Noktah Merah

Noktah Merah
Part 78


__ADS_3

"Maksud Bila apa ya? Memangnya adiknya kak Gema ada selain Bisma?" gumam Alan bertanya-tanya. Sepanjang hari diliputi rasa kepikiran yang amad nyata. Bahkan pria itu sampai menelepon Bisma berkali-kali untuk mengikis rasa penasaran itu, sayangnya yang ditelepon terlalu sibuk dan tidak menyahut.


Sementara Alan dengan rasa penasarannya, Bila malah tidak ambil pusing bahwa dirinya baru saja membuat syok anak orang. Perempuan itu setelahnya menjemput Razik dan memutuskan untuk mengajak jalan putranya.


"Nda, ayah nggak ikut?" tanya bocah itu polos.


"Ayah masih kerja sayang, nggak bisa ikut, lain kali jalan sama ayahnya ya?" Bila mencoba memberi pengertian putranya. Sementara Razik hanya mengangguk tanpa memikirkan lagi, apalagi setelah bertemu dengan area permainan.


Puas dari time zone, Bila dan putra semata wayangnya menyempatkan mampir ke salah satu food court yang ada di sekitar untuk mengisi perut mereka yang sudah memprotes sedari tadi. Perempuan berhijab itu nampak telaten menyuapi Razik di setiap kesempatan.


Hingga menjelang sore hari, Bila memutuskan pulang ke rumah. Mbok Inah belum pulang sewaktu Bila kembali, perempuan yang berkisar umur bundanya itu langsung menyambut majikannya begitu sampai rumah.


"Mbok Inah belum pulang?" tanya Bila yang sudah masuk ke rumah. Melepas sepatu Razik dan membiarkan bocah itu menguasai rumahnya dengan tingkah polahnya.


"Belum Non, sebentar lagi pulang, ada yang mau Non Bila perlukan kah?"


"Nggak ada sih Mbok, cuma aku senang dan merasa lega simbok masih belum pulang, soalnya aya suka takut sendirian."


Hingga menjelang pukul lima sore Mbok Inah pamit pulang ke rumah karena merasa sudah selesai. Bila mengiyakan dan rencananya akan main ke rumah bunda saja sambil nunggu suaminya pulang. Sayang sekali Razik tertidur dan perempuan itu tidak mungkin memindahnya. Satu-satunya jalan ya mengurung dirinya di kamar sampai suaminya pulang ke rumah.

__ADS_1


Bakda maghrib Bisma belum kelihatan batang hidungnya. Bila mulai jengkel dengan keadaan ditambah panggilan darinya beberapa kali Bisma abaikan. Perempuan itu benar-benar kesal.


"Suamiku ke mana sih, nggak jelas banget," gerutu Bila mrngomel sendiri. Hatinya resah gelisah dan kesal. Padahal jelas, pria itu dalam urusan kerja.


Vibrasi telepon yang berbunyi mencuri atensi perempuan itu yang tengah manyun di kamarnya dengan rasa sepi.


"Assalamu'alaikum sayang, tadi telepon aku?" Suara lelah nampak jelas terekam dari indera pendengarnya.


"Waalaikumsalam ... Mas, kapan pulang?" semburnya begitu benda pipih itu terhubung.


"Udah kangen ya, maaf ya membuat kamu menunggu, ini udah mau pulang kok, tadi baru selesai sholat takut macet di jalan nggak keburu. Tunggu aku ya? Mau dibawain oleh-oleh apa?"


"Nggak usah, aku sama Razik juga baru aja banyak jajan di luar, kamu cepetan pulang, jangan mampir ke mana-mana pokoknya langsung ke rumah." Terdengar rengekan manja dan tidak sabaran, membuat Bisma yang masih di kantor tersenyum geli dan merasa berbeda. Tumben-tumbenan sekali istrinya tidak sabaran terhadapnya. Ia pun tersenyum sendiri.


"Ini sudah mau pulang Yos, kamu lembur?"


"Masih ada sketsa grafis yang belum selesai Pak, mungkin bisa jadi lembur," jawabnya santai.


"Tim kamu lembur semua, sholat dulu Yos, nanti sambung lagi," titah pria itu mengingatkan.

__ADS_1


"Siap Pak, Bapak sudah mau pulang ya?"


"Iya saya duluan Yos, eh Pandu udah pulang ya?"


"Baru keluar lima menit yang lalu Pak, mungkin baru sampai di parkiran," jawab Yosi menginfokan.


Benar saja Bisma terjebak macet saat pulang, untung pria itu sudah sholat terlebih dahulu sesuai prediksinya. Ia melirik jam digital di mobilnya menunjuk angka tujuh lewat, istrinya pasti sudah tidak sabar menunggu dirinya pulang.


Terang saja saat ini Bila gelisah, ia lebih memilih di kamar dan mengurung putranya di sana.


"Nda haus ... minum," rengek Razik yang mulai bosen menghuni kamar semenjak sore tadi. Anak seumur Razik tentu tidak suka dibatasi ruang geraknya.


"Iya, bentar Bunda buatin susu," jawab Bila melangkah ragu. Berharap saudara suaminya itu juga belum pulang. Sebenarnya Bila juga perlu memasak untuk makan malam, dirinya juga merasa lapar.


"Razik, ikut Bunda ke bawah, Bunda mau siapin makanan buat ayah, ayo sayang," ajak perempuan itu menuntun anaknya. Walaupun masih terlalu kecil dan belum mengerti namun Bila merasa lebih aman jika anaknya di dekatnya saja.


Bila tengah sibuk di dapur setelah membuat susu untuk Razik. Perempuan itu tengah menggoreng lauk dan memanasi sayur yang sore tadi Mbok Inah masak.


Mata kecil Razik berbinar senang begitu mendapati sosok pria yang tengah berjalan masuk sedikit mengendap. Ia hampir menjerit, namun pria itu menaruh telunjuk di bibirnya sendiri, bocah kecil itu mengangguk ngerti dan menyingkir setelah menerima coklat dairy milk darinya.

__ADS_1


"Razik, jangan jauh-jauh ya mainnya, dekat ruang tengah aja depan TV sambil nunggu ayah," seru perempuan itu fokus pada kompornya.


"Aaakkhh!!"


__ADS_2