
Mobil Bisma berhenti tanpa hambatan di depan pekarangannya selepas ashar. Mereka berdua turun, sementara Razik masih tidur di jok belakang.
"Razik biar sama aku ya, malam ini menginap di rumahku, besok aku balikin ke kamu," pintanya menyakinkan mantan istrinya. Bila terlihat resah.
"Jangan khawatir Bila, nanti kalau rewel kamu pasti denger, 'kan kamar kita jaraknya tidak terlalu jauh, walau beda rumah. Suara kamu kalau manggil Bik Lastri aja suka kedengeran dari kamar aku," ucapnya jujur.
"Razik tuh suka kebangun malamnya, nanti pasti dia cariin aku?" terlihat Ibu dari satu anak itu gundah gulana. Bisma tersenyum lembut untuk membuat perempuan yang masih sangat ia cintai itu tenang.
"Bagaimana caranya aku dekat, Bila, kalau aku tidak ada banyak kesempatan bersama, sementara kita sudah tidak tinggal seatap," ucap pria itu meminta pendapat.
"Ya sudah semalam saja, nanti kalau rewel balikin lagi ke yang punya."
"Kan yang punya Razik kita berdua, Bila, aku ayahnya dan kamu ibunya, jadi ... kita berdua orang tua Razik."
"Iya, iya paham, nggak usah dijelasin juga, ya udah aku pulang dulu," pamitnya berlalu, lebih dulu mendekat ke Razik dan mendaratkan kecupan sayang pada bocah yang masih anteng itu dengan perasaan agak berat.
"Titip Razik ya," pamitnya sebelum akhirnya beranjak jauh meninggalkan pekarangan rumah tetangganya.
Bila pulang tanpa Razik rasanya begitu kosong. Ah ... terbiasa ada anak itu membuat rasa perempuan itu ada yang hilang dan terasa sepi. Setiap malam akan membuatkan susu dan malam ini tentu saja tidak, kegiatan itu Bisma yang akan mengerjakan.
"Kira-kira Razik lagi apa ya, rewel nggak ya, tadi 'kan aku tinggal pas lagi tidur," gumam Bila mondar-mandir di kamarnya. Perempuan itu baru selesai menjalankan sholat isya, menatap jam di tangannya yang masih menunjuk di angka setengah delapan.
Suara ketukan pintu membuat perempuan yang tengah galau itu menoleh.
__ADS_1
"Maaf, Non Bila, ditunggu Ibu sama Bapak makan malam," ujar Lastri menginterupsi.
"Iya, Mbak, sebentar lagi saya turun," jawabnya bangkit dari sana.
Bila makan dengan hati tak tenang. Ia tiba-tiba ingat Razik apakah bocah kecil itu udah makan atau belum. Lekas perempuan itu bangkit dari ruang makan.
"Mau kemana Bil?" tanya Bu Rima melihat pergerakan Bila meninggalkan meja makan.
"Sebentar Bun, mau siapin bekal buat Razik, siapa tahu malam ini dia belum makan, kasihan," ujar perempuan itu cemas.
Bila mengambil wadah dalam rak, segera mengisi nasi, lengkap dengan sayur lauk dari wadah yang terpisah. Bila mengemasnya dan menitip pada Mbak Lastri untuk mengantar ke tetangga sebelah.
"Non, ini buat Den Razik apa Den Bisma ya, kok banyak amat," ujarnya menyorot isi bekal tersebut.
"Buat Raziklah, tapi kalau ayahnya mau ya boleh juga dibagi," jawab Bila santai.
"Cepetan Mbak, kasihnya, anak saya nanti lapar," ujar perempuan itu kembali ke ruang makan. Bergabung kembali sama kedua orang tuanya.
"Udah Bil," tanya Bu Rima tersenyum. Entah perhatian itu ditunjukan pada Razik, namun ia merasa senang saja kalau antara putrinya dan Bisma tetap berkomunikasi baik. Apalagi mengetahui sedari pagi mereka baru saja menghabiskan waktu bersama, Bu Rima berharap mereka selalu dinaungi rasa bahagia.
Usai makan malam, Bila langsung kembali ke kamar. Perempuan itu merasa tidak ada kegiatan yang berarti, duduk di meja belajar sembari membuka laptopnya. Menulis dan membaca adalah salah satu hobby Bila saat-saat sepi mulai menyapa. Kalau biasanya ada bocah kecil yang ngrecokin, atau bergelut manjah bin rusuh, malam ini tidak ada hambatan yang berarti. Terasa begitu tenang dan sunyi. Perempuan itu mulai sibuk merangkai kata indah menjadi sebuah kalimat, hingga membentuk paragraf yang pas nan bermakna.
Tanpa sadar Bila sudah menghabiskan waktu berjam-jam. Tenggelam dalam dunia maya memang kadang membuat orang betah untuk berlama-lama. Menilik jam yang ternyata sudah di angka sebelas lewat. Perempuan itu lekas bangkit, mengendurkan otot-ototnya yang terasa kaku.
__ADS_1
Beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, lalu bersiap untuk tidur. Matanya nyalang menatap langit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh, seperti ada yang hilang dalam dirinya. Kasur itu terasa cukup longgar. Perempuan itu berguling ke kanan dan ke kiri untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Tempatnya nyaman, namun hatinya yang gundah gulana. Hati dan pikiranya tiba-tiba terusik dan terngiang putranya.
"Astaghfirullah ... kenapa aku nggak bisa tidur, Razik ... baru semalam aku tidak bersamamu, aku sudah tidak tenang begini." Perempuan itu duduk menenangkan diri dengan istighfar banyak-banyak.
Menyambar hijab instan dan segera melangkah. Perempuan itu keluar menuju balkon, mencuri dengar kalau-kalau Razik ewel dan Bisma akan kerepotan lalu menyerah dan mengembalikan pada dirinya. Cukup lama Bila termenung di sana.
Sementara Bisma sendiri, sedari sore mendadak sibuk. Walaupun capek seharian, namun rasa itu tak terasa karena hatinya diselimuti bahagia. Tidurnya yang sudah berhari-hati kesepian, kini akan ada anak kecil yang siap didekaonya, pria itu tersenyum sembari mengingat serentatan wejangan yang diberikan mantan istrinya mengenai aturan Razik.
Pria itu hendak membuat susu ketika bel rumahnya berbunyi. Bisma lekas menyambut siapa gerangankah tamu mereka malam-malam begini. Ternyata seseorang di depan pintu adalah asisten rumah tangga mantan istrinya yang mengantarkan makanan atas suruhan perempuan itu.
Bisma menggumamkan terima kasih dengan senyum terkembang menerima bekal itu. Segera membukanya dan ternyata isinya banyak. Kebetulan memang pria itu belum makan malam, baru mau delivery makanan sambil membuat susu untuk putranya.
"Wih ... enak nih, makan gratis," seru Pandu mendekat.
"Jangan disentuh, itu buat Razik dan ayahnya, paham!"
"Ish ... pelit amad, bagi dikitlah ...." Pandu menyela, saat tangannya terulur hendak mencicipi, Bisma langsung menepisnya.
"Nggak boleh Pandu, ini tuh spesial Bila yang nyiapin untuk kita berdua, aku dan Razik, jadi kamu nggak kebagian, beli sana makanan!" Bisma langsung membawa bekalnya ke kamar dan bersiap menyuapi bocah kecil yang sibuk antusias mencoret coret kertas kosong, seraya aktif meneliti barang-barang di sana.
"Sayang, maem dulu terus boleh main lagi, minum susu, gosok gigi dan tidur ..." ujarnya mengingat detail kata-katanya mantan istrinya memberi mandat.
Razik sibuk bermain, ayahnya sibuk menyuapi dengan telaten. Setelahnya dirinya yang mengisi perut dengan perasaan menghangat. Padahal bekal itu terkhusus untuk Razik, namun bolehkah ia ge er ketika Lastri berucap 'boleh bagi kalau ayahnya mau' perempuan itu sengaja melebihkan makanan itu karena untuk dirinya.
__ADS_1
Ah ... perhatian kecil saja membuat pria itu bahagia tak terkira. Malam semakin larut, pria itu belum mengantuk. Setelah menemani putranya tertidur, ia lantas membuka galeri ponselnya. Sudut bibirnya melengkung begitu saja ketika menemukan gambar-gambar mereka bertiga di sana. Di mana Bila dan Razik terlihat begitu bahagia. Senyum itu lepas tanpa beban di wajah mantan istrinya. Senyum yang selalu membuat hatinya bergetar, setelah sekian lama tak pernah ia temukan.
"Belum tidur?" suara itu mampir ke telinga wanita cantik yang tengah menatap langit malam yang cukup terang bintang. Perempuan itu menoleh, menemukan mantan suaminya tengah berdiri di balkon kamarnya menatap lurus ke atas. Sama, tengah menatap langit juga.