Noktah Merah

Noktah Merah
Part 71


__ADS_3

Usai ngrumpi rempong ala kadarnya, duo besti itu saling berpelukan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Sampai ketemu lagi ya, tunggu kejutan dari aku," ucap Bila melambaikan tangannya. Dibalas dengan lambaian penuh senyuman.


"Mas, kok dilepas, 'kan dingin?" Bila bingung sendiri.


"Kamu yang pakai aja, aku nggak pa-pa kok," jawab Bisma santai. Mereka masih di parkiran bersiap untuk pulang.


"Gimana sih, kamu lah 'kan di depan. Aku udah hangat ini baju aku tebal. Please deh, nggak usah ngeyel." Bila kembali memasangkan jaketnya ke tubuh suaminya.


"Kamu perhatian banget sama aku, makin cinta deh aku," celetuknya seraya memajukan wajah hendak mengecup, namun Bila berhasil menghindari.


"Jangan sembarangan, ini di tempat umum. Di rumah 'kan bisa," tegurnya dengan gelengan kepala.


"Dikit kok, aku gemesh," jawabnya santai. Berhasil mencuri satu kecupan di pipi kirinya.


"Pegangan sayang, peluk aku!" titahnya sambil menarik dua tangannya ke depan. Menautkan untuk saling mengunci tubuhnya. Bisma mulai melajukan motornya dengan pelan.


"Mas mampir Alfa sebentar, aku jadi beli kopi sama gula. Buat besok pagi, selebihnya besok belanja aja sekalian stok."


Bisma menurut, singgah ke mini market sebentar sebelum akhirnya kembali pulang dengan keresek belanjaan di tangannya.


Sampai rumah, malam semakin merangkak. Terlihat Mbak Lastri masih stay di depan TV ruang tengah atas.


"Mbak belum tidur?" sapa Bila begitu sampai di lantai dua rumahnya.

__ADS_1


"Eh Non Bila sudah pulang, 'kan suruh jagain Den Razik, ya takut mau aku tinggal ke bawah," ujar Lastri penuh amanat.


"Makasih ya Mbak jadi ngrepotin, sekarang Mbak Lastri boleh ke kamar."


"Siap, Lastri tinggal ya Non. Razik aman kok, dari tadi tidurnya pules," lapornya sebelum beranjak. Bila mengangguk lega.


Sampai di kamar, melepas hijab, bersih-bersih diri dan mengganti pakaian dengan piyama. Dirinya merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sedari tadi.


"Kenapa senyum-senyum Mas?" tanya Bila kikuk. Berjalan menuju meja rias.


Bisma bergeming, memperhatikan istrinya dengan senyuman. Pria itu selalu takjub saat melihat istrinya bersolek di depan cermin.


"Mau tidur aja dandan dulu ya Dek, padahal udah cantik lho," seloroh Bisma mematung di dekatnya.


"Nggak Mas, ini tuh pakai krim buat malam. Cuma ini doang nggak ada dandan lah, udah ayo tidur, istirahat sudah malam juga."


Pria itu sudah merusuh sedari tadi, membuat Nabila geli sendiri menyikapi ini.


"Ya ampun Mas, kamu bener-bener deh ....!" des@h Bila mulai gemas. Saat tiba-tiba pria itu mengangkat tubuhnya, dan membawa ke ranjang. Sorot mata istrinya menunjukkan sesuatu tatapan aneh.


"Kenapa?" tanya Bisma bingung, saat tubuhnya bergerak menjauh.


"Nggak boleh, a-aku ... sedang periode Mas," bisiknya lembut.


"Hah, beneran? Sejak kapan, tadi sore aja belum?" tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Baru sih, waktu aku bersih-bersih dari kamar mandi."


"Ya ampun ... gemes banget, untung tadi siang udah, hampir saja aku keduluan sama tamu bulanan," jawabnya nyengir.


"Kenapa harus datang di saat aku pengen merusuh. Yah ... puasa lagi deh seminggu," keluhnya dengan nada kecewa. Bila tersenyum geli mendengar hal itu.


"Namanya juga kodrat alami perempuan, sepertinya kamu memang harus bersabar lagi untuk seminggu ini, semoga nggak nakal ya?" godanya mesem-mesem.


"Cuma minta cium doang kok, aku tahu batasan. Aku meloloskan sabar malam ini, tetapi tidak janji kuat nggak ya untuk malam-malam selanjutnya," ujarnya membuai dengan sayang.


"Makasih, pengertiannya suamiku, makin sayang deh aku." Bila mengecup bibirnya sekilas.


"Jangan mancing-mancing sayang, aku bingung jadinya. Ya Allah, ngegemesin banget istriku." Bisma gemas sendiri.


Keduanya masih saling tatap, menyelami perasaannya yang berbunga indah. Mengunci tatapan itu sebelum akhirnya saling melempar senyum canda tawa kecil.


"Kenapa? Masih berasa aneh aku tuh, kok bisa kamu suka sama aku, rasanya aneh aja, kemarin aku benci banget lho lihat muka kamu, alhamdulillah sekarang nggak." Bila terkekeh sendiri. Bisma memperhatikan tanpa berkedip.


"Kamu ngerasa nggak kalau aku udah gemes dan nahan diri. Setiap lihat, terus ketemu bawaan kamu emosi melulu, marah-marah, jutekin aku. Tetapi anehnya, aku tetap nggak bisa berpaling ke lain hati. Masya Allah, rasa cinta ini hadir begitu saja dan tumbuh semakin nyata."


"Kenapa nggak menyerah Mas? Padahal kamu cowok lo, bebas banget mengambil sikap dan memperjelas status keadaan."


"Karena hatiku tidak mudah goyah, sakit sebenarnya saat kamu terang-terangan menolakku, bahkan jika mampu dan memaksa itu tidak dosa, aku ingin mengurungmu dan membuat perhitungan untuk meminta melayaniku yang gersang. Namun, alhamdulillah akal sehatku masih waras," curhatnya mengenang masa pahit.


"Ah ... kamu sesabar itu menghadapi aku, Mas, love you more," ucap Bila mengeratkan pelukannya. Wajahnya ia benamkan pada dad@ suaminya.

__ADS_1


"Me too." Sementara Bisma membuai lembut, menjadikan satu tangannya sebagai bantalan. Mereka tertidur saling memeluk sepanjang malam.


__ADS_2