Noktah Merah

Noktah Merah
Part 96


__ADS_3

"Mbok Inah, nanti masak ya, aku mau ajak istriku pulang, kasihan masih capek kalau harus nyiapin buat makan malam," tutur Bisma dengan nada lega dan sumringah.


"Siap, Den," jawab Mbok Inah mengiyakan.


Mereka akan memulai hidup baru, sesuai keinginan Bila, hanya ada mereka bertiga dan anak-anaknya kelak. Owh indahnya dunia rumah tangga dengan hati saling menerima dan mencintai.


"Nanti kalau udah beres langsung pulang aja seperti biasanya nggak pa-pa, Mbok."


"Enggeh, Den."


Bisma meninggalkan rumahnya dengan langkah gontai, dan wajah semangat.


"Bim, seneng banget mesem-mesem terus, nanti giginya goyah," seloroh Bunda memergoki menantunya mode bahagia.


"Kan habis pulang liburan, Buk, jadi pasti full reaction."


"Ngomong apa kamu, Tri, ada-ada aja."


"La ya iya, Buk, kalau nggak percaya tanya langsung sama orangnya, Den Bisma tuh lagi jatuh cinta sama Non Bila, makanya hawanya seneng terus."


"Bagus dong kalau jatuh cinta sama istri sendiri."


"Insya Allah, Bun, Bisma selalu jatuh cinta sama anak Bunda. Bisma izin ke kamar dulu, Bun," pamitnya mlipir menuju kamar dengan langkah cepat, dua undakan tangga ia lompati sekaligus.


Pria itu membuka pintu kamarnya perlahan, menemukan istrinya masih tertidur dengan mendekap Razik dalam pelukan. Rupanya bocah kecil itu setelah puas bermain menyusul bundanya ke kamar, dan lihatlah anak itu mencuri start ayahnya yang inginnya menempel pada sang istri.


"Sayang ... bangun, pulang yuk!!" bisik Bisma tepat di belakang telinganya. Mengusak lembut tengkuk istrinya.

__ADS_1


"Hmm ... Mas, kamu usil banget jadi orang, aku capek," jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Duh ... suara kamu bikin susah move on," katanya seraya memindah Razik agar sedikit bergeser.


"Mas, jangan digituin anak aku, resek banget ya Allah, kasihan lagi tidur juga."


"Geser dikit ayang, biar aku muat. Hehe."


"Bener-bener nih Ayah, ngeselin." Pria itu mencium putranya terlebih dulu sebelum mendekap istrinya seperti anak kanguru.


"Kamu kok jadi manja gini sih, hmm ... kenapa? Perasaan sehat lho ya?"


"Lagi pengen bermanja-manja aja mumpung belum banyak yang ngrecokin, nanti datang anak-anak kita aku nggak kebagian manja lagi." Bila terkekeh pelan mendengar curhatan suaminya yang takut kesaing kasih sayang sama anaknya.


"Kamu lucu banget sih Mas, masa' gitu sama anak sendiri, yang benar saja. Kamu lucu, beneran kaya bocah."


"Pulang? Ke mana? Aku 'kan udah bilang mau di sini dulu, atau kalau nggak beliin rumah baru," ujar Bila mrengut.


"Kalau di sana udah nggak ada pria dewasanya selain aku, mau nggak? Biar kamu tetap dekat dengan bunda."


"Emangnya Pandu ke mana?" tanya perempuan itu menyorot serius.


"Kata Mbok Inah pindah, terus aku telpon anaknya mengiyakan, barang-barang pribadinya juga udah nggak ada di sana, jadi boleh dong kita pulang."


Bila nampak menimbang-nimbang, wajahnya menyiratkan kegalauan, seolah itu keputusan yang berat untuknya.


"Jangan bilang kamu nggak mau pulang," sergah Bisma menggeleng. "Please ... aku nggak nyaman juga kalau harus numpang di bunda kamu terus."

__ADS_1


"Mas, aku belum jawab kok udah berspekulasi kaya gitu."


"Habisnya kamu diem aja, kaya nggak semangat, mau ya?"


Bila akhirnya mengangguk pasrah, semoga Pandu beneran pindah dan nggak cuma sebentar untuk menghindarinya. Mungkin untuk penglihatan orang dianggap wajar, namun jelas bagi Bila yang ada riwayat tak mengenakan dalam hidupnya jelas takut menemukan pria model begitu.


"Alhamdulillah ... seneng aku dengernya."


***


Satu minggu kemudian, mereka tengah disibukkan dengan hari penting mereka, di mana semua berbahagia atas resepsi pernikahan Bisma dan Nabila. Acara pernikahan mereka digelar di salah satu hotel mewah yang ada di Jakarta. Ballroom hotel yang luas disulap menjadi tempat yang indah dengan dekorasi ala princess di mana peran utamanya Bisma dan Nabila.


Mulai dari kalangan pembisnis, rekan kerja, sesama klien dan yang berkecimpung di dunia TV turut diundang dalam acara ini. Para alumni dan juga sahabat mereka yang pernah seorganisasi di kampus. Semua menjadi saksi bahagia mereka.


"Berasa jadi artis aku, Mas," seloroh Bila menatap banyaknya tamu undangan yang hadir dan mendoakannya.


Mulai dari Disky pasangan paling fenomenal pada jamannya, Nadia dan Faro pengantin baru, ada Ustadz Zaky plus istri, dan keluarga lainnya, Sinta dengan suaminya yang nampak serasi, dan ... Hanum yang juga hadir tak sendiri. Ia terlihat menggandeng seseorang yang mungkin spesial juga.


"Ngomong-ngomong sepertinya ada yang belum datang, Mas, siapa ya?"


"Mungkin nanti sore, kamu kenapa cari siapa?" tanya Bisma sedikit merapikan gaun istrinya yang lumayan ribet.


"Selamat menempuh hidup baru adik tingkat, semoga keberkahan menaungi keluarga kalian. Menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Dikaruniai keturunan yang sholeh sholehah," ucap Rayyan yang datang dengan stylean senada dengan pasangannya.


"Aamiin ... makasih doanya, kak. Ngomong-ngomong sepertinya bakalan nyusul nih setelah aku. Hehe." Selorohnya tersenyum.


"Doakan saja tahun ini bisa nyusul, iya 'kan sayang?" Gadis berparas ayu itu mengangguk malu.

__ADS_1


__ADS_2