
"Ini beneran kamu sayang, Ayah rindu," ucapnya sendu, pria itu menciumi pipi bocah itu secara bertubi. Razik yang merasa asing, malah ketakutan melihat Bisma yang tidak bisa mengontrol diri. Anak itu menangis ketakutan dan berhambur ke arah Bila.
"Sayang, jangan takut ... 'kan ada Bunda." Bila menenangkan putranya. Sementara Bisma sendiri masih terdiam resah, sakit, dan kecewa pastinya. Anak yang begitu ia rindukan, bahkan tidak mengenal sosok dirinya. Hanya air mata yang mewakili kesedihannya saat ini.
"Mari silahkan duduk." Suara Bu Rima mempersilahkan tamunya. Mereka berdua, Ustadz Zaki dan Nadia berbincang hangat dengan keluarga Bila.
"Cup cup cup ... sayang, jangan nangis terus, ini di rumah oma, Razik 'kan anak pintar." Bila masih berusaha menenangkan putranya yang tidak mau berinteraksi dengan Bisma.
"Aku tahu kamu rindu sama Razik, tapi tolong jangan dipaksa dulu, dia belum terbiasa," keluhnya lelah menyorot Bisma yang terus mengekor istri dan anak itu.
"Aku hanya ingin dekat, Bil. Tolong beri tahu Razik, kalau aku ayahnya, apa kamu tidak pernah mengenalkan aku sedikit pun lewat gambar diriku," ucapnya setengah frustasi. Bila melirik sengit suaminya. Perempuan itu mendes@h lelah.
"Mbak Lastri, tolong siapkan kamar Mbak, Razik sepertinya butuh istirahat," pintanya dengan menggendong putranya. Razik sedikit terkantuk setelah menangis. Bila yang sedikit kerepotan spontan mengundang perhatian sekitar.
"Bila, biar aku bantu," seru Ustadz Zaki langsung menghentikan langkah Bisma yang sudah bersiap membantu. Bila yang menyadari situasi tidak kondusif pun langsung menolak keduanya.
"Terima kasih, Ustadz. Saya kuat, aman. Silahkan diminum tehnya, saya tinggal sebentar menidurkan Razik," pamitnya menuju kamar.
"Lho, Mbak Lastri? Kamar ini siapa yang nempatin?" tanya Bila sedikit bingung, begitu masuk mendapati banyak barang di sana.
"Den Bisma, Non. Walaupun Non Bila tidak ada, Den Bisma sering menginap di sini," jelas Lastri lugas.
"Ish ... kamu gimana sih, suruh siapin kamar juga, yang lain dong," gerutunya sedikit kesal. Namun, karena sudah pegal menggendong dari lantai bawah menuju kamarnya dulu, alhasil walau kesal Bila membaringkan Razik di sana.
Bisma hanya mampu terdiam mendengarkan semua celotehan Bila. Sedikit kesal, namun masih canggung untuk menegurnya setelah sekian lama baru bertemu. Perempuan itu meninggalkan kamar, dan membiarkan Razik terlelap di sana. Bisma terdiam menatap keduanya bergantian.
"Bila, kita perlu bicara," pinta Bisma lirih.
"Hmm, nanti saja, aku tidak enak meninggalkan tamuku," pamitnya ketus, meninggalkan Bisma di kamar bersama Razik yang terlelap.
__ADS_1
"Sudah tidur, Bil?"
"Sudah, Bun, baru saja, Razik sedikit kurang sehat, mungkin dia kecapean juga," jawab Bila seraya mengambil duduk di antara mereka.
"Mbak, yang tadi itu siapa? ayahnya Razik?" tanya Nadia kepo. Nabila tersenyum sembari mengangguk.
"Iya, Dek Nadia, itu ayahnya Razik, suaminya Bila," jelas Bu Rima cukup gamblang.
"Mantan maksudnya ya, Bu?" tanya Nadia lagi. Bu Rima tersenyum.
"Alhamdulillah ... bukan, Dek, ayah Razik dan menantu Ibu. Eh ... ayo silahkan diminum, dicicipi kuenya." Bu Rima melirik putrinya penuh tanda tanya. Sementara Bila hanya mampu terdiam dan menunduk.
"Maaf, Bu, berhubung sudah waktu maghrib, kami pamit pulang dulu," pamit Ustadz Zaki.
"Sholat di sini aja Ustadz, sekalian makan malam dulu, sebagai tanda ucapan terima kasih sudah mengantar Bila dan cucu saya ke sini," pinta Ayah tiba-tiba.
Merasa tak enak menolak, Ustadz Zaki akhirnya mengiyakan. Pak Rama dan Ustadz Zaki menuju masjid terdekat, sementara Bisma baru menyusul beberapa menit setelah mereka lebih dulu berangkat.
"Mbak Bila, besok-besok, Nadia boleh main ke sini 'kan kalau kangen sama Razik," ujarnya seraya membantu menyiapkan piring.
"Boleh dong, Nad. Main saja, aku di rumah, 'kan kerjaan aku rumahan."
"Mbak Bila keren deh, aku baru mau baca karya kakak seri keduanya loh," pujinya mengacungkan jempol. Bila hanya tersenyum menimpali.
Selain sibuk mengurus anak dan belajar di pondok, rupanya wanita itu juga sibuk menuangkan aksara kalimat ke dalam cerita indah. Bila yang bernasib luar biasa, menjadikan semua kisahnya dalam buku. Di sudut malah sendirinya, Bila menuangkan ke dalam cerita-cerita. Dua novel yang cukup terkenal dan sudah dirilis dalam cetakan, namun tidak ada yang tahu ternyata penulisnya seorang Nabila Maharani yang keras dan sempat putus asa.
"Masih belajar, Nad," jawabnya dengan tangan sibuk memindai lauk pauk.
"Mbak Lastri, tolong panggil Bunda, sepertinya Bunda lihat Razik di kamar."
__ADS_1
"Siap, Non." Lastri bergegas segera menuju kamar majikannya.
"Buk, dipanggil Non Bila."
"Iya, Mbak. Kamu tolong jagain Razik sebentar ya, takutnya nanti kebangun bingung nggak ada orang."
"Siap, Buk."
Satu keluarga sudah menempati ruang makan. Mereka duduk berjejer sesuai kursi yang tersedia. Bunyi dentingan sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring nampak meramaikan acara makan malam mereka. Suasana hangat nan bahagia begitu jelas tergambar di wajah Bu Rima dan Pak Rama, malam ini seperti mimpi mereka bisa kumpul lagi setelah kian lama hanya menjadi angan yang tak berujung.
Namun, tentu saja berbeda dengan perasaan Bila yang nampak abu-abu, berkali-kali perempuan itu memaksa tersenyum walau hatinya enggan. Hal yang sama dirasakan Bisma, terlalu fokus dengan pikirannya, pria itu hanya mengaduk-aduk nasinya sesekali menyuap tanpa selera.
Usai makan malam yang sukses membuat Bila bungkam, Ustadz Zaki dan Nadia pamit undur diri. Mereka menitip salam pada Razik, yang tidak muncul pada acara makan malam itu, mungkin masih tertidur.
"Terima kasih Ustadz, sekali lagi mohon maaf jadi merepotkan," sungkan Pak Rama dan Bu Rima. Kala mengantar kepulangan mereka sampai teras depan. Bila nampak tersenyum dengan anggukan. Cipika-cipiki dengan Nadia, dan mengucap salam pada seseorang yang telah mengantarkannya.
"Pamit dulu, Bu, Pak, Bila, kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi saja saya, saya pasti akan merindukan Razik," pamitnya dengan senyum kalem. Bila hanya tersenyum menimpali dengan anggukan.
Sementara Bisma sendiri, masih belum mengerti dibalik begitu care-nya pemilik pesantren itu sampai repot-repot mau mengantar istri dan anaknya. Tentu saja hal itu membuat laki-laki dua puluh tujuh tahun itu menaruh cemburu.
Bila baru saja hendak melangkah sebelum akhirnya suara Ayah menyeru. Perempuan itu berbalik dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Iya, Ayah, kenapa?"
"Sepertinya kamu butuh mengobrol banyak dengan suamimu, Bila, kasihan dia, sangat merindukan Razik, setiap dikesempatan, Ayah lihat, Bisma selalu menangis dalam sujudnya. Tolong, Nak, lembutlah sedikit, biarkan malam ini dia tidur denganmu dan Razik, jangan usir dia dari kamar." Rupanya Pak Rama cukup jeli, memergoki Lastri yang hendak merapihkan kamar tamu.
Bila tidak menimpali, perempuan itu hanya terdiam lalu meninggalkan ruangan itu.
"Bila ke kamar dulu Bun, Bunda istirahatlah," pamitnya lalu.
__ADS_1
Kaku, bingung, merasa aneh saat tiba-tiba di kamar ada seorang pria. Walaupun berstatus sebagai suaminya semua terasa begitu membingungkan.