
"Astaga! Bim, kalian? Tidak ngantor katanya izin jalan-jalan, kenapa di rumah?" Pandu memergoki mereka yang baru saja keluar dari kamar. Tatapannya memindai sejoli itu penuh selidik.
"Razik mana?" tanyanya meneliti sekitar.
"Ada di rumah mama, kenapa?" Bisma menuntun Bila yang berjalan di sebelahnya. Perempuan itu menunduk malu karena ada Pandu.
"Jiahh ... dasar pengantin baru tak ada malam siang pun jadi," celetuk pria itu geleng-geleng kepala.
"Berisik lo, mulai sekarang jangan masuk kamar gue sembarangan, ada istri gue," ujarnya memperingatkan.
"Hmm ...." jawab Pandu melirik perempuan itu yang sejak kedatangannya tidak pernah sekalipun menatapnya.
"Sayang, jangan dengerin mulutnya Pandu ya, dia suka nyeltuk sembarangan," pesannya sungguh-sungguh.
"Iya Mas," jawabnya tersenyum.
"Kalian mau ke mana? Nggak usah nurut-nurut amat sama Bisma Bil, kamu tambah cantik kalau jutek," ujarnya genit.
"Astaghfirullah ... sayang ayo ah, ajaran sesat nggak boleh di dengerin." Mereka berjalan beriringan.
Bisma membukakan pintu mobil untuk istrinya, pria itu mempersilahkan istrinya mauk dengan hati-hati.
"Astaghfirullah ... Mas, ponsel aku ketinggalan, aku ambil sebentar ya?"
"Kamu tunggu sini aja sayang, biar Mas yang yang ambil." Mana mungkin Bisma tega, untuk berjalan saja perempuan itu pelan-pelan. Maklum lah sedikit khilaf karena beberapa tahun akhirnya bisa menyentuhnya kembali. Sekali ada kesempatan hajar terus berkali-kali, pantas saja Bila mengeluh capek.
Bisma berbalik, kembali ke kamarnya mengambil ponsel Bila. Setelah beberapa menit berlalu tidak menemukan, akhirnya Bisma memancing dengan menghubunginya. Sekilas pandang, banyaknya pesan di pop yang masuk terlihat jelas. Termasuk panggilan dari Alan.
Bisma dan Bila tidak menonaktifkan ponselnya, hanya mengurangi volume nada deringnya saja.
"Ini ponselnya sayang." Bisma menaruh di pangkuannya.
__ADS_1
"Makasih," jawabnya lirih.
"Kamu kenapa, masih ngantuk? Duh ... sampai lemes gitu, maaf ya?" Membelai kasihan. Ada rasa bangga sekaligus rasa bersalah karena membuat wanitanya tak berdaya. Haha
"Nggak Mas, aku hanya merasa sedikit lelah," jawabnya jujur.
"Iya deh, nanti aku tanggung jawab mijitin, senyum dong." Bila menampakkan deretan gigi-gigi putihnya.
Tepat di rumah ibunya Bisma, pas kumandang maghrib. Mereka langsung disambut sumringah oleh keluarga.
"Ma, Razik mana?" todong Bila begitu sampai sana, meninggalkan dari pagi terasa begitu lama.
"Ada kok di dalam, sama Mbok Nah."
"Seharian rewel nggak ya Ma, maaf jadi ngrepotin mama," ujarnya sungkan.
"Nggak rewel, anak pinter gitu kok, lagian Mama jadi seneng rumah ramai."
"Ya nggak pa-pa tinggal di sini terus juga Mama seneng." Seketika Bila menjadi lega.
"Ya udah tinggal sholat bentar Ma, aku langsung ke kamar ya?"
"Bila, kamu sakit? Jalan kamu kenapa, kaki kamu sakit?" Rupanya mertunya cukup teliti meniliknya. Padahal Bila sudah berusaha berjalan se normal mungkin tetapi yang namanya naluriah tetap terlihat aneh.
"Mmm ... nggak Ma, ini tadi ... aku ...." Bila bingung sendiri.
"Ulah Bisma Ma, jangan ditanya-tanya kasihan sampai merah gitu mukanya."
"Aww ... sayang, kok nyubit sih!" Pria itu malah mengaduh dan melapor pada mertuanya, membuat sepasang bola mata indah itu mendelik kesal.
"Owh ... Bisma nakal juga, yang sabar ya pengantin baru," ujar Bu Mita senyum-senyum. Sepertinya langsung menangkap maksud dari jawaban itu.
__ADS_1
"Maaf ya, beneran masih sakit?" tanya Bisma setelah mereka sampai di kamarnya.
"Nggak! Udah nggak usah ditanya-tanya," kesal perempuan itu sekaligus membuang muka.
"Masya Allah ... enggak gitu sayang, aku cuma mastiin." Bisma langsung memeluk perempuan yang tengah mrengut itu dari belakang. Menciumi tengkuknya dengan gemas.
"Mas jangan gitu, kita 'kan mau sholat," tegur Bila merasa tidak nyaman. Saat pria itu mencuri satu hisapan di lehernya.
"Iya sayang, cuma nyicip sedikit, sepertinya aku sudah candu, jadi harap maklum kalau aku bentar-bentar menginginkan itu," ujarnya jujur.
"Aku tempat ibadah bagi kamu, Mas, datangi saja bila kamu menginginkan," jawab Bila bijak.
"Terima kasih sayang, kamu sangat pengertian, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu setiap hari, kalau kamu manis dan nikmat gini."
"Ngegombalnya udah, buruan ambil wudhu," tegurnya lagi.
"Siap boskuh!" Pria itu melesat setelah mencuri satu kecupan di bibir mungil itu.
"Ish ... dasar ayahnya Razik," gumam Bila gemas sendiri.
Usai berjamaah dilanjutkan makan malam bersama. Razik dalam pangkuan ayahnya, dengan telaten pria itu menyuapi putranya yang ngrecokin isi piring Bisma.
"Sayang, sini sama Bunda, biar ayah makan dulu, kasihan." Bila hendak mengambil dalam pangkuan ayahnya, namun bocah kecil itu merengek malas.
"Biarin aja sayang, tolong ambilin lagi buat aku," pintanya.
Bila lekas mengisi piring yang lainnya untuk suaminya. Bahkan perempuan itu menyuapi pria dewasa itu karena permintaannya.
Padahal di meja makan ada mama sama papa, tetapi Bisma cuek aja, umurnya sudah di angka dua puluh delapan, namun saat bahagia bisa menjadi konyol seperti sekarang.
Beberapa menit ke depan. Isi piring itu ludes, semua beralih ke perut suaminya.
__ADS_1
"Makasih sayang, besok lagi ya?" selorohnya mengerling. Bila hanya membalas dengan senyuman.