
Bisma yang tengah sibuk di kantor tidak tahu menahu istrinya dalam masalah di rumah. Pria itu masih asyik berkutat dengan sejumlah berkas yang masuk dari berbagai klien.
Perusahaan Advertising miliknya akhir-akhir ini memang tengah naik daun. Berbagai produk iklan perusahaan yang menawarkan jasa di tangannya sukses dan berkembang pesat. Tak hanya itu, agensi ini bekerjasama dengan asosiasi dan puluhan studio animasi, sekitar ratusan sutradara dan DoP dengan total lebih dari lima ratus projek bekerja sama dengannya. Sehingga tak jarang pria itu pulang terlambat bahkan lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Banyaknya klien yang dihadapi datang dari berbagai macam industri, mulai dari FMCG, CPG, IT, konstruksi, otomotif, fashion, hingga UMKM.
Kamil Production juga menghandle berbagai perusahaan internasional yang cukup terkenal. Sehingga tak jarang membuatnya cukup sibuk akhir-akhir ini.
Berbeda dengan yang lain, Kamil Production juga menyediakan service yang lebih luas, mulai dari pembuatan TVC, Webseries, Motion Graphic, Comic Marketing, KOL, Social Media Management dan brand activities lainnya.
Salah satu web yang terbaru adalah garapan milik istrinya 'Tajuk Rindu' yang sudah mulai berjalan penayangan dan syutingnya.
Hampir seluruh pelayanan komersial dapat dipenuhi oleh perusahaan muda ini. Konten digital marketing motion graphic yang sedang digunakan oleh banyak perusahaan juga menjadi salah satu yang paling dikuasai oleh agensi ini.
Tidak hanya itu, Kamil Production juga merangkul pasar entertain melalui pelayanannya membuat konten series, Music Video, komik dan sosmed (Youtube, Instagram dan Tiktok).
Sayangnya kesuksesan itu berbanding terbalik dengan kisah asmaranya yang cenderung miris dan jungkir balik. Dibalik tampangnya yang terkenal dingin dan pendiam itu menyimpan aura luka yang baru sembuh. Ya, luka itu baru saja terobati oleh cinta mereka yang terhalang oleh badai kesenjangan. Hingga akhirnya memilih kembali untuk menyatukan dua hati yang saling mencintai.
Beberapa hari ini senyum yang sempat menghilang dari raganya kembali hadir menyapa dunia. Merasa begitu tentram dengan adanya belahan jiwa di sampingnya. Tak bisa dipungkiri kehadiran sosoknya dalam hidup pria itu bagai mentari yang menyinari sisi gelap dalam benaknya.
__ADS_1
Namun, hari ini ia dibuat cemas kembali dengan adanya telepon dari sekolah putranya yang menyatakan tidak ada yang menjemput Razik. Mau tidak mau pria yang tengah sibuk itu terpaksa mengalihkan pada bawahannya guna menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Pria itu bergegas keluar dari kantor sembari menelepon istrinya. Tersambung untuk beberapa kali, namun tidak diangkat. Tidak berputus asa, pria itu terus mencoba kembali menghubungi istrinya tetapi malah sekarang tak terdengar lagi nada sambungnya. Sekarang malah tidak aktif.
"Kamu ke mana sih sayang, angkat telepon aku?" gumamnya merasa gelisah.
Pria itu langsung meninggalkan kantor dan bertolak ke sekolahan Razik. Pihak sekolah sampai menelepon orang tua Razik karena sampai berjam-jam anak itu tidak ada yang menjemputnya. Tentu saja yang pertama menghubungi ibunya, namun tidak ada jawaban sehingga pihak sekolah terpaksa menghubungi nomor kedua yang tersambung langsung dengan ponsel Bisma.
"Pak Bisma mana, Yos?" tanya Pandu yang ingin mengantar berkas materi untuk bahan diskusi dari pihak sponsor.
"Izin keluar tadi, udah dilimpahkan ke Mas Radit, coba cek di ruangannya."
"Main pergi aja nggak bilang-bilang, apa ada hubungannya dengan kejadian tadi ya?" Pandu bermonolog sendiri.
Pria itu juga merasa tidak tenang di meja kerjanya. Iseng ikut menghubungi istri saudaranya itu, namun juga tidak ada jawaban.
Sementara Bisma baru saja sampai di halaman sekolah Razik dan langsung ke ruang tunggu. Terlihat bocah kecil itu duduk merenung dengan salah satu guru yang masih setia mendampingi karena merasa khawatir.
"Orang tuanya Razik?" sapa pemudi cantik berperawakan sahaja itu. Yang tak lain gurunya Razik.
__ADS_1
"Iya Bu, maaf. Terlambat menjemput," sesalnya.
"Biasanya Bu Bila selalu datang tepat waktu, ini sudah kami telepon tidak diangkat. Maaf, terpaksa menelepon nomor yang ada di buku list siswa."
"Tidak apa, Bu, terima kasih sudah menjaganya," pamit Bisma undur diri.
"Ayo sayang kita pulang," ajaknya menuntun putranya setelah bocah kecil itu menjabat tangan gurunya untuk berpamitan.
Bisma langsung membawa Razik pulang ke rumah. Bocah itu terlihat lelah, terbukti langsung terduduk lesu setelah ayahnya melepaskan sepatu untuknya.
"Bunda mana, Yah?" tanyanya mencari-cari sosok ibunya yang belum muncul setelah sampai rumahnya.
"Sebentar ya sayang, Ayah cari dulu, sepertinya bundamu tidak di rumah, sepi. Tetapi kenapa tidak dikunci, mbok Inah juga izin hari ini." Bisma lebih bertanya pada diri sendiri.
Setengah berlari menaiki undagan tangga dan langsung menuju kamarnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Kamarnya bahkan masih terlihat rapi seperti belum tersentuh semenjak tadi pagi ditinggalkan. Suaranya menggema memanggil namanya seiring derap langkah yang menyusuri setiap ruangan.
Netranya menangkap benda pipih milik istrinya terdampar di atas ranjang. Pantas saja berkali-kali dihubungin tidak diangkat, bahkan perempuan itu meninggalkan ponselnya.
"Sayang, kamu main di rumah oma dulu ya, Ayah mau cari bunda."
__ADS_1