
"Maafkan aku, Bila, maaf, aku tidak akan menyakitimu," ucap pria itu sendu. Tangannya yang hendak terulur mengusap buliran bening itu, hanya mampu mengudara tanpa berani menyentuh. Bila masih bergetar dan menangis sesenggukan.
"Aku tidak akan tidur di sini kalau kamu takut, Razik sudah tidur di kamar Mama, istirahatlah ... aku akan keluar," ucap Bisma meninggalkan Bila di kamarnya sendirian. Perempuan itu lekas menyusut air matanya, sejatinya ia itu rindu bertemu anaknya, namun sepertinya seluruh penghuni rumah tidak ada yang mengerti posisinya.
Bila tahu semua orang kangen pada bocah itu, tapi bertindak seolah-olah memisahkan anaknya dengan ibunya jelas Bila kesal. Apalagi Razik belum pernah semalam saja tidur tanpa dirinya, Bila tentu cemas bila harus meninggalkan putranya di sana.
Bisma keluar kamar setelah menyusut sudut matanya yang basah. Hatinya sakit melihat Bila yang begitu ketakutan jika hanya berdua saja. Rasa bersalah itu kembali bersarang di relung hati terdalam pria itu.
"Bik Lastri, kamu bisa pulang dengan Pandu, Bik, terima kasih sudah mengantar Bila ke sini, istri saya biar menginap saja," ucap Bisma menemui Lastri yang masih setia menunggu majikannya itu.
"Owh ... begitu ya Den, siap lah," jawab Lastri mengiyakan.
"Ayo Den Pandu, kita kemon, sudah malam ini, tidak baik untuk bujang dan lajang bepergian," ujar Lastri menginterupsi.
"Bilanya beneran mau nginep? Yah ... padahalkan kesempatan buat kita sekali jalan, rese' lo ah, sengaja pasti ya menahannya di sini," celetuk Pandu terang-terangan.
Bisma langsung menyorot galak. Mengusir tanpa kata. Spontan Pandu pamit tanpa menyela.
"Iyalah, iya, gue pulang sekarang, PUAS!"
Bisma duduk sebentar, mencoba menenangkan hatinya. Melangkah ke dapur, menuang air putih dan meneguknya hingga setengahnya. Setelah pria itu merasa bisa menguasai hatinya yang entah, ia lekas menuju kamar mama.
__ADS_1
"Ada apa, Bim?" tanya Mama Mita setelah membuka pintu menemukan putranya di sana.
"Mau ambil Razik, Ma, dia bisa nangis kalau kebangun tidak ada Bila di sampingnya."
"Yah ... padahal udah tidur nyenyak gitu, Mama juga masih kangen, kalian mau pulang?" ujar Mama Mita kecewa. Papa dengan wajah sayu ikut menyembul dari balik pintu.
"Kenapa, Ma?" tanya Pak Hans nimbrung.
"Razik, Mas, mau dibawa pulang," ucap wanita berumur setengah abad itu sendu.
"Cuma dipindah aja, Ma, enggak dibawa pulang. Besok Mama sama Papa bisa main dengan Razik seharian, sekarang biarkan tidur dengan Bila dulu, Razik kalau kebangun suka nyari bundanya," kelasnya merasa tak enak, hanya dalam waktu kurang sehari, bocah kecil itu telah menjadi idola seisi rumah.
"Owh ... ya sudah, sana gendong, hagi-hati Bim, nanti kebangun kasihan," ucap Mama mengingatkan.
Perempuan itu cukup terperangat saat membuka pintu menemukan Razik dalam gendongan dengan wajah terlelap.
"Bila, aku masuk ya?" pintanya lembut. Itu kamar dirinya namun tentu saja Bisma harus izin dahulu, takutnya Bila histeris lagi. Biasanya Bila akan lebih tenang dan lembut bila ada Razik. Sepertinya memang harus pelan-pelan mengambil hati wanita itu.
Bila hanya terdiam, namun melihat wajah imut Razik yang ia rindukan dari siang, sekilas rasa resah itu bercampur lega dan senang. Sudut bibirnya terangkat membuat lengkungan.
"Razik, Bunda kangen sayang." Bila mengecup kening bocah itu setelah Bisma memindah ke kasur.
__ADS_1
"Istirahatlah di sebelahnya, Bila, aku tidak menyakitimu, tolong jangan usir aku dari kamar, nanti mama akan bertanya-tanya," ujarnya penuh dengan alasan.
Bila tidak lagi menggubris perkataan suaminya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Malam semakin larut, Bila sendiri akhirnya tidur di samping Razik dengan memeluk bocah kecil itu. Sedang Bisma, ia sengaja berjarak dengan memisahkan diri di lantai kamar beralaskan tikar. Tak mengapa ia tereliminasi dari ranjangnya sendiri,asal anak dan istrinya merasa nyaman.
Sebelum berhasil memejamkan mata, pria itu meneliti wajah ayu Bila yang sudah terlelap. Sudut matanya masih menggenang sisa air mata. Ada rasa yang mencubit, namun juga tenang, saat melihat Bila tertidur di ranjangnya. Bisma tersenyum tipis mengamatinya.
Pria itu lekas memosisikan dirinya untuk beristirahat, menjatuhkan bobot tubuhnya di lantai dasar beralas tikar dengan perlahan. Rengekan kecil anak itu membuat Bisma sedikit kaget, dan bangkit mengintip, pria itu segera menina bobok anak itu hingga terlelap kembali.
Malam ini di luar hujan cukup deras, rasa dingin yang mengguyur tubuh membuat pria itu semakin mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya tak mampu menembus dinginnya dan kerasnya lantai dasar. Bisma jelas tidak nyaman. Rupanya suara petir yang menggelagar membuat tidur Razik terusik, bocah itu kaget dan menangis begitu saja. Bila dan Bisma yang baru saja terlelap, langsung kebangun bersama, dan memeluk anaknya.
"Razik, tenang sayang, ada Bunda dan Ayah, Razik jangan takut ya, ayo bobok lagi, kasihan Bunda ngantuk," ujar pria itu duduk di bibir ranjang. Razik bukannya terlelap malah menangis ketakutan. Hingga membuat Bila bingung sendiri.
"Sini biar aku gendong, aku timang saja, Razik takut tidur tergletak," ujar pria itu mengangkat tubuh Razik dan membuainya dalam gendongan.
"Kamu tidur saja Bila, istirahatlah, ini sudah larut malam," tegurnya merasa kasihan.
Bila terdiam, duduk di bibir ranjang bersender headboar dengan mata memperhatikan keduanya. Razik sudah hampir terlelap, pria itu mendekati ranjang, menumpuk bantal pada papan ranjang, dan menempatkan punggungnya di sana sebagai sandaran. Membiarkan Razik tertidur di dadanya, dalam dekapan hangat ayahnya tentu bocah itu merasa nyaman dan hangat.
Melihat itu, hati Bila menghangat seketika. Perempuan itu lekas tidur begitu saja di samping keduanya. Tangannya terulur ikut menina bobok Razik agar semakin cepat terlelap. Hingga mereka akhirnya terbuai ke alam mimpi bersama.
Tidur seseorang memang kadang tidak beraturan, entah bagaimana ceritanya, saat Bisma membuka mata, menemukan sebuah tangan melingkar indah di perutnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan istrinya. Diam-diam Bisma tersenyum, rupanya tanpa sadar, Bila memeluk dirinya, sementara Razik sendiri sudah berganti posisi menjadi di pinggir, sepertinya semalam Bisma bergeser, hingga mengganti posisinya tanpa sengaja.
__ADS_1
Takut membuat Bila syok, ia kembali pura-pura terlelap. Suasana dingin karena hujan, membuat pelukan itu terasa menenangkan sejenak, walaupun ia menyadari setelah perempuan itu membuka mata, pasti akan hilang kehangatan itu, bahkan mungkin berubah amukan. Biarlah pria itu menikmati kedamaiannya sejenak begitu saja.