Noktah Merah

Noktah Merah
Part 73


__ADS_3

"Maybe?"


"Kok gitu, nggak mau datang bareng sama aku?" tanyanya mrengut.


"Kamu udah siap hubungan kita diketahui halayak umum apalagi ini di kalangan pekerjaan kamu Mas," ucapnya sedikit bingung.


"Kenapa, siap lahir batin dong sayang, kita 'kan akan segera meresmikan pernikahan kita. Kamu khawatir ya tidak cepat terealisasikan," selorohnya.


"Buka gitu Mas, aku percaya kok pengantin pria tidak akan kabur di hari bahagia itu, semoga saja lancar. Aamiin ....!"


"Aamiin!" Bisma menimpali.


Seharian benar-benar disibukkan bolak-balik dari rumah tetangga ke rumahnya lumayan juga. Keringat kecil nampak membanjiri pelipisnya.


"Udah Dek, kamu istirahat saja sampai keringat gitu," ujarnya perhatian. Barang-barangnya tidak terlalu banyak, namun banyak printilan seperti tas dan sepatu yang tidak bisa dibawa satu waktu.


Razik sendiri asyik bermain dengan omanya. Setelah sarapan pagi tadi, mereka bertiga, Bisma, Bila dan Lastri langsung olah raga pengemasan barang.


"Non Bila, ini semuanya udah beres Non, ada lagi kah yang mau dipindah?" tanya art itu memastikan.


"Cukup kayaknya Mbak, biarkan sisanya di sini, aku 'kan ke sana ke mari. Walau mungkin masih sering di dana sih, Mbak Lastri tolong jagain Bunda ya?"


"Siap Non, untung dekat ya Buk, jadi nggak begitu kesepian." Bu Rima mengangguk mengiyakan. Dirinya bahkan yang yang paling berat jika harus berpisah dengan Razik.


"Atau Razik biar di sini saja Bila, nemenin Bunda," ujarnya menyarankan.

__ADS_1


"Jangan dong Bun, nanti ngrepotin. Lagian masih suka rewel kalau ditinggal," tolaknya tak setuju.


"Kenapa tidak dicoba aja dulu, lagian kalian 'kan bisa tenang kalau dititip di Bunda sebelum dapat pengasuhnya."


"Coba lihat nanti Bun, aku sih terserah anaknya saja kalau nggak rewel dan mau, boleh aja selama masih dekat dan dalam pantauan."


"Gimana Mas?" tanyanya urun rembug.


"Senyamannya anaknya aja sayang," jawabnya cukup tenang.


Pria itu selalu menanggapi dengan tenang dan penuh pertimbangan. Mengambil duduk di samping istrinya dan menyambar jus jambu yang baru saja dibuat Mbak Lastri.


"Kenapa Mas, kok lihatin aku gitu?" tanya Bila dengan keryitan indah di keningnya.


"Lihat kamu sama minum ini tambah manis Dek, rasanya lebih enak," kelakarnya lengkap dengan kedipan mata genit.


"Nggak pa-pa Non, Lastri tahan banting kok, malah ikut nyengir dengernya," jawabnya jujur. Membuat seisi ruangan tertawa ngakak dibuatnya.


"Bun, malam ini titip Razik ya, ada acara gitu, mungkin bisa sampai malam nggak tahu."


"Iya dengan senang hati, kamu perginya sama Bisma?" Perempuan paruh baya itu akan merasa tenang, kalau apa-apa ada suaminya.


"Iya Bun, kebetulan kami dapat undangan yang sama." Bisma mengiyakan.


Usai beberes yang cukup melelahkan, tanpa sadar Nabila terlelap di kamarnya. Bisma membiarkan saja istrinya istirahat, sepertinya memang kecapean. Mereka kini sudah di rumah Bisma dan pria itu tengah menemani anaknya bermain.

__ADS_1


"Tumben banyak makanan?" celetuk Pandu yang baru saja memasuki rumah sepulang kerja.


"Iya lah, 'kan ada yang nyiapin," jawabnya tanpa menoleh ke orangnya.


"Zik, main apa? Main mulu emang nggak capek? Om aja capek lihatnya?" Bocah kecil itu tidak menggubris, pun tidak terpengaruh dengan perkataan manusia yang baru mendatanginya. Anak itu fokus menyusun lego keretanya.


"Kamu nggak ngerti banget bahasa anak-anak, awas saja kalau bikin anak aku rewel dan nggak betah di sini, gue kirim ke mars lo nanti."


"Sensian amat sih Bang, becanda lah, gue klop kok kalau sama bocah, asal nggak rewel aja."


"Pandu, nanti malam kamu nggak usah nemenin aku, kamu bisa berangkat dengan undanganku, aku sama Bila."


"Dih ... yang maunya berduaan terus, Zik, kasian ya kamu sering ditinggal-tinggal mulu gegara ayah dan bundamu nemplok mulu," celetuknya yang membuat ayah satu anak itu melotot di depannya.


"Kenapa Bang, nggak terima? La mang iya 'kan?"


"Mulut kamu ngeselin banget kalau ngomong," tukasnya sebal.


"Fakta Bang, fakta! Untung bocil nggak protes, nurut aja!" ocehnya seraya menuju kamarnya di lantai dua yang jaraknya berseberangan dengan kamar Bisma.


"Bang, aku nanti pinjam kemeja yang dongker ya!" serunya setelah sampai atas.


Pandu menuju kamarnya kemudian langsung membersihkan diri karena merasa penat. Pria itu mempunyai kebiasaan nyelonong ke kamar saudaranya tanpa permisi.


Nabila yang baru saja terjaga dari tidurnya, kaget dan memekik histeris mendapati di kamar itu ada pria lain selain suaminya. Terlebih pria itu bertelanjang dad@ hanya berbalut handuk saja. Spontan Bisma yang di bawah sedang menemani Razik langsung berlari cepat menuju lantai dua.

__ADS_1


"Ada apa ini? Sayang kamu kenapa?" Bila langsung berhambur dalam pelukan suaminya dan menggeleng ketakutan.


"Astaghfirullah ... Pandu! Kamu apa-apaan sih! Ngapain ke kamarku nggak sopan gitu!" hardiknya murka.


__ADS_2