
Sudah membaca doa dengan khusuk.
"Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Tetapi kalau memang waktunya belum tepat, bisa gagal juga. Bisma menekan sabar untuk malam ini. Masih ada malam-malam lainnya, namun melihat istrinya yang begitu menggemaskan membuat pria itu gemas sendiri. Apalagi Razik tidak bisa diajak kompromi, bocah kecil itu bahkan tidak minat diajak tidur kembali.
"Mas, kamu nggak tidur?" tanya Bila menatap suaminya yang nampak galau.
"Nggak bisa, mana Razik malah asyik main lagi, duh ... ngenes banget sih nasibku," celetuknya. Bila tertawa geli melihat suaminya yang tidak bisa melakukan apa pun. Menekan sabar untuk malam ini.
"Kamu jangan gitu dong, Mas, masih ada hari esok, udah istirahat aja, kalau udah kebangun malam kaya gini Razik susah bobok lagi, biasanya aku tinggal tidur."
"Terus gimana nasib aku, yank," keluhnya memelas. Lagi-lagi Bila terkekeh geli melihat suaminya yang merengek kaya bocah.
"Duh ... kok malah kaya duo bocah, yang satu nggak mo tidur, yang satu minta ditidurin." Bila pening sendiri.
"Nda, ayah bobok cini?" tanya Razik polos.
"Iya, ayah udah boleh nginep di sini, makanya Razik bobo bareng ayah, jangan rewel ini sudah malam sayang. Mainannya buat besok ya?" Bila mencoba mengalihkan perhatian putranya agar mau tidur. Nihil, Razik masih betah melek.
Malam semakin merangkak, Bila yang sudah mengantuk terlelap begitu saja, sedang Bisma masih stay menjaga Razik yang masih asyik dengan kereta-keretaannya.
Akhirnya, lewat pukul satu dini hari bocah itu terlelap juga. Membenahi selimut untuk putranya dan beralih mendekati istrinya yang nampak pulas.
Razik udah aman, tetapi masalahnya sekarang istrinya yang terlelap damai. Niat hati ingin membangunkannya, namun ada rasa kasihan. Bisma pun menjadi gemas sendiri. Untuk menetralisir rasa rindu yang menggelora. Pria itu merapatkan diri dan memeluk dari belakang. Merasa tidak puas sama sekali, pria itu mencuri beberapa kecupan di bibirnya.
__ADS_1
Masih belum puas, namun apa daya lawannya sedang mode of. Alhasil pria itu memaksakan diri untuk terlelap. Biarlah malam ini begini saja, niat hati ingin membangunkan istrinya untuk jamaah sholat malam, bahkan dirinya yang tanpa sadar dibangunkan istrinya karena mendengar adzan subuh. Keduanya sama-sama kesiangan.
"Astaghfirullah ... ini beneran udah subuh?" tanyanya tergeragap.
"Iya, Mas, ayo bangun. Mau ke masjid atau sholat di rumah."
"Mau di rumah aja, sudah ada makmumnya. Lagian aku kesiangan, nggak enak banget," keluh pria itu berjalan cepat ke kamar mandi. Menyambar handuk yang tersampir pada gantungan.
Bila menunggu cukup lama, sampai akhirnya pria itu muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Mas keramas? Pantesan lama?"
"Kan mau sholat, Dek," jawabnya santai.
"Tetapi ... bukannya semalam kita nggak ngapa-ngapain ya?" tanya perempuan itu kikuk.
"Owh ... gitu ya ceritanya, dasar pria!" Bila geleng-geleng kepala.
"Normal sayang, ketika orang yang kita sayangi hadir di dalam mimpi. Tetapi nanti aku mau versi nyatanya. Tunggu ya, kubuat kamu susah berjalan!" ujarnya mengerling.
"Waduh ... bahaya dong, kok aku jadi ngeri."
"Becanda sayang, becanda ... udah siap?"
Mereka jamaah bersama, usai melaksanakan dua rakaat kewajibannya, Bila dan Bisma menyempatkan baca alquran sebentar.
__ADS_1
"Kalau pagi gini biasanya kamu ngapain?"
"Aku ... ngapain ya? Bikin minum, kalau Razik belum bangun aku stay di depan laptop, tetapi kalau bocah kecil itu bangun ya kamu tahu sendiri lah aktifnya Razik. Mandiin, siapin sarapannya, aku juga kemarin udah daftarin ke sekolah, jadi bakalan lebih repot."
"Masya Allah Istri solehahku ... mau dong kalau pagi ini buatin kopi buat aku," pintanya tersenyum.
"Mas mau kopi? Bentar, aku buatin dulu." Nabila lekas bangkit dan menuju dapur. Di sana sudah ada penghuni setia, Mbak Lastri.
"Pagi Non Bila," sapa Lastri cengengesan.
"Pagi Mbak, kenapa Mbak mukanya cengengesan gitu?"
"Ah, Non Bila, pakai pura-pura nggak tahu aja, berapa ronde Non, secara Den Bisma 'kan bertahun-tahun ditinggal?"
Bila yang tengah meneguk air putih sampai muncrat tak terarah. Perempuan itu membola mendengar pertanyaan majikannya.
"Tebakanku tepat sasaran ya Non, sampai kaget gitu. Hehe."
"Mbak Lastri apaan sih, kepo!" cetusnya seraya mengambil cangkir yang sudah terseduh kopi.
"Kopinya Mas?" Bila menaruh secangkir kopi di atas meja kerja.
"Makasih sayang, muka kamu kenapa?" Bisma menyorot istrinya yang bersemu merona. Pria itu mendekat, mengikis jarak hingga terasa rapat. Kedua tangan kekarnya melingkar indah di perutnya dengan mesra menciumi pipi kanan dari samping.
"Nggak ada, kamu mau sarapan apa?" jawabnya menahan geli, sebab pria itu menempel sempurna
__ADS_1
"Sarapan kamu!"