
"Ini beneran jadinya nggak ajak Razik, Mas? Kita berangkat berdua aja?" Bila masih bertanya-tanya. Mereka sedang perjalanan ke bandara dengan taksi.
"Iya sih, emang terasa halu apa? Udah yang tenang dan sabar, insya Allah nggak kenapa-napa. Lagian ada bunda dan ayah yang bantuin jaga, kasihan juga harus ninggalin sekolah."
"Ah ... kamu mah tega, gimana kalau aku kangen? Tidak bisa tidur dan gelisah," ujarnya mendrama.
"Kan ada aku sayang, nanti aku yang bakal membuatmu cepat tertidur, dan menemanimu setiap waktu. Bisa telpon juga, jadi jangan cemas, oke sayangku." Bisma membingkai pipi istrinya lalu mengecup bibir itu sekilas.
"Mas, kebiasaan banget sih, ini yuh tempat umum," protesnya seraya mendelik kesal.
"Mas, aku malah jadi kepikiran sahabat-sahabat kita, gimana ngejelasin ke mereka ya? Kayaknya Hanum juga menaruh hati padamu, aku merasa nggak enak," curhat perempuan itu mulai kepikiran dampak setelah semuanya tahu tentang hubungan itu.
"Biar aku yang jelasin semuanya ke teman-teman, kamu tuh nggak usah banyak mikirin apapun, cukup aku dan Razik yang memenuhi pikiranmu sayang," ucap Bisma mulai menggombal.
"Ah ... kamu, aku lagi serius Mas," potongnya sebal.
"Aku lebih dari serius, kapan aku main-main denganmu, dari dulu bahkan aku selalu serius, kamu-nya aja yang tidak pernah menganggap aku ada di sekitarmu," ujarnya sendu.
__ADS_1
"Ini ngomongin jaman kapan sih, Mas, nggak enak banget didengar, segitunya kamu peduli sama aku, kamu sabar banget lagi nungguin aku cinta sama kamu, padahal banyak diluar sana yang ngantri mau sama kamu," paparnya menatap serius.
"Ya wajarlah dong sayang, secara aku kan ganteng," jawab Bisma percaya diri dengan tingkat kenarsisan yang haqiqi.
"Ya ampun ... kamu itu emang konyol sedari dulu, pede banget lagi." Bila malah mengeluarkan ekspresi geli, membuat Bisma gemas sendiri dan hampir khilaf dengan ingin terus menciuminya. Kalau tidak sadar keberadaan mereka sekarang di mana, sudah pasti keduanya berselancar pada fantasi yang berbeda.
"Udah Mas, berhenti menggodaku atau aku akan membalasnya nanti," ujar perempuan itu galak.
"Ya aku sudah tidak sabar ingin menanti itu," tantangnya.
"Maaf, Den, sudah sampai," interupsi supir taksi yang sedari tadi menjadi pendengar yang setia.
"Kalian pengantin baru yang mau honeymoon ya, kelihatan bahagia sekali, semoga sakinnah, mawadah, warohmah, ya ... pasangan yang serasi." Doa supir taksi tulus yang langsung diaminkan mereka berdua dengan haru.
"Terima kasih, Pak. Doa terbaik kembali ke Bapak dan keluarganya. Kembaliannya ambil saja, anggap rezeki lebih hari ini untuk Bapak," ucap Bisma setelah menurunkan kopernya.
Mereka melakukan keberangkatan sore hari. Banyak dari sahabat yang sudah berangkat dengan jam penerbangan lebih dulu sehingga sudah sampai di sana. Setelah mengudara kurang lebih dua jam, Bila dan Bisma sampai di pulau dengan sejuta keindahan memukau mata. Mereka sampai di sebuah resort yang akan akan menjadi tempat bersejarah resepsi kedua sahabat mereka. Faro dan Nadia.
__ADS_1
Mengapa memilih di Bali resepsi mereka, jawabannya tentu belum ditanyakan pada mempelai berdua. Faro dan Nadia sudah menjalankan ijab qobul di Jakarta secara sederhana di Rumah mempelai perempuan. Kemudian acara di Bali ini adalah resepsi yang dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat dekat saja dengan kapasitas undangan yang terbatas.
Selepas isya, Bila dan Bisma baru saja sampai di hotel, tempat yang juga dikhususkan untuk para tamu yang akan menghadiri pernikahan sahabat mereka besok. Sahabat-sahabat mereka juga sudah sampai di hotel yang sama. Disya bahkan yang paling aktif di grub sudah mejeng status dengan panorama indah pantai Bali yang langsung menghadap ke penginapan.
"Sayang, ini teman-teman ngajak ketemuan di bawah, katanya sembari makan malam, gimana? Kita 'kan baru saja sampai, kamu pasti capek." Bisma tengah membuka jam tangan dan bajunya, bersiap untuk mandi kemudian sholat.
"Terserah kamu saja, Mas, aku ngikut aja. Kita bersih-bersih dulu kemudian keluar." Bila sibuk sendiri tanpa memperhatikan suaminya yang sudah melepas kain penutup tubuh bagian atasnya.
"Ayo buruan mandi!" titah pria itu menatapnya lurus.
"Kamu duluan Mas, aku beresin ini dulu. Udah sana masuk kamar mandi gantian," ujar Bila cuek.
"Bareng," ujarnya mendekat. Bila memasang wajah menolak dengan gelengan kepala.
"No no no, kamu duluan aku sedang capek, nggak mau, kamu suka khilaf."
"Nggak, kali ini beneran nggak bohong." Bila menjerit tertahan ketika tiba-tiba tubuhnya serasa melayang pada kedua tangan suaminya.
__ADS_1
"Mas, kamu meresahkan. Please hanya mandi saja, aku lapar dan merasa tidak nyaman."
"Hmm ... diamlah honey, aku hanya ingin mandi denganmu. Ini mengasyikan," ujarnya santai.