
"Eh, kita mau ke mana? Pulang?" Bila meneliti jalan.
"Menuju surga dunia," jawabnya kalem. Senyumnya terus merekah dari sudut bibirnya.
"Ngomongnya gitu banget, kok aku jadi ngeri," ucapnya waswas.
"Apaan sih ... rileks dong sayang, kita perlu mencobanya," ujar Bisma seraya menautkan satu tangan kirinya pada tangan istrinya. Menggenggam penuh perasaan cinta. Sementara tangan yang lainnya sibuk menguasai bundaran stir.
Bila nyempil di dekat gerigi mobil, memudahkan ia mendekat, menjadikan bahu suaminya menjadi sandaran. Tangan mereka saling bertautan menggenggam. Ditambah alunan nada cinta mengudara lewat audio mobil, mereka mengikuti alunan lagunya bersama.
Kini telah ku buktikan, kamu pendamping setia.
Kuat tak pernah mengeluh, bahagiaku selalu bersamamu.
Nada cinta yang mengalun dari kedua bibirnya, mewakili perasaan mereka yang mendalam.
"Kalau seharian ini Razik tinggal nggak rewel, lusa ikut ke puncak ya, sekalian haiking sama temen-temen. Sekalian kita honeymoon di sana," ujarnya penuh rancangan.
"Lihat nanti Mas, aku kepikiran Razik sekarang aja kok ngerasa berdosa ninggalin di tempat mama," ujarnya mendadak sendu.
"Apa sih, cuma sebentar doang kok sayang, lagian ada mama di rumah, kamu yang tenang dong, atau nggak jadi aja?" Bisma sampai menepikan mobilnya.
"Mau puter balik?" tanyanya memastikan. Tidak tega juga melihat istrinya malah nggak tenang, jujur dirinya juga berasa gimana ya ... tetapi demi keamanan dan kelangsungan, cara ini memang paling tepat setelah direnungi.
"Nggak usah Mas, lanjut aja nggak pa-pa, aku percaya kok sama mama."
"Gitu dong, biar ibadah kita juga tenang." Senyum di wajahnya langsung terbit.
__ADS_1
"Kok jalannya ke sini, kita pulang ke rumah?"
"Pulang rumah aku, sayang, besok kamu pindah ke sini ya?" ujarnya memberi info.
"Kan ada Pandu? Ntar diledekin lagi, dia 'kan resek."
"Nggak, itu bocah lagi ngantor dan jadwal kali ini cukup padat."
Bila tak lagi bertanya. Mobil mulai masuk ke pekarangan rumahnya. Jadi ini ceritanya, suami lima langkah, langsung gercep dari rumah. Haha.
"Beneran? Sepi juga ya Mas?"
Mereka sudah sampai di kediaman suaminya. Perempuan itu mengekor Bisma sampai ke ruang kamar. Cukup luas, seukuran kamar di rumahnya.
Rupanya Bisma sudah menyuruh orang untuk menyiapkan semuannya. Kamar itu disulap sangat cantik, wangi, dan rapi. Lengkap dengan mawar indah bertaburan di atas sprei.
"Idenya aku, tetapi orang lain yang ngerjain, nggak bisa aku yang rapih ginian, suka nggak?" tanyanya tersenyum.
"Iya, keren berasa di hotel."
"Alhamdulillah kalau kamu seneng, aku bersih-bersih dulu ya?" ujarnya meninggalkan kamar menuju kamar mandi. Mendadak Bila merasa berdebar, sebelumnya mereka pernah melewati, tetapi tentunya sangat berbeda.
Derit pintu yang terdengar membuyarkan lamunan perempuan itu, spontan mendongak padanya.
"Kita sholat dulu ya, kamu ambil wudhu dulu," titahnya.
Bila lekas melepas hijab yang iya kenakan, masuk ke kamar mandi untuk bersuci. Setelahnya mendatangi suaminya yang sudah menggelar dua sajadah. Ditutup dengan doa kebaikan setelah salam.
__ADS_1
Saat tangannya terulur menyentuh pucuk kepala istrinya, Bila terdiam mengaminkan dengan khusuk. Sebelum akhirnya membuka kain sholat itu. Pria itu tak lagi banyak bicara, ia menuntun istrinya menuju peraduan terkasih.
"Bismillah ... aku datang wahai istriku sayang, perkenankan aku menyelesaikan tugasku sebagai seorang suami," bisiknya lembut. Mulai membuka penutup yang membungkus tubuh istrinya. Semua yang menempel ia lepas, tersisa keindahan yang nampak nyata. Keduanya sama-sama polos dalam balutan selimut.
Bisma tahu istrinya bergetar, sebelumnya ia pernah melewati ini semua, namun karena keliru tentunya tak bisa setenang ini.
"Rileks sayang, aku akan melakukannya dengan lembut, maafkan aku bila nanti sedikit menyakitimu," ucapnya meyakinkan.
Pria itu langsung mendatangi bibirnya yang ranum, tempat pahala setiap kali memagut, mematuk dengan lembut penuh damba. Mel*matnya tanpa sisa, mengeksplorasi di dalamnya. Membuat bidadarinya tersengal hingga terlepas untuk memasok beberapa oksigen ke rongga dadanya.
Petualangan indah itu berlanjut dengan kuas pencecap bergerigi cinta hingga menimbulkan banyak lukisan indah berkerlip bintang di semua lekuk tubuhnya. Di bagian tubuh mana pun yang ia kehendaki. Pria itu kini telah menguasai separuh dari dirinya. Jiwanya melambung jauh penuh gelora.
Kedua tangannya saling bertaut memberi kekuatan saat hati pria itu berbisik doa indah demi ibadah yang sempurna. Melepas ribuan benih yang menyirami lahan istrinya. Lepas sudah semua yang membumbung gelora, menjadikan dua anak Adam itu bagai di pusara surga dunia. Menyelami penuh damba. Berkali-kali pria itu menciumi pipi kanan dan kirinya. Hatinya bersorak penuh rasa syukur dan bahagia.
Berkali-kali pria itu mengulang adegan yang sama, membawa bidadari sholehahnya melambung ke puncak pusara kenikmatan yang nyata. Hingga pria itu merasa ingin mengulang, lagi dan lagi. Semua terasa begitu indah dan nikmat. Jika mungkin, tidak ingin mengakhiri untuk hari ini.
Cup
Satu kecupan pria itu sematkan tepat dibibirnya, membelai lembut perempuan yang masih setia di bawah selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Bangun sayang, bisa jalan nggak, mandi dulu kita harus sholat," ucapnya lembut. Senja di luar sana telah menyapa, ini sesi keramas mereka yang kedua, benar-benar mengurung istrinya seharian.
Bila bangkit dengan hati-hati, perempuan itu berdiri, terasa ngilu dan berdenyut di bawah sana. Ia menggigit bibir bawahnya saat mencoba melangkah merasakan sedikit nyeri yang tertinggal.
"Maafkan aku sayang, aku terlalu bersemangat," ucapnya bangga. Dengan sekali hentakan mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
Bila bersembunyi, membenamkan wajahnya di da*da suami, saat tubuh itu terasa melayang. Masih tertinggal jelas di memori otaknya bagaimana suaminya menjelajahi atas dirinya. Malu, namun sangat bahagia.
__ADS_1