
Bisma yang sudah bertelanjang dad@ akhirnya menurut. Lekas membersihkan diri dengan air yang telah dipersiapkan istrinya. Sejenak ia bersyukur, indahnya berumah tangga jika saling mencintai. Makan dan mandi ada yang nyiapin, pulang kerja ada yang nyambut dan menanti kepulangannya dan tidur ada yang bisa diajak ngobrol. Lebih tepatnya ada guling yang bisa buat tubuhnya menghangat. Hehe
Sementara Bila berjalan gontai tengah menuruni anak tangga hendak melihat siapa gerangan tamu yang berkunjung ke rumahnya. Namun, langkahnya terhenti di dasar tangga melihat penghuni rumah lainnya telah lebih dulu menghampirinya dengan membawa bungkusan ditangannya.
"Kamu pesan makanan?" tanya pria itu sembari menaruhnya di atas meja makan. "Ini udah aku bayar, tolong siapin juga piring untukku ya, jangan cuma Bisma," ujarnya lalu melewatinya.
"Nanti aku ganti," ucap Bila merasa tak enak hati.
"Ganti yang lain saja," jawabnya ambigu.
"Sayang, kamu masih di sini siapa yang datang, pesanannya udah nyampai?" tegur Bisma membuyarkan lamunan istrinya.
"Eh, iya Mas, udah. Tadi Abang G-food yang datang."
Bila segera mengambil wadah dan menyiapkan di meja makan. Menuang menu-menu yang telah dipesan dan disajikan. Tiga piring iya siapkan di meja.
"Razik mana Mas, kenapa nggak diajak turun sekalian."
"Diajak Pandu tadi, nanti turunnya bareng dia sekalian," jawabnya sembari menarik kursi untuk ditempati.
"Minumnya apa Mas, aku mau buat teh hangat. Mau?"
"Aku mau dong Bil, sekalian ya," sahut Pandu yang tiba-tiba sudah muncul di ruang makan sembari menggendong Razik.
__ADS_1
"Aku air putih aja sayang," sahut Bisma.
"Iya Mas," jawab Bila sembari menuang segelas air putih ke dalam gelas kaca. Menyiapkan di hadapan suaminya.
Kembali ke meja dapur mau tidak mau menyiapkan dua mug untuk dirinya dan juga Pandu yang tadi telah memesan.
"Makasih," jawab pria itu tersenyum manis saat Bila menaruh mug dengan kepulan teh hijau menguap di atasnya. Bila hanya merespon dengan anggukan kecil saja.
Kembali ke meja, mengambilkan bagian untuk Razik yang sudah lebih awal mendahului makan. Setelahnya menyiapkan untuk suaminya.
"Segini cukup Mas?" Perempuan itu mengukur nasi di piringnya.
"Cukup sayang," ujarnya diakhiri dengan gumamam terima kasih.
"Aku sekalian dong Bil, kamu yang lebih dekat," pinta Pandu kelewat santai.
"Nih ambil sendiri, yang banyak sekalian. Habisin juga boleh," ujar Bisma mendekatkan wadah nasinya pada Pandu. Sontak pria itu mencebik kesal dengan sanggahan saudaranya itu.
"Udah nggak usah ngedumel, nggak usah manja sama istri orang. Nikah sana makanya kalau mau apa-apa diladenin. Pokoknya Bila nggak boleh kamu suruh-suruh," ungkap Bisma panjang lebar. Cukup kalem, namun dengan intonasi tegas.
"Nggak usah mulai deh, emang kita bisa gitu maksa-maksa nikah kalau belum ketemu juga sama jodohnya."
Ruang makan lebih didominasi dua bersaudara itu dari pada lainnya. Razik asyik makan dan Bila lebih ke tidak menikmati, atau tidak berselera.
__ADS_1
"Sayang, nggak usah didengerin ayo makan jangan cuma jadi pajangan di ruang makan," tegur Bisma pada istrinya.
"Iya Mas," jawab Bila sekenannya. Tak sengaja netranya bertemu dengan pria yang kebetulan duduknya tepat di depan segaris dengannya di sebelah Razik. Pria itu menarik sudut bibirnya, tersenyum simpul.
Bila segera membuang muka dan beristighfar sebanyak-banyaknya dalam hati.
"Kenapa cuma diaduk, nggak selera, mau ganti menu?" tawarnya menilik isi piring istrinya. "Atau mau aku suapin?" Bisma mengambil piring istrinya dan langsung bergerak menyuapinya.
"Pinter bener bundanya Razik maemnya, bilang dong sayang kalau mau disuapin," gurau Bisma tersenyum.
"Apa sih Mas, aku bisa makan sendiri. Sini piringku." Bisma menjauhkan piring itu dari perempuan yang nampak malu-maku mau itu.
"Udah diem, biar aku suapin, nikmati saja mumpung ada momen berdua."
Ghem!!
Suara deheman yang sengaja Pandu berikan tak mampu mengalihkan atensi dua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Bisma tetap menyuapi istrinya tanpa beban.
"Nggak usah berisik Du, kalau kamu nggak tahan lihat keuwuan kami bisa tutup mata, atau mlipir cari ruang yang lainnya. Maaf aku sedang mode romantis," ujar Bisma cuek. Bila hanya menanggapi dengan tersenyum melihat suaminya yang kadang mendadak konyol.
"Ya Allah ... ujian apalagi ini, pertemukan lah segera aku dengan jodohku. Aamiin!" Doa Pandu di sela makan.
"Kalian bener-bener ya, Razik ayo kita pindah tempat depan TV aja, di sini kita kaya tak terlihat," sindirnya menuntun bocah kecil itu minggat menuju ruang yang santai di tengah. Masih dengan piring di tangannya yang terisi separuh dari porsi sebelumnya.
__ADS_1
"Eh, awas ya jangan racuni otak polos anakku!" Peringatan Bisma cukup membuat telinga Pandu melebar.
"Apa katanya? Meracuni otak polosnya. Yang ada mataku ternoda, otak suciku tercemar melihat kalian nempel melulu," gumam Pandu menggerutu.