngilang, sama Bisma juga."


"Kalau nggak mau, nggak usah dipaksa, nanti jatuhnya nggak nyaman," celetuk Bisma urun kata.


Bila tidak menanggapi, sejak ia duduk seakan Bisma menjadi orang lain yang asing. Kenyataannya memang saat ini mereka tidak ada hubungan apapun, namun itu membuat hati Bila tersentil, seperti ada kerikil yang menggores, kecil namun perih.


"Sorry semuanya ... aku duluan ya ...." Pamit Bila merasa harus segera mengakhiri pertemuan yang membuat dirinya mulai tidak nyaman.


"Eh, Bil, kalau jadi ikut, bareng gue aja, share lokasi nanti gue jemput. Sekalian gue ada perlu sama lo?" ujar Alan percaya diri. Bisma langsung menyorot tak ramah pada sahabatnya itu.


Alan apaan sih ... sekarang lo yang bikin gue gemes!


Bila yang hampir beranjak, mengangguk dengan senyuman.


"Oke, Al, nanti aku kabarin ya?" Bila yang sudah berdiri hendak pergi, berhenti lagi karena Alan belum juga tuntas ngomong.


"Bil, kalau nggak berani pamit sama ortu nanti biar Bang Alan yang ngomong sama mereka, tenang!" cetus pria itu nyengir.


Bila kali ini bukan hanya tersenyum, tapi tertawa. Sedang Bisma melotot dengan pinta Alan yang semakin tak beraturan.

__ADS_1


"Kalau berani pamit sekalian ke calon suaminya," celetuk Bisma cukup jelas. Senyum di wajah wanita berhijab itu langsung menghilang. Mata mereka bertemu, beberapa detik terdiam, sampai Bila memutus kontak itu.


Ada rasa ingin menjelaskan, namun tak mungkin mengingat ada dua orang lain di sana. Bila pun langsung mengakhiri pertemuan mereka sebelum semuanya banyak bertanya.


__ADS_2