Noktah Merah

Noktah Merah
Part 107


__ADS_3

"Kamu kenapa? Perut kamu sakit?" Bila tak menyahut, namun ia mengangguk.


"Jangan-jangan adeknya dah mau lahir, ayo sayang kita ke rumah sakit," ajak pria itu mendadak gugup.


"Mas, kalau kaya gini biasanya masih lama, aku masih tahan, kamu antar Razik aja dulu ke sekolah."


"Masih tahan gimana sih, itu muka kamu nyengir-nyengir kaya gitu," protes Bisma gusar.


"Aku panggil Bunda aja buat nemenin Razik."


"Kan ada Bu Santi," ujar Bila mengingatkan.


"Ya udah, biar mereka naik ojol saja, sebentar aku pesenin." Bisma sibuk memesan ojek untuk mengantar anaknya sekolah.


"Bu Santi, nanti pulangnya ngegrab aja ya Buk, ini uangnya, tolong titip Razik," pesan Bisma yang langsung diiyakan asistennya itu.


"Ayo sayang, kita ke rumah sakit." Bisma menuntun istrinya menuruni anak tangga dengan hati-hati.


"Mas, perlengkapannya dibawa dulu," ujar Bila mengingatkan.


"Oh iya sayang, aku antar kamu sampai bawah dulu," ujarnya panik sendiri. Bisma kembali ke lantai atas menuju kamarnya, membawa sekiranya yang akan dibutuhkan di rumah sakit.

__ADS_1


Sementara Bila tengah berjalan mondar-mandir untuk menyamarkan rasa yang semakin kuat. Sepertinya memang sudah mau melahirkan, walau HPLnya masih pertengahan bulan depan, namun kalau dari tanda-tandanya adiknya ingin cepat melihat dunia. Perempuan itu pernah mengalaminya, jadi sudah sedikit tahu rasanya.


"Ayo sayang, hati-hati jalannya," Bisma kembali memapah istrinya sampai ke mobil. Memastikan istrinya duduk dengan benar lalu sedikit tergesa memutari depan mobil untuk sampai di depan kemudi.


"Duh ... tahan ya, aku berusaha cepet nih ke rumah sakit," kata pria itu fokus pada jalanan.


"Astaghfirullah ... macet lagi, ini ada apaan sih!" Bisma menggerutu sendiri.


"Mas ....!" Bila mencekal lengan suaminya erat.


"Sakit banget ya?" tanya pria itu cemas. "Sebentar, coba aku lihat depan, kenapa bisa macet gini." Pria itu keluar, meneliti jalan.


"Pak, ini macet kenapa ya?" tanyanya setengah frustrasi.


"Terima kasih infonya, Pak." Bisma kembali ke mobil, duduk dengan tenang menguasai pedal gas, sedikit demi sedikit mobil mulai melaju, namun raut muka istrinya semakin tidak baik-baik saja.


"Sayang, kamu banyak istighfar ya, jangan khawatir kita akan segera sampai," ujar Bisma menenangkan. Padahal dirinya sendiri kalut dan khawatir menghadapi situasi ini.


Mobil melaju cepat ketika terbebas dari kemacetan, pria itu fokus menyetir sambil sesekali melirik istrinya yang duduk di sampingnya dengan mata terpejam.


Pria itu langsung bergerak cepat ketika sampai di rumah sakit khusus ibu dan anak. Memanggil suster dan membantu istrinya tiduran di brangkar. Bila langsung mendapat pemeriksaan, benar saja, istrinya itu sudah pembukaan 6 dan masih harus menunggu di ruang bersalin. Bisma menemaninya dengan gusar.

__ADS_1


"Mas ...." panggil perempuan itu lirih.


"Iya, sayang, kenapa?"


Bila merasa sudah tidak karu-karuan, panas, pegel, sakit. Rasa itu menjadi satu, beruntung kali ini ditemani suami tercinta, ia bisa meminta untuk dielus, diusap pada bagian belakang pinggangnya yang terasa panas. Hari semakin beranjak sore, namun Bila baru pembukaan delapan itu artinya masih belum lengkap dan bertambah semakin sakit dan semakin sering rasa itu menyerang.


Bisma terus merapalkan doa kebaikan dalam hatinya. Agar persalinan istrinya diberikan kelancaran dan kemudahan. Tak tega melihat istrinya terus merasa kesakitan, namun ia juga tidak bisa melakukan banyak hal selain berdoa tentunya.


"Mass ... ssshhh ...." Bila terus mengatur napas dengan mencoba merilekskan dengan menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskan perlahan, begitu seterusnya. Ia berdiri menyandar di dinding dengan tangan kanan bertumpu pada dada Bisma dan tangan lainya mengelus perutnya, wajah merah padamnya ia sembunyikan di dada bidang suaminya.


Matanya terpejam sejenak begitu menikmati rasanya yang luar biasa sakit hingga mengalahkan rasa sakit yang pernah ada.


"Sabar ya sayang, aku mencintaimu." Bisma mencoba memberi semangat dengan membelai lembut dan mengelus punggung serta perut yang terasa kencang.


"Mas ... astaghfirullah ... sakit banget, aku minta maaf ya Mas ... nanti kalau aku tidak kuat tolong maafkan aku, dan jaga Razik," ucap Bila yang terasa sangat mengkhawatirkan di telinga Bisma.


"Kamu ngomong apa sih sayang, bisa pasti bisa pasti kuat ... harus semangat, kita sebentar lagi akan menyambutnya bersama."


Tak terasa buliran bening itu keluar dari mata Bisma. Iya, andai saja rasa sakit itu bisa ditukar biarlah dirinya saja yang merasakan, beruntung kali ini dia menemaninya, bayangan kelahiran Razik tentu sama, Bila merasakan kesakitan. Hatinya bergetar, terus memohon agar persalinannya disegerakan dan dilancarkan. Ternyata seperti ini banget perjuangan seorang ibu mengantarkan putranya ke dunia penuh dengan perjuangan, melewati rasa sakit yang luar biasa.


"Kamu pasti kuat sayang bertahan. Aku mencintaimu ....!" Bisma terus menyemangatinya.

__ADS_1


"Mas ... ssshhh .... tolong panggilkan dokter Mas, ini sepertinya adiknya udah mau keluar."


__ADS_2