Noktah Merah

Noktah Merah
Part 72


__ADS_3

Keesokan paginya saat Bila terjaga, tidak menemukan suami di ranjangnya. Pria itu rupanya baru saja dari masjid untuk jamaah subuh.


"Morning ....!" sapanya seraya mendaratkan satu kecupan sayang di keningnya.


"Ganteng banget yang baru pulang dari masjid," selorohnya tersenyum.


"Dek, bangun dan lihat ke ranjang?" Perempuan itu lekas menurut, ia terperanjat melihat sprei bernoda merah di sana.


"Ya ampun ... sampai banjir gini," keluhnya merasa tak nyaman.


"Kamu bersihin ke kamar mandi aja, biar aku yang ganti bed covernya."


"Jangan, nanti aku aja," sergahnya merasa malu. Perempuan itu segera ngacir ke kamar mandi. Saat keluar dari sana, Razik sudah dipindah tidur di sofa, dan bed cover tengah di eksekusi.


"Mas, maaf ya jadi ngrepotin," ucapnya merasa tak enak.


"Nggak pa-pa sayang, nggak usah ngerasa nggak enak kaya gitu," jawabnya santai. Memindah Razik kembali setelah semuanya bersih.


"Mas tolong sebentar bisa?"


"Apa Dek?" Bisma menjeda aktivitasnya sebentar dan beralih menatapnya.


"Bantuin ini, resletingku kayaknya macet deh ini gimana?" ujarnya sedikit gugup. Lekas memunggungi dan seketika menunduk geli.


"Mas, kok diem? Bisa nggak?" Bisma malah sibuk dengan fantasinya sendiri.


"Astaghfirullah ... aku terhanyut sayang, kulitmu mulus sekali membuat aku tak bisa menahan diri," ungkapnya jujur. Pria itu meraba dengan lembut, dan menciumi bahu dan tengkuknya yang tersaji di depan matanya.


"Mas ... maaf ya, lagi mode jaringan, jadi nggak bisa on, yang sabar ya Mas, mungkin seminggu," sesalnya merasa kasihan melihat suaminya yang gemas dan semakin mengeratkan tubuhnya sebagai respon atas dirinya.

__ADS_1


"Aku selalu nggak bisa nahan diri, maaf ya? Boleh aku membuat banyak bintang di sini?" tunjuknya di atas bongkahan kenyal miliknya.


Perempuan itu tersenyum samar, sebelum akhirnya mengangguk sebagai jawaban.


"Makasih sayang," ujarnya berbinar. Pagi-pagi dapat sarapan bohay siapa yang tahan, tentu saja pria normal pasti terpancing juga.


Bila tersenyum, saat menilik dirinya dengan banyaknya tanda merah di sana. Namun, semua itu belum berakhir sebab partner hidupnya saat ini tengah menyorotinya penuh kabut gairah.


"Sayang, tolong bantuin Mas bisa?" pintanya seraya mengambil tangan istrinya dan mengarahkan pada pusat tubuh dirinya.


Bila sedikit kaget, namun ia berusaha untuk tidak terlihat.


"Please ... jinakin ya, aku nggak bisa aktivitas seharian kalau kesiksa gini, sayang," ucapnya jujur.


"Iya Mas, maaf dah bikin kamu resah," ucapnya tersenyum.


Wajah berbinar dan lega langsung terpancar dari wajahnya saat sesuatu yang bergemuruh hebat berhasil ia lepaskan. Perempuan itu benar-benar pandai membuat suaminya bahagia. Selalu ada cara membuat hatinya tenang.


"Makasih," ujarnya tersenyum dan langsung menghujani dengan ciuman.


"Iya Mas, udah lega sekarang?" tanyanya kikuk.


"Huum, kamu pinter banget bikin aku melayang. Masya Allah ... makin cinta deh aku," ujarnya menarik dalam pelukan.


"Udah ya Mas, sana mandi! Biar aku siapin keperluan kamu?" Perempuan itu bangkit dari posisi semula dan membersihkan sisa kenakalan suaminya. Bisma tersenyum menanggapi itu.


"Nanti kita pindahan ya, mulai hari ini kamu tinggal di rumah aku," pinta pria itu menginterupsi.


"Perlu emang ya, qkMas, deket gini juga, tinggal mampir kalau pingin ke rumah kamu," ujarnya menggampangkan.

__ADS_1


"Bukan gitu sayang, biar kita lebih mandiri saja, aku juga udah siapin kamar yang lucu untuk Razik, dia 'kan udah tumbuh makin gede, nggak mungkin tidur sama kita terus," ujarnya memberi pengertian.


Bila tidak masalah sebenarnya tinggal di mana pun, cuma sempat kepikiran juga karena di rumah ada saudara suaminya, Pandu. Tentu itu menjadi bahan pertimbangan jika menetap di sana, bukan apa-apa tetapi merasa tidak nyaman tentunya ada pria lain yang seumuran suaminya itu di rumahnya. Kendati demikian, Bila menurut.


Acara pindahan dengan tema lima langkah itu, tetap menguras energi dan tenaganya saat mengemas dan bolak balik.


"Sayang, kamu dapat undangan ini?" Bisma tanpa sengaja menemukan kertas akasia berjilid undangan tersimpan di laci nakas.


"Iya Mas, kenapa?" tanyanya cuek.


"Kok bisa? Ini 'kan dari management group yang akan menjalankan sesi film dan seluruh agency yang terlibat di dalamnya, termasuk sponsor yang akan menghandle iklan. Kamu termasuk orang itu?" tanya Bisma penasaran.


Itu undangan terbuka untuk sesama tim, namun tidak untuk umum. Jelas, semua orang yang diundang untuk makan malam spesial itu sudah pasti yang terlibat di sana.


"Owh ... dibilang terlibat iya, tetapi aku nggak ikut bekerja di dalamnya Mas, cuma mereka mengadaptasi filmnya dari salah satu novelku," jawabnya dengan senyuman bangga.


"Masa' sih? 'Tajuk Rindu' itu penulisnya kamu? Masya Allah ... aku sampai merinding dan terharu bacanya, lihat ketulusan dan ketegaran hati Andra atas ujian-ujian yang menimpanya," ungkapnya takjub.


"Kamu udah baca? Itu hasil coretan tanganku, Mas, mungkin lagi beruntung aja dapat dilirik oleh produser," ucapnya penuh rasa syukur.


"Aku jadi kepo ... kenapa judulnya 'Tajuk Rindu' itu sangat mewakili setiap pemain di dalamnya. Seakan berkisah tentang anak manusia yang berlumur dosa, dan ingin bertaubat, merindukan uluran kasih sayang Rabbnya."


"Kamu baca ternyata, ah ... padahal aku ingin menyimpannya sendiri. Dengan tidak maunya aku diambil gambarnya sekalipun untuk diwawancara. Jujur aku nggak pede di depan kamera."


"Keren kamu, Dek, selamat ya?"


"Makasih Mas, ini pastinya banyak hikmah yang terjadi di dalamnya. Tanpa kita sadari kita malah terlibat pekerjaan bareng, Allah memang penuh kejutan," ujarnya tersenyum penuh rasa syukur.


"Berarti nanti malam, boleh dong temenin aku datang?" selorohnya mengerling.

__ADS_1


__ADS_2