
"Astaghfirullahalazim ... kamu kok udah pulang?" tanya Bila terkesiap langsung berdiri dan mengambil jarak. Jelas-jelas pria yang duduk seenak jidat itu tadi sudah berangkat sebelum suaminya berangkat. Ini ada yang tidak beres pastinya.
"Kenapa, ini tempat tinggal aku juga, salah ya kalau aku pulang ke sini? Kamu ngadu apa saja sama Bisma, pingin membuat huru hara antara aku dan dia? Memangnya kapan aku godain kamu, atau jangan-jangan kamu ingin aku berbuat begitu?" Sorot matanya tajam memindai tubuh Bila dari atas sampai ke bawah.
Dalam sepintas masih aman dan wajar, pakaian Bila bahkan sangat sopan dan tidak menampakan lekuk tubuhnya sama sekali. Gamis yang perempuan itu kenakan juga longgar, namun tatapan mata pria itu seakan menelanjanginnya hidup-hidup.
"Kamu ngapain lihatin aku kaya gitu, jangan kurang ajar ya?" semprotnya tak terima.
"Udah lah Bila, nggak usah muna, lo itu dulu nikahnya sama Kak Gema, tetapi apa bisa-bisanya punya anak dari Bisma, apa itu namanya kalau bukan main serong. Hanya karena kak Gema sakit, terus kamu ninggalin dia gitu aja ya, bukan tidak mungkin 'kan itu terjadi lagi. Karena pelarianmu dulu hanya untuk menutupi aib keluargamu yang ternyata kamu hamil di luar nikah sama adik ipar sendiri."
Plak!!
Tamparan keras itu mendarat di pipi pria yang dengan kurang ajarnya bermulut pedas tanpa perasaan itu. Hatinya mendadak begitu sakit atas apa yang ia dengar. Jauh dari fakta, walaupun memang benar hamil dengan Bisma tetapi tentu saja tidak seperti yang Pandu tuduhkan.
Pandu memegang pipinya yang terasa pedas, pria itu menghunus tajam sembari mengikis jarak.
"Kamu jadi cewek nggak usah muna deh, emangnya kamu siapa berani nampar aku!" geram Pandu berkilat amarah menyorotnya lebih tajam. Sumpah dalam situasi ini Bila ketakutan setengah mati, ia sepertinya sudah mulai menangis.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" ancamnya mundur beberapa langkah, saat tubuh Pandu terus bergerak maju.
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan? Meminta aku menggodamu dengan sengaja membuat tuduhan itu, ya aku akui aku memang mengagumimu, tetapi aku sadar kamu istri saudaraku, jadi tidak mungkin. Tetapi itu sayangnya kemarin sebelum kamu mengadu yang tidak-tidak. Sekarang aku jadi berpikir lain, sudah kepalang dituduh kenapa nggak sekalian saja," ucapnya menyeringai.
"Kamu salah paham Pandu aku nggak ngadu aneh-aneh sama suamiku, kamu udah salah paham!" geram Bila frustasi.
"Aku bisa aja sih lupain semua ini, asal kamu tetap bersikap manis padaku, aku nggak minta apa-apa kok, aku juga bisa beli rumah sendiri tetapi aku lebih nyaman tinggal di sini dekat denganmu."
Jlebb
"Please Pandu! Tolong jangan mendekat, oke aku minta maaf jika sudah menyinggung perasaanmu, tolong jangan kurang ajar, aku ini istri saudaramu!" bentak Bila cemas.
"Kenapa Bil, tubuhmu ketakutan seperti itu, ayolah aku tidak sejahat Bisma yang tega nikung kakak ipar sendiri. Aku bisa main cantik kok," ucapnya tersenyum yang dalam pengamatan Bila terlihat sangat menjijikkan.
"Kamu manis," ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada pipi. Bila langsung menepis dengan kasar.
"Jangan kurang ajar ya!" bentaknya garang.
__ADS_1
"Semakin galak semakin terlihat cantik, aku jadi penasaran ...."
"Pria Gila!" Bila hendak menghindar dan menjauh, lebih tepatnya ingin berlari ke luar untuk mencari aman, sialnya pria itu dengan cepat mencekal tangannya. Membuat ibu dari satu anak itu spontan histeris memekik meminta tolong.
"Bila, nggak usah mendrama gitu lah. Aku nggak mau ngpapa-ngapain kok, cuma mau ngerasain kasih sayang kamu, seperti kamu memperlakukan Bisma."
"Kamu sudah tidak waras Pandu, lepasin!" teriaknya menggema seisi ruangan. Bila merasa dirinya dalam bahaya saat ini.
"Tolong! Siapapun yang mendengar, tolong aku ya Tuhan ...!" Bila mencoba terus melepaskan dari cekalan Pandu yang semakin mengerat hingga terasa menghimpit kulit dan menyebabkan lengannya begitu sakit.
"Bila, nggak usah teriak, ya ampun ... tubuhmu bergetar gitu, aku nggak akan nyakitin kamu Bila, aku cuma pingin ngobrol. Tetapi ya sudah lah, lain kali saja. Hari ini aku juga harus kembali ke kantor, bye bundanya Razik, mau titip salam nggak buat Bisma?" Pria itu berkata cukup santai tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Pandu melepas cekalan tangannya dengan senyum smirk. Perlu melangkah mundur untuk kemudian melompat lebih jauh lagi, pria itu melepas kepergian Bila yang berlari menjauh dengan senyum puas di wajahnya.
Bila langsung berlari keluar rumah menuju ke rumah bundanya yang masih sama-sama sepi. Bahkan bunda dan Mbak Lastri entah ke mana.
Perempuan itu langsung menuju ke kamarnya dan menangis sesenggukan. Terlalu takut untuk menghadapi kejadian hari ini, ingin sekali mengadukan semuanya pada suaminya saat ini. Tetapi bahkan mulutnya pun kelu untuk berbicara.
__ADS_1