
"Mau bareng? Aku berangkat agak siang, mau sekalian aku antar Razik ke sekolah?" tawarnya tersenyum.
Sumpah demi apa, Bila kaget dengan kemunculan Pandu yang tiba-tiba sudah di sampingnya. Perempuan itu tengah membereskan sisa sarapan dan gelas kotor di meja makan.
"Pandu, ngagetin aja, nggak, terima kasih. Kamu kenapa nggak berangkat, suamiku bahkan sudah berangkat dari tadi," cecarnya waspada.
"Bisma terlalu rajin, sebentar lagi aku berangkat. Kamu kagetan banget sih, padahal 'kan dulu sempat dekat juga sebelum kamu pergi. Kenapa sekarang jadi secanggung ini," ujarnya mencoba terus membangun komunikasi.
"Sebaiknya kamu berangkat Pandu, dan jangan mengajakku mengobrol seperti ini. Aku tidak suka, lagian ini tidak etis," jawabnya lalu.
Perempuan itu segera meninggalkan piring kotor itu, dan akan membersihkan nanti saja setelah pria itu berangkat. Mungkin nanti dia akan protes dan meminta suaminya untuk meninggalkan rumah setelah Pandu berangkat saja. Entah mengapa, perempuan itu merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
Setelah mendengar deru mesin motor meninggalkan halaman rumah. Bila akhirnya bisa bernapas lega dan membuka kunci kamarnya. Perempuan itu sedikit lebih tenang, setidaknya ia bebas untuk sementara ini.
Saat ia menuruni anak tangga, terdengar agak berisik dari arah dapur. Ternyata ada penghuni lain yang bisa diprediksi kalau dari cerita suaminya, perempuan yang tak lagi muda itu asisten rumah tangga di rumah ini, yang berangkat pagi pulang setelah beres.
"Pagi Non, istrinya Den Bisma 'kan?" sapanya ramah.
"Iya, maaf, pegawai suami saya?" balasnya lembut.
"Panggil saja Mbok Inah Non, ini nanti biar Mbok aja yang beresin, Non Bila masak?" tanyanya merasa takjub.
__ADS_1
"Iya Mbok, buat sarapan untuk suami, emangnya kalau hari-hari biasanya Mas Bisma tidak pernah sarapan ya Mbok?" Bila mulai kepo.
"Nggak pernah, paling kopi aja Non, Mbok juga jarang ketemu, seringnya berangkat saat simbok belum datang, pulangnya juga saat saya sudah balik."
"Mbok, kalau jamnya dirubah keberatan nggak, Mbok pulangnya agak sorean dikit, soalnya aku takut di rumah sendirian," ujarnya mencari alasan yang paling tepat.
"Boleh Non, nanti Mbok temenin."
"Alhamdulillah, makasih ya Mbok," ucapnya lega.
Perempuan paruh baya itu segera membereskan dapur dan pekerjaan lainnya yang tentu lebih banyak dari biasanya, mengingat bertambahnya penghuni rumah. Sedang Bila sendiri tengah memandikan Razik, perempuan itu akan mengantarkan anaknya sekolah play group pagi ini. Ia sudah mendaftarkan di salah satu sekolah terbaik di dekat wilayah tempat tinggalnya.
"Mbok, nanti tolong kalau bersihkan kamar saya jangan sama meja kerjanya ya. Nanti biar saya yang beresin bagian itu," ujar perempuan itu.
"Iya Mbok, baru mulai hari pertama masuk, masih harus ditunggu. Mbok biasanya masak nggak Mbok?"
"Masak kalau disuruh Den Bisma saja, tetapi kalau Non Bila di rumah simbok masak saja, Non Bila mau makan apa, nanti biar Simbok masak sesuai selera."
"Siang nggak usah deh, Mbok. Nanti sore aja boleh," ujar perempuan itu sembari sibuk membuat susu untuk anaknya.
Sepertinya biasa, Bila menyiapkan sarapan si kecil sendiri. Setelah usai, ia langsung berangkat dengan mengendarai kendaraan sendiri.
__ADS_1
"Sayang, nanti di sekolah banyak teman baru lho, Razik nggak kesepian lagi," kata Bila disela menyetir. Putranya nampak asyik manggut-manggut tanpa banyak merespon. Cukup berkendara selama kurang lebih dua puluh tiga menit, perempuan berparas anggun itu sudah memarkirkan mobilnya di halaman sekolah. Bisma memang menyediakan khusus satu mobil untuk istrinya.
Perempuan itu segera membukakan pintunya untuk Razik, dan membantu putranya turun dari mobil. Bila lebih dulu masuk ke ruang guru untuk mendaftar ulang sebelum akhirnya mengantar anaknya ke ruang kelas.
"Terima kasih, Bu," jawabnya lalu. Melambaikan tangannya sebagai salam pamit pada putranya. Hari pertama masuk, Bila masih menunggunya, untuk mengisi kekosongan waktu sembari menunggu Razik mendapatkan materi di sekolah, perempuan itu menyibukkan diri dengan menambah bab di novel barunya lewat handphone.
Saat ia tengah sibuk memainkan jemarinya di atas keypad ponselnya, tetiba vibrasi handphonenya menyala. Id caller dengan nama Alan di sana. Bila nampak ragu-ragu untuk mengangkat atau tidak, sejurus kemudian memilih menerima panggilan tersebut mungkin ada hal penting.
"Assalamu'alaikum ... Alan kenapa?"
"Beneran kamu ya, aku seperti melihatmu duduk di tepi taman terbuka, bener nggak sih," jawab pria itu dari sebrang sana. Mata Bila langsung memicing, menyapu sekitar, terlihat mobil pajero putih terparkir di pinggir jalan. Sedetik kemudian seseorang di sebrang sana mengangkat tangan dengan lambaian. Ia tersenyum dan mengangguk.
"Kamu yang di sana?" tanyanya terus lurus mengarah pada objek di depannya.
"Ya, kamu ngapain duduk sendirian di situ," tanyanya masih dengan sambungan telepon.
"Nungguin anak aku sekolah, aku nunggu dari sini. Kamu sendiri ngapain, bukannya jam kerja ya?"
"Lagi keluar sebentar, cari bahan baku buat di kafe. Kamu udah punya anak? Sama kak Gema ya?" tanyanya kepo.
Bila terdengar terkekeh di sebrang sana, kemudian menyahut yakin.
__ADS_1
"Bukanlah, sama adiknya," jawab perempuan itu sembari tersenyum.
Alan masih membeku di sebrang jalan, pria itu tidak terlalu jelas dengan jawaban Bila. Sebelum akhirnya perempuan itu menutup teleponnya karena Razik sudah jamnya pulang.