
Keluarga kecil Bisma baru saja menyelesaikan makan malam, dengan Razik yang sudah pintar makan sendiri. Ketiganya pun memilih belum beranjak dan mengobrol bersama. Dengan Bila membereskan sisa piring kotor menuju wastafel.
"Mas, kamu temenin Razik dulu ke kamar, aku mau beresin ini," ujarnya menginterupsi.
"Ditinggal aja sayang, biar besok Mbok Inah yang nyuci, ayo kita istirahat saja."
"Nanggung Mas, nggak pa-pa mood aku lagi bagus kok," jawab perempuan itu santai.
"Ya udah terserah kamu saja, yang penting jangan terlalu capek," ujarnya seraya bangkit dari tempat duduk. Menuntun anaknya menuju kamar.
"Ayah, Azik belum ngantuk, macih mau main," ujar bocah itu protes.
"Nanti bunda marah kalau Razik nggak segera tidur, Ayah lagi nggak bisa nenangin, ada dedek bayinya di dalam perut bunda, jadi bunda nggak boleh sampai marah," jelas Bisma pada putra mereka yang semakin pintar saja.
"Emang bunda galak?" tanya Razik jujur.
"Bukan galak sih, tapi lebih kepada sayang, pingin Razik disiplin, dan tahu waktu saja sayang, jadi kalau saatnya tidur, Razik pinter harus tidur, nggak boleh main terus," ujar pria itu menjelaskan dengan kesabaran ekstra.
"Mas, kamu ngajarin apa sama anak aku? Jelek-jelekin aku ya?" tuduh Bila menyembul dari balik pintu.
"Astaghfirullah ... nggak sayang, kok ngomongnya gitu, aku lagi bujuk anak kita supaya tidur, kamu sana istirahat dulu di kamar," titahnya merasa jengkel. Istrinya belakangan ini semakin uring-uringan saja.
__ADS_1
"Owh ... beneran gitu ya, ya udah deh pinter kamu, Mas, makin cinta deh aku, gemes banget sih ayahnya Razik." Bila keluar kamar lagi dengan tangan menyambar pipi suaminya, mencubit gemas.
Bisma tentu merasa aneh, tapi tak bisa juga memprotes, ia akan menanyakan kerempongan yang terjadi besok pada mertuanya tentang tingkah istrinya yang mencengangkan.
Usai membuai Razik dan berhasil membuat bocah itu tidur kurang dari satu jam saja, membuat pria itu lega, satu tugas negara telah selesai. Tinggal bermanja pada istrinya, biasanya, tapi sekarang boro-boro bermanja dan tiduran di pangkuannya, dekat saja istrinya marah-marah tidak jelas. Tentu saja pria itu menerawang prihatin.
Belum usai kegalauan yang terjadi pada hatinya, ia dibuat geleng-geleng kepala dengan menemukan istrinya tertidur di sofa ruang tengah. Pria itu mendadak bingung sendiri, mau mindahin takut istrinya itu akan marah-marah. Tidak dipindahin takut belahan jiwanya itu terjatuh, sungguh galau hagi Bisma.
"Sayang, bangun jangan tidur di sini, dingin dan bahaya, nanti kalau jatuh gimana?"
Bisma mengoceh sendiri, istrinya bahkan terlihat tenang tak terusik. Seandainya sedang tidak anti dirinya sudah pasti pria itu akan menggendongnya ke kamar.
Akhirnya untuk menjaga-jaga terjadi hal yang tidak diinginkan, pria itu tertidur di bawah sofa beralaskan lantai karpet. Setidaknya pria itu akan melindungi kalau tetiba tubuh istrinya terjatuh.
"Astaghfirullah ... Mas, kok tidur di sini sih?"
"Kamu udah bangun? Ayo pindah kamar, nanti kamu bisa jatuh," ajaknya seraya berdiri lebih dulu.
"Aku lapar Mas, bisa buatin aku makanan nggak?" Bisma mendadak waswas mendengar penuturan istrinya. Ini sudah larut malam dan ngalamat repot kalau harus keluar mencari sesuatu yang sulit dicari.
"Mau makan sama seperti yang tadi, aku panasin dulu ya, masih ada sisa lauknya yang tersimpan."
__ADS_1
"Bukanlah, aku nggak mau makan yang tadi. Aku mau puding mangga Mas, tolong buatin ya? Please ....!" mohon perempuan itu memelas.
"Puding mangga, maksudnya aku harus beli bahan instan yang rasa mangga itu kah?" tanyanya menyakinkan.
"Ya terserah lah Mas, mau instan, mau meres sendiri mangganya yang penting puding mangga aku pingin yang seger-seger," ujar perempuan itu ngeyel.
Bisma menghela napas panjang, ngantuk sebenarnya, tapi tak kuasa menolak, dengan sisa yang ada pria itu akhirnya mengambil kunci mobil dan bergerak keluar. Ia akan membeli di indo maret biasanya tersedia, semoga saja belum tutup, mengingat keinginan ngidam istrinya super sekali.
Waktu sudah menunjuk di angka dua puluh dua lewat, dan pria itu segera meluncur untuk mencari bahan yang diinginkan istrinya.
"Alhamdulillah masih buka," ujar pria itu bergegas dan segera mencari apa yang dibutuhkan.
Cukup lama berjalan di melewati rak gondola satu ke lainnya hingga akhirnya menemukan apa yang ia cari. Setelah dapat langsung menuju kasir dan pulang dengan bayangan kerempongan cara membuatnya.
"Pikir nanti saja lah, yang penting dapat dulu," gumam pria itu menyemangati diri sendiri.
Rupanya Bila masih menantinya di ambang pintu dengan muka manyun plus menggerutu.
"Lama banget sih, Mas, akunya 'kan udah pengen, cepetan buatin," rengek perempuan itu manja.
"Iya, sayang, bentar aku cuci tangan dulu. Udah kamu tunggu aja di atas nanti kalau udah jadi aku bawa ya sayang oke?"
__ADS_1
"Nggak oke, awas ya kalau lama!"