Noktah Merah

Noktah Merah
Part 79


__ADS_3

Perempuan itu menjerit tertahan saat sebuah tangan kekar melingkar indah di pinggangnya tanpa permisi. Ia nyaris melompat sebelum akhirnya menyadari suaminya yang terkekeh pelan seraya mendekapnya dari balik punggungnya.


"Ya ampun sayang, maaf surprise aku membuatmu begitu kaget," sesalnya nyengir tanpa dosa. Pria itu mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya pada kitchen counter lengkap dengan kekehan pelan darinya.


"Jahat banget sih Mas, kalau aku jantungan gimana?" sembur Bila tak terima, tangannya memukul-mukul gemas dad@ bidang suaminya. Pria itu membiarkan saja dengan sorot lembut dan penuh cinta.


"Nggak usah senyum-senyum, pokoknya aku marah." Perempuan itu manyun bin mrengut.


Bisma bukannya marah malah mengikis jarak, berdiri di antara sela pahanya dan menangkup kedua pipi istrinya yang dalam mode ngambek.


"Udah sembuh belum?" bisiknya nakal tepat di balik hijabnya. Perempuan itu menggeleng sebagai jawaban.


"Lama banget sih, kangen ...." rengeknya langsung merapatkan tubuh mereka.


"Perasaan ketemu dan nempel setiap ada kesempatan, kangen dari mananya?" tanya Bila pura-pura tidak mengerti. Pria itu menyorotnya lekat, kedua tangannya merem@s lembut bagian bawah belakang tubuh istrinya. Membuat ia melotot dengan gelengan.


"Mas, jangan ada Razik," peringatnya saat pria itu hendak meraih bibirnya.


"Kamar yuk?" ajaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hah! Ngapain? Razik gimana?"


"Temenin sayang," ujarnya seraya menurunkan perempuan itu dari meja konter dapur.


"Mandi Mas," titahnya lembut.


"Mandiin," jawab pria itu mengerling.


"Besok deh kalau aku udah tuntas, nanti kamu khilaf bahaya, lahannya masih belum siap."


"Lama ya, gimana ngeredainnya. Jauh kangen, dekat gini amad, apa aku kuat," keluhnya mendrama.

__ADS_1


"Apaan sih Mas, tiga tahun juga fine-fine aja, kenapa sekarang jadi tidak sabaran."


"Beda sayang, kemarin 'kan masih disegel sekarang udah dibuka secara suka rela, siapa yang bisa tahan tidak mengolahnya," ucapnya gemas sendiri.


"Kamu ngomong apa sih Mas, aku nggak ngerti." Perempuan itu pura-pura tak paham. Bau menyengat terasa menusuk indera penciumannya. Spontan kepalanya memutar mencari sumber asal.


"Astaghfirullahalazim ... ayam aku gosong," keluhnya lemas sembari menepuk jidat. "Kamu sih Mas, nakal!" tuduhnya memberengut. Bisma ikut menilik isi penggorengan yang masih mengepul asap panas di atasnya.


"Ya sory, aku mana ngeh kalau kamu lagi goreng."


"Ish ... gimana dong, lauk pakai apa malam ini."


"Nggak pa-pa makan di luar aja gimana?"


"Udah terlalu malam, delivery aja Mas, aku lagi malas keluar, seharian ini aku dan Razik sudah banyak menghabiskan waktu di luar rumah." Bisma akhirnya mengiyakan.


Mereka meninggalkan lantai dasar dengan Razik dalam gendongan ayahnya.


"Ihk ... curang, cuma Razik yang dikasih coklat," protesnya seraya melangkah beriringan.


"Curiga nih aku." Matanya melirik penuh waspada.


"Kenapa?" tanyanya memicing.


"Kamu meresahkan Mas," jawab perempuan itu berlalu menuju kamar mandi.


Bisma segera menurunkan Razik dari gendongan, dan melepas dasi serta kancing kemejanya. Menyusul istrinya yang sudah bisa diprediksi tengah menyiapkan air hangat untuknya. Istrinya itu memang paling pengertian.


Plakk!!


Satu tepukan gemas mendarat di bok*ng istrinya yang masih sibuk mengatur suhu air panas. Perempuan itu sampai terjingkat resah tak karuan.

__ADS_1


"Mas!" tegurnya sebal. Menekuk wajahnya yang ceria dengan istighfar panjang. Bisma hanya terkekeh tanpa dosa.


"Dasar mesum!" grundelnya mengomel.


"Kenapa? Mesumin istrinya 'kan pahala, apanya yang salah," sanggahnya santai.


"Iya, tetapi tangan kamu itu rusuh dan meresahkan, nggak suka pokoknya."


"Nggak boleh gitu, nanti nyesel tetiba aku anggurin."


"Udah Mas, mandi!" Bila sedikit mendorong tubuh kekarnya yang sudah terekspos nyata.


"Ikut ya Dek." Tangannya dicekal Bisma dan menahannya.


"Mas, lepasin aku udah mandi," rengeknya resah.


"Bentar, kasih vitamin dikitiiit, aja!" mohonnya memanjangkan kata. Belum sempat Bila beranjak, Bisma sudah menarik dan mengunci tubuhnya di dinding kamar mandi.


"Mas, nggak boleh!" Bila menggeleng resah.


"Kata siapa, aku cuma cium doang, takut banget aku buka." Tangannya tergerak membuka hijab yang Bila kenakan, namun perempuan itu segera menahannya.


"Mau bikin satu bintang adek sayang, di sini." Tunjuk pria itu di atas dadanya. "Hehe."


Tak lagi menyahut, pria itu langsung menyambar bibir istrinya dengan penuh kelembutan, dalam, dan memabukkan. Perlahan turun menyusuri leher jenjangnya yang putih dan menggoda.


Ding dong!


Suara bel rumahnya mengusik telinga dua insan yang sedang berbelit indera perasa, spontan keduanya bergerak saling memberi jarak. Sejenak, masih saling menatap dengan napas yang memburu. Detik berikutnya sama-sama melempar tawa.


"Ada tamu Mas," ucapnya menyambar hijab yang teronggok tak bertuan.

__ADS_1


"Mungkin pesanan kita sudah sampai, biar aku aja yang ke bawah."


"Mas, kamu mandi aja, aku nggak pa-pa sekalian siapin," ujarnya merapikan hijab yang sedikit lusuh.


__ADS_2