Noktah Merah

Noktah Merah
Part 86


__ADS_3

Bisma baru ke luar kamar saat Pandu berjalan menghampiri. Pria itu menyapu ke sudut ruangan yang terlihat lengah dan tampak bersih. Tidak ada mainan yang berserakan di ruang keluarga, maupun tempat yang lainnya.


"Kok sepi, pada ke mana?" tanyanya lebih ditunjukkan untuk istri saudaranya itu.


"Owh ... Bila dan Razik ada di rumah bunda, mungkin malam ini kami akan bermalam di sana," ujar Bisma lalu meninggalkan Pandu yang masih terdiam di tempatnya.


Pria itu tertegun sejenak, mungkinkah perempuan itu mengadu, atau memang sengaja menghindarinya. Tak ingin terlalu pusing memikirkan orang lain, pria itu cuek saja dan melangkah ke kamarnya.


Sementara Bisma baru tiba di rumah tetangganya sekaligus mertuanya itu menjelang maghrib. Ia meninggalkan Bila cukup lama, yang sebelumnya hanya pamitan untuk mandi dan mengganti bajunya saja. Hingga membuat perempuan itu menggerutu sebal melihat kemunculannya di depan pintu.


"Duh ... ngambek Neng, baru juga ditinggal sebentar dan itupun tetangga rumah udah cemberut aja, apakabar aku yang ditinggal bertahun, kering kerontang mengenangnya," sindirnya mengambil duduk di samping pujaan hatinya.


"Habisnya kamu lama, bohong banget cuma mandi dan berganti pakaian doang, ini mah apa berjam-jam," protesnya tak terima.


"Cuma nepotisme sekitar seratus delapan puluhan menitan doang sayang, aku tadi ada urusan di rumah sebentar sebelum mandi," ujarnya membela diri.


"Alesan, ngeles! Ngomong aja alot disuruh nginep di rumah bunda," tuduhnya dengan presepsinya sendiri.

__ADS_1


"Buka gitu, aku nggak masalah kok tinggal di manapun asal bisa terus bareng-bareng sama istriku yang paling cantik seantero bumi ini, pasti aku sanggup," ujarnya mengeluarkan jurus rayuan ala pujangga.


"Halah, gombal banget mulutmu, Mas, nggak sesuai sama hati dan otaknya. Buktinya aku minta pindah sini lagi nggak langsung ngebolehin padahal udah jelas-jelas aku nggak nyaman ada saudara kamu," terang Bila jujur.


"Nanti aku coba bilang lagi ke dia ya, sabar, aku nggak enak kalau main suruh pindah aja, kemarin sempat menawarkan apartemen saja dia nggak ambil, katanya udah nyaman tinggal di sana. Aku 'kan jadi bingung kalau tiba-tiba ngusir atau nyuruh pergi gitu aja. Nggak enak juga sama mamanya Pandu kalau tetiba ngadu diusir Bisma, 'kan nggak etis banget didengar."


Sebenarnya Bisma kepikiran untuk mengalah dan ingin singgah di apartemennya saja, namun letaknya lumayan jauh dari kantor dan juga sekolah Razik. Istrinya akan bolak balik takut membuatnya capek pastinya. Apartemen juga kurang luwes untuk pasangan yang sudah berkeluarga dengan adanya anak di sana, kurang nyaman untuk lingkungan bermain dan juga lingkungan yang kurang ramah. Sedang rumah yang ia tempati sekarang teramat strategis menurut dirinya.


Semua ditempuh tak lebih dari dua puluh menit berkendara normal untuk mencapai kantor, sekolah putranya, swalayan dan pusat kesehatan. Sama satu tak begitu jauh dari rumah kedua orang tuannya, dan untuk Bila sendiri lima langkah dari rumah untuk menyinggahi rumah orang tuanya.


"Sayang, besok kita ke Bali tanpa Razik ya?" ucap Bisma menatap serius. Pria itu mengalihkan topik pembicaraan yang tengah viral di grub alumni.


"Nggak pa-pa nanti dititip sama bunda, ada Bik Lastri yang bantu jagain juga, sekalian kita ada waktu buat berdua. Hehe."


"Ish ... itu sih mau-maunya kamu aja, Mas, bilang aja pengen berdua."


"Ya begitulah, tetapi kalau kamu nggak keberatan sih, diajak sebenarnya nggak pa-pa juga. Ini 'kan cuma sekedar usul aja, diterima oke, nggak juga nggak masalah. Sepertinya kamu juga butuh liburan?"

__ADS_1


"Aku bilang ke bunda dulu ya Mas, nanti deh setelah makan malam."


"Siap cinta, Mas mau ke mushola jamaah ajak Razik sekalian, tolong sayang siapin sajadahnya. Jangan lupa sebut aku dalam doamu." Pria itu mengerling nakal lalu bergerak mendekat memberi kecupan manis di bibirnya.


"Ya ampun ... Mas, katanya mau sholat kok malah mesum sih!" Perempuan itu menggerutu, namun hatinya berbunga penuh damai.


"Dikit doang, sayang, yang banyak nanti kalau mau minta," teriaknya nyengir di ambang pintu.


"Minta apa Bim?" tanya Bunda yang tetiba hadir hendak memanggil Bila.


"Eh, Bun, itu ... biasa minta ... jatah menitan," jawab Bisma ngasal seraya menggumamkan kata pamit hendak ke mushola.


"Razik, ayo ikut Ayah sayang!" Pria itu sengaja mengajak putranya.


Sementara Bila berjamaah di rumah dengan bunda dan Lastri. Selepas sholat isya Bisma, ayah, dan Razik baru saja kembali dan sudah disambut kaum perempuan di meja makan.


Makan malam pun berlanjut dengan obrolan ringan sesuai rencananya ke Bali. Namun, Bila tetap menginginkan anaknya ikut saja karena merasa tidak tenang Bila ditinggalkan.

__ADS_1


"Kami ke kamar dulu Bun," pamit keluarga kecil itu menuju peraduan mereka. Razik langsung digiring untuk bersih-bersih dan segera tidur.


"Sayang ... kamu udah tidur? Jangan bobok dulu, Razik masih belum tidur ini, aku juga belum bisa tidur," ujar pria itu menatap dengan kedipan nakal.


__ADS_2