
"Kamu sendiri, kenapa ada di rumah sakit?" tanya pria itu.
"Astaghfirullahalazim ... aku harus keruangan dokter, anakku sakit, Mas. Maaf aku permisi, semoga Allah lekas mengambil penyakitmu, Mas," doannya tulus.
"Aamiin ... apa aku boleh menjenguk anakmu, Bila, Razik sangat lucu, dan menggemaskan semoga lekas diberi kesehatan kembali."
"Boleh, anakku ada di ruang anak. Aamiin ... terima kasih, Mas," jawabnya dengan anggukan.
Mereka berpisah di koridor rumah sakit, karena Bila harus menemui dokter yang menangani Razik. Perempuan itu lebih deg degan dari pada tadi, ini adalah hal yang paling tidak ingin ibu mana pun dengar. Tentang perihal kesehatan anaknya yang memburuk. Andai bisa ditukar, ibu manapun pasti akan mengganti dengan dirinya.
Bila memasuki ruangan berpintu putih gading itu dengan gusar. Hatinya galau, takut sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Astaghfirullah ...." Perempuan itu beristighfar banyak-banyak untuk menetralisir hati dan jantung yang mulai bekerja dengan khawatirnya masing-masing.
Sementara Bisma langsung melesat begitu memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Pria itu setengah berlari menuju ruangan Razik yang ia dapat dari Bik Lastri. Setengah hatinya merutuki dirinya yang tak kunjung mencari tahu sejak malam hari. Bisma begitu khawatir.
Pria itu membuka pintu kamar Razik begitu saja, netranya langsung menuju ranjang. Menemukan mertuanya, eh ralat mantan mertuanya tengah menunggu cucunya di sana.
"Bisma?" Bu Rima langsung menyapa.
"Iya, Bun, maaf aku baru datang, aku baru tahu kalau Razik sakit?" keluhnya merasa sangat berdosa.
__ADS_1
"Kemarin demam tak kunjung reda, hingga pagi kami memutuskan untuk membawa ke rumah sakit," jawab Bu Rima sendu.
"Maafkan Ayah sayang, Ayah seharusnya samperin kamu semalam." Pria itu langsung membuai putranya dan menciuminya. Bocah itu sendiri tengah tertidur baru saja mendapat pemeriksaan dan diberi obat.
"Nabila tidak memberitahumu?" tanya Bu Rima memastikan. Anaknya sangat keterlaluan bila itu yang terjadi.
"Belum Bun, kemarin sih sempat telfon mungkin berniat memberi tahu, tetapi ponsel aku mati kehabisan daya. Aku baru tahu malamnya setelah membuka HP, aku telfon balik berkali-kali tidak diangkat. Pagi tadi aku dapat kabar dari Lastri, aku mau lihat Razik karena kangen," jelas pria itu, sudut matanya mengembun. Ada banyak luka di sana.
Takut berpisah kembali dengan anaknya, atau bahkan kemungkinan yang paling memilukan terpisah jauh karena Razik harus ikut ibunya dengan keluarga barunya. Hatinya kembali terluka memikirkan itu.
"Bila mana, Bun? Kenapa tidak terlihat sedari tadi?" tanyanya gusar.
Derit pintu ruangan terbuka, menyembul perempuan cantik berhijab mocca itu dengan wajah sembab. Membuat dua mata pasang yang menyorotnya di ruangan itu bertanya-tanya. Antara Bisma dan juga Bila saling menatap. Bisma dengan seribu tanda tanya, dan Bila dengan rasa bersalah.
"Sayang, kenapa kamu menangis, Razik sakit apa?" berondong Bu Rima langsung. Tak tahan melihat anak perempuannya hanya mematung di depan pintu seperti bingung.
Bisma ikut mendekat, raut mukanya sama dengan ibu, khawatir dan juga cemas, takut hal buruk menimpa Razik.
"DBD Bun," jawabnya lebih kepada mengarah ke Bunda.
Diam-diam ibu dan Bisma bernapas lega, walaupun DBD juga berbahaya namun Razik bukan terkena penyakit yang lebih serius. Bisma sudah sangat takut mendengar hal itu.
__ADS_1
"Ya Allah ... kasihan sekali Razik, mungkin sekarang mainnya harus berhati-hati. Kemarin sempat main di halaman belakang, musim pancaroba memang rawan demam dan sejenisnya."
"Bun, bolehkah aku berbicara dengan putrimu, berdua saja, ada hal yang ingin aku sampaikan." Bisma ingin sekali menanyakan maksud dan tindakan Bila yang mengabaikan panggilannya, padahal ditengah kegentingan informasi tentang anaknya. Di situ Bisma sangat kecewa, walaupun perempuan itu tidak suka, bahkan membenci dirinya tetapi tidak boleh egois perihal putra mereka. Jujur, Bisma trauma mendalam terpisah dengan Razik, menahan rindu itu sakit.
Bila menatap pria itu dan mengangguk, sebelumnya Bu Rima juga sudah mengizinkan. Mereka menuju taman rumah sakit, tempat terbuka yang banyak orang berlalu lalang walau dari kejauhan.
"Kenapa kamu mengabaikan telfonku, Bila? Aku tahu kamu membenciku, tetapi aku tidak rela jika informasi sedikit pun tentang Razik tidak kau bagi," protes Bisma tanpa basa-basi.
"Kamu yang lebih dulu mengabaikan panggilanku, karena sibuk dengan orang baru, bagaimana bisa aku memberitahumu sedangkan kamu sendiri sampai tidak berdaya mengangkat telfon dariku," jawab Nabila cukup menohok.
Bisma tentu tidak terima disebut sibuk dengan orang baru, dirinya bahkan tanpa sengaja mengantar sahabatnya itu. Pria itu tertawa sumbang bernada ejekan.
"Kamu tidak salah menuduhku? Aku tahu kamu membenciku setengah mati, tetapi aku bukan seperti dirimu yang mudah menerima orang lain dalam hatiku," jawabnya dengan mata memerah. Emosi sepertinya sedikit mengusik lelaki itu.
Nabila sama, lebih marah ditodong pertanyaan itu. Hatinya sedang kacau ditambah tuduhan itu membuat perempuan itu tak bisa mengontrol gejolak hatinya.
"Iya, aku membencimu yang terus membohongiku, aku membencimu dengan sikap ketidak jujuranmu. Aku benci kenapa aku tidak bisa tahu sejak awal." Nabila berjongkok, ia menangis sesenggukan.
Sementara Bisma sendiri bingung dengan perkataan emosional mantan istrinya. Ia menyorot dari atas dengan wajah sendu bercampur kebingungan. Hatinya selalu goyah saat melihat wanita yang masih begitu ia cintai menangis. Bisma paling tidak bisa, melihat wanita menangis apalagi itu Bila. Pria itu ikut berjongkok.
"Jangan menangis Bila, karena aku tidak bisa lagi menghapus air matamu, tolong katakan dengan jelas, bagian mana atas ketidak jujuranku?"
__ADS_1