
"Sayang ... kamu udah tidur? Jangan bobok dulu, Razik masih belum tidur ini, aku juga belum bisa tidur," ujar pria itu menatap dengan kerlingan nakal.
"Bangunkan aku aja Mas, bila ada perlu. Aku sungguh ngantuk dan capek," ujar perempuan itu sayu. Dengan mudahnya terlelap padahal yang di sebelah bahkan resah gelisah menahan hasrat.
pria itu mengintip anaknya yang udah terlelap damai. "Aman, bobok yang nyenyak ya Nak, jangan rewel Ayah gantian mau ngelonin bunda," bisik pria itu beringsut turun dari ranjang, pindah posisi.
"Duh ... udah bobo ya, manis banget lagi posisi kaya gini, bikin nggak bisa nahan," ujar Bisma mengikis jarak. Berbaring di tepat di belakangnya mengikis jarak.
Pria itu mendaratkan beberapa serangan di bibirnya dengan mode lembut, tetapi tidak cukup membuahkan hasil. Perempuan itu malah melenguh dengan mata terpejam, membuat suaminya gemas sendiri.
"Sayang, aku nggak bisa tidur, butuh bantuan boleh?" tanyanya seraya mengusak manja di cerukan lehernya.
"Mas ... aku ngantuk, besok saja ya?" racaunya di sela lelap yang melanda.
Sebenarnya Bisma merasa tidak tega membangunkan istrinya, namun seminggu berpuasa cukup membuatnya menekan rasa sabar. Ia pun bangkit dan mencoba mengalihkan dengan merokok di balkon kamar. Cukup malam hingga beberapa batang ditemani secangkir teh harapan mengusir desir yang menggelora di benak.
Lewat pukul sebelas ia memutuskan untuk istirahat, menyusul istrinya ke peraduan mimpi. Hingga tepat pukul tiga, panggilan dari sang pemilik alam menggema lewat alarm ponselnya. Bisma terjaga sekaligus mengelus pipi istrinya, membisikkan kata indah bersyair cinta.
__ADS_1
"Sayang, jemput rahmatmu di pagi ini dengan cinta," bisik Bisma mengecup lembut bibirnya yang menawan.
"Mas, udah bangun? Aku ambil wudhu sebentar," ujar perempuan itu setelah terjaga. Dua rakaat tahajut mereka tunaikan bersama, mengharap kelapangan ilahi Rabb-Nya dalam setiap urusannya di dunia.
Usai salam, Bisma yang baru mengakhiri dengan doa panjang bermunajat sebelum akhirnya menghampiri istrinya yang masih setia bersimpuh di belakangnya.
"Semalam, aku membangunkanmu, namun tidurmu terlalu nyenyak, aku menjadi tidak tega, tetapi jujur tidak bisa tenang sebelum dapat penawarnya," curhatnya mulai mengikis jarak. Melepas kain sholat yang masih merumbai panjang.
"Maafkan Masku sayang, aku terlalu mengantuk, apa sekarang tawaran itu masih ... mmmphhh," jawabnya terputus sebab pria itu langsung membekapnya dengan bibirnya.
"Maaf, aku terlalu merindu," ujar pria itu setelah membuka hidangan keromantisan mereka. Bila tersenyum di tengah napas yang tak beraturan dan meronanya pipi.
"Mas ...." Perempuan itu menekan dadanya dan saling menatap, hingga detik berikutnya pria itu menempelkan bibirnya pada kening istrinya, lalu beralih turun menyusuri muara madu yang tipis merona. Pagi yang sunyi itu akhirnya dilewati dengan syahdu. Napas mereka kembali menyatu. Mengunci bibir mereka dengan gerakan seduktif. Mengekspresikan cinta dengan tautan yang memabukan.
Keduanya menciptakan suasana hangat madu asmara yang menggebu penuh cinta. Kembali menebar benih dengan iringan doa kebaikan kepada Rabb-Nya.
Selalu bisa membuat perasaan itu tenang dan damai setelahnya, bahkan begitu dengan manisnya, mereka membersihkan tubuhnya di kamar mandi berdua. Saling menggosok punggung, dengan gerakan nakal dan manja. Keduanya keluar kamar mandi dengan bibir merekah.
__ADS_1
"Sayang, aku langsung ke mushola ya?" katanya di sela memakai pakaian.
"Iya Mas, pagi ini mau sarapan apa?" tawar perempuan itu sembari menyambut uluran tangan suaminya. Mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Apa aja, aku pasti makan buatan kamu," ujarnya sembari mendaratkan satu kecupan singkat pada pipinya, tangan pria itu masih bertaut. Hingga tersenyum lembut dan beralih mengusap puncak kepalanya. Meninggalkan kamar dengan untaian salam.
"Waalaikumsalam ...." balas Bila lalu bergegas memakai kerudungnya. Hari ini suaminya bilang tetap akan ke kantor sebentar, baru siangnya pulang dan sorenya berangkat ke Bali.
"Ya Rabbi, jagalah cinta kita agar tetap bermuara pada hati kami masing-masing. Tanpa melebihi cinta kami terhadap-Mu, jagakanlah kami di manapun kami berada, dan ampuni kami ya Allah."
Bila keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Menyiapkan mug dan mengisinya dengan gula dan kopi, sembari menunggu air di panci mendidih, perempuan itu menilik lemari pendingin, meneliti isinya ada apa saja dan bersiap mengeksekusi.
"Pagi Non, semangat sekali pagi-pagi udah bikin sarapan?" Lastri datang disaat majikannya tengah menyeduh kopi.
"Harus lah, biar tambah berkah kudu semangat siapin buat suami," jawabnya seraya tersenyum.
Bisma mengucapkan salam dan langsung bergabung menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Mas," panggil perempuan itu menyambut suaminya. Kedua pasang mata yang selalu merindu itu kembali bertemu, menyambut uluran tangannya dan menyematkan tanda sayang di keningnya. Lastri yang kebetulan di sana menatap dengan takjub. kedua orang yang dulunya saling membenci itu kini saling bucin satu sama lain.