
Bila bergeming, tidak berani menanggapi pertanyaan Hanum. Lebih kepada takut salah mengemukakan pendapatnya.
"Bila! Kok melamun sih?" tegur Hanum mencebik.
"Mikirin apa sih, Ustadz yang tadi ya? Sepertinya sudah akrab saja sama lo?" tuduhnya tepat sasaran.
"Biasa aja, kebetulan kita memang sudah kenal," jawab Bila jujur.
"Bila, gimana hubungan lo sama kak Gema, berarti sering ketemu Bisma dong?" Hanum benar-benar kepo.
"Gema ya? Dia hanya lembaran cerita yang belum usai, namun terpaksa harus aku tutup dan tidak akan pernah aku buka lagi. Mungkin aku dan Mas Gema tidak berjodoh."
"Maksudnya, lo sekarang single parents?" tanya Sinta tak percaya.
"Iya, I'm jomblo and I happy. Perasaanku lega saat aku tidak terikat dengan siapapun. Lebih nyaman dan tenang," jawab Bila mengemukakan risalah hatinya saat ini.
"Sejak kapan lo pisah, tapi ... setahu gue tuh ya, kita bakalan cepet move on apabila ada gantinya," ujar Hanum semangat.
"Maybe, semua orang mempunyai cara ampuh mengobati rasa kecewa dan sakit hati masing-masing. Ketenangan batin itu sulit dicari, hanya ada pada orang-orang yang beruntung, dan aku berharap aku adalah salah satu orang yang beruntung itu."
Ketiganya terlibat obrolan yang cukup asyik. Mereka berpisah di rumah masing-masing. Hingga taksi itu membawa Nabila pada tempatnya. Perempuan itu baru saja turun, gerimis masih melanda kota ini. Tadinya ia akan langsung berlari setelah melakukan pembayaran. Tak pernah menyangka, sebuah payung meneduhi kepalanya. Siapa lagi orangnya, dia ayah dari anaknya.
Bila menatap pria itu yang tengah menyorotnya teduh.
"Lain kali bawa payung, sekarang musim hujan," ujar pria itu memayungi perempuan itu.
"Kamu sudah sampai dari tadi?" tanyanya basa basi.
__ADS_1
"Lumayan lama aku di sini, dingin tapi tak mengapa?"
"Ngapain? Mainan hujan?" tanyanya mendadak aneh.
"Nungguin kamu lah, kangen sama Razik. Kenapa nggak bilang kalau Razik pernah sakit?"
"Belum sempat cerita, kakiku pegel, kita mau berdiri kaya gini terus sampai kapan? Kalau kangen Razik, langsung masuk aja."
"Bila?" Mata mereka saling bertautan dalam diam. Jarak mereka sangat dekat, satu payung untuk berdua dengan rintik hujan yang seakan menjadi background kisah mereka.
"Hmm, kenapa?" jawabnya tertunduk, tak mampu membalas tatapan itu yang semakin dalam.
Cukup lama keduanya terdiam, hingga suara petir menyambar begitu saja. Bila yang kaget, spontan langsung menjerit seraya memeluk pria itu. Refleks, tubuhnya mendekap tanpa jarak, perempuan itu ketakutan.
"Bila, kamu nggak pa-pa? Tenang, aku di sini?" ucapnya menenangkan. Tangannya membalas pelukan itu begitu erat.
Saat Bila tersadar dari tindakan tak sengajanya. Perempuan itu langsung melepas cengkraman tangannya. Bila hendak memisahkan diri, namun pria itu menahannya.
Tubuh itu bergetar, keduanya basah terkena rintik hujan. Menyirami hati pria itu yang begitu dahaga. Ada getaran tangis di hati pria itu. Iya, mencintai sendiri itu sakit, tapi hatinya mencoba lapang, ikhlas untuk melepas agar perempuan itu bahagia.
Bila terdiam, membiarkan tubuhnya dalam dekapan. Tanpa membalas, lebih kepada gamang menautkan perasaannya saat ini. Bisma melepas pelukan itu begitu saja, pria itu meninggalkan Bila yang masih terdiam sendiri.
Mbak Lastri tergopoh-gopoh membawakan handuk untuk majikannya. Art itu sigap membuatkan teh hangat untuknya, sekaligus menyiapkan air hangat untuk majikannya itu.
"Kenapa mainan hujan, Non Bila kaya anak kecil saja?" keluh Lastri menyayangkan.
Malam harinya, Bila tak berhenti bersin-bersin. Perempuan itu mendadak demam dan menggigil, mungkin efek kehujanan menjadi masuk angin. Atau efek yang lainya, bisa jadi. Seharian perempuan itu mengurung diri di kamar, flu yang melanda tubuhnya membuat perempuan itu malas beranjak.
__ADS_1
"Non, di luar ada Den Bisma, mau bawa Razik?"
"Hmm, iya Mbak, nggak pa-pa?" jawab Bila langsung mengiyakan. Kondisi tubuhnya sedang tidak Vit, takut menular pada Razik, semalam Bila memilih tidur tidak berdekatan.
"Bila mana, Bik? Boleh 'kan aku bawa Razik jalan," ujarnya meminta kepastian.
"Boleh Den, Non Bila sakit, kemarin mainan hujan, malamnya langsung demam, seharian nggak ke luar dari kamar," lapor Lastri dengan satu tarikan napas.
"Apa? Sakit?" Bisma menggendong Razik dan langsung berlari ke kamarnya. Perempuan itu tengah terlelap saat Bisma menjenguk.
"Badannya, panas banget Bik?" Bisma menempelkan punggung tangannya pada kening perempuan itu.
"Bik, tolong gendong Razik sebentar, bawa main di halaman belakang saja jangan jauh-jauh," seru pria itu mendadak cemas dan sibuk sendiri.
Bisma lekas mengambil wadah, mengisi dengan air dan membawanya ke kamar. Pria itu dengan telaten mengompres mantan istrinya.
"Bisma, kamu di sini?" tanya Bila terkesiap, refleks membuka mata saat sebuah handuk kecil menempel pada kening dirinya.
"Maaf, gara-gara kemarin kamu jadi demam," ujarnya merasa bersalah.
"Mungkin memang sedang dikurangi dosaku, dengan sakit. Tak harus meminta maaf, aku hanya butuh beristirahat saja. Katanya mau bawa Razik?"
"Kamu sakit, kita ke dokter saja ya?" Bisma terlihat begitu khawatir.
"Bunda sama ayah ke mana? Kok sepi?"
"Kondangan," jawab perempuan itu lirih. Kedua orang tua Bila sedang tidak di rumah. Mereka sedang kunjungan ke pernikahan saudaranya di luar kota.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Bisma bingung, saat perempuan itu bangkit dari kasur.
"Kamar mandi, aku mual," jawabnya dengan tubuh lemas dan kepala sedikit pusing.