
"Assalamu'alaikum ...." sapa ramah dari seseorang yang baru saja hadir. Semua mata tertuju padanya, dalam sekejap perempuan yang datang paling terlambat itu menjadi pusat perhatian semua yang hadir di sana.
"Wa'alaikumussalam ... siapa sih, masya Allah bidadari sholehahku," celetuk Alan mencair.
"Siapa sih, emang ada kelas kita yang penampilannya mode hijab. Perasaan belangsak semua." Grace nampak heboh sambil bertanya-tanya.
"Iya, sok anggun banget!" Amel menimpali.
"Maaf, teman-teman, aku datang sedikit terlambat." Bila mengangguk sopan dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Ya Allah, Nabila ya? Sumpah gue pangling, lo cantik banget, adem." Alan tak sungkan langsung memujinya.
"Hai, Alan, terima kasih, kamu dari dulu nggak pernah berubah ya?"
"Iya lah, 'kan bukan power rangers," jawabnya sukses mrmbuat guyonan di sana.
"Hooh, tetep aja modus, sini Bil, awas jangan dekat-dekat, bahaya," sela Disya menarik tangan Bila agar duduk lebih dekat dengannya.
"Bim, Bila beda banget ya?" Itu suara Alan, yang begitu terpesona dengan penampilan Nabila saat ini.
"Jangan naksir!" jawab Bisma terus menyorot mantan istrinya.
Mereka duduk berbaur menjadi satu, saling mengobrol. Terlihat saling menyapa ramah dan akrab.
Tap tap
Mata Bila dan Bisma saling bertemu, mereka saling menatap dalam diam. Sebelum akhirnya terputus karena Hanum menawarkan perhatian dengan mengambilkan makanan untuk Bisma.
"Anak kamu nggak ikut?" tanya Bila yang pertama ada di otaknya begitu bertemu dengan Disya.
"Tadi ikut, diajak ayahnya jalan, lo sendiri katanya bawa anak lo, mana? Ngaku single terus nih pastinya?" goda Disya mengerling.
"Nggak mempan, semua orang tahu kali gue udah nikah, anak gue ada sama bunda di rumah. Tadi sedikit rewel, ini juga tadi nggak mau datang, tapi nggak enak udah dapat undangan khusus dari yang punya acara."
Sinta dan Hanum ikut nimbrung di antara Disya dan Bila, mereka saling memeluk melepas rindu setelah sekian tahun baru ketemu.
Semua gerak gerik perempuan itu tak lepas oleh tatapan Bisma. Pria itu benar-benar mengamati tanpa bosan, kadang perempuan itu merasa risih ditatap lawan jenis sampai segitunya.
"Bisma, lihatin apa sih ... mau ini nggak? Churrosnya melting banget." Hanum caper, terus memberi perhatian pada duda beranak satu itu. Tak sengaja pemandangan itu pun tak luput dari pengamatan Bila.
__ADS_1
"Iya, makasih, Num, nanti aku ambil sendiri."
"Jiah ... malu-malu lagi, minta disuapin tuh Bismanya," celetuk Alan sok tahu. Hanum tersenyum menanggapi.
"Oke gaes ... sambil menikmati jamuan, kita mulai acaranya ya?"
"Assalamu'alaikum ... teman-teman, salam sejahtera semoga sehat selalu dalam lindungan Allah. Terima kasih yang sudah berkenan hadir diacara yang luar biasa ini, ketemu kangen setelah sekian tahun baru sempat, tentunya diacara yang sangat dinanti-nanti."
"Oke, durasi ya ... sepertinya kalian juga tidak begitu menyukai suara gue, jadi langsung ambil pointnya aja. Perkenalkan ini adalah calon istri gue, Nadia Mustika, bestie ter the best, yang insya Allah akan menjadi calon ibu dari anak-anak gue nantinya. Anak guru besar di kota ini, luar biasa." Faro menatap Nadia dengan mengerling.
"Mungkin, gue adalah orang yang paling beruntung, aamiin ... semoga rencana indah yang mau kita susun nantinya berjalan dengan baik, tanpa ada halangan suatu apapun. Niat kami di sini mengumpulkan kalian semua, teman seperjuangan, keluarga alumni yang paling solid, terkhusus buat ajang silaturahmi yang pertama pastinya, dan bonusnya kita mau menyampaikan kabar bahagia, dengan memberikan undangan pernikahan kita."
Semua mata tertuju pada Faro dan cewek cantik berhijab sar'i di sampingnya. Untuk Bila sendiri, lumayan syok karena tidak menyangka calon istrinya Faro adalah saudaranya Ustadz Zaki. Entah itu suatu kebetulan atau apa, mereka dipertemukan lagi di sini.
Nadia memberikan salam terbaiknya, dengan senyuman ramah. Doa terbaik mengalir begitu saja, untuk keduanya. Tak pernah ada yang tahu jodoh emang serahasia itu. Mereka pasti akan bertemu di tempat, dan di waktu yang tepat.
"Oke, teman-teman, sebelum masuk ke acara jamuan, acara akan dipimpin oleh beliau yang terkasih, kakak sepupu dari calon istri saya Ustadz Zaki, beliau juga seorang dosen di universitas bu Disya. Keren ya Bu Disya, suaminya ini pemilik kampus tercinta kita. Mana Bu Disya?" Faro celingukan mencari sahabatnya.
"Ya itu yang duduk paling pojok, ditemani ... siapa sih? Pangling aku?"
"Mbak Nabila, Mas?" jawab Nadia tersenyum.
"Alhamdulillah, ternyata istriku, eh maksud aku calon istriku sudah ada yang kenal dari kalian. Semoga silaturahmi tetap terjaga ya?"
"Capek juga ngomong, waktu dan tempat silahkan Pak Ustadz Zaki, dipimpin doanya?" ujar Faro memberi tempat, ruang, dan waktu.
Ustadz Zaki memberi salam terlebih dahulu, baru kemudian memimpin doa kebaikan untuk semua yang hadir. Acara dilanjutkan ramah tamah keakraban satu sama lain. Saling bernostalgia, ada juga kaum cowok yang bahas masalah bisnis. Semua berbaur menjadi satu saling akrab.
"Mbak Bila, masya Allah ketemu di sini?" Nadia dan Bila saling berhambur memeluk.
"Gimana kabar Razik mbak, besok aku main ya? Kangen banget sama Razik, besok aku ajak Bang Zaki juga deh, biar seneng," ujarnya tersenyum.
"Kalian udah akrab aja," tunjuk Disya kagum.
"Kita pernah tinggal di pesantren Bang Zaki, Mbak, jadi udah lumayan akrab."
"Owh ... gitu, nggak nyangka ya, bisa betulan gini. Kalau tahu lo pinter ngaji, kemarin gue nggak usah susah-susah cari guru les ngaji buat Reagan dan Realy. Tetapi nggak pa-pa sih, rekomended dari suami gue emang yang terbaik."
"Nadia ini lebih jago lho? Keren lah pokoknya?"
__ADS_1
"Enggak lah, Mbak Bila tuh yang berguru sama Bang Zaki." Mereka asyik mengobrol bersama. Saling menimpali dan mengakrabkan diri.
Sementara di sisi yang berbeda, ada orang yang tengah melongo tak percaya. Dia Alan, terbengong-bengong dengan calon istrinya Faro, perempuan itu pernah bertemu dengannya satu kali, tidak menyangka kekaguman pada pandangan pertama berakhir patah sebelum sempat berpaut.
"Bengong aja, kesambet setan!" Bisma menepuk pundak Alan.
"Astaghfirullah ... ngagetin aja, Bim, kesel ah ... itu si Faro kok pinter bener cari istrinya. Nemu di mana yang modelan kaya gitu. Menurut lo, Nabila cocok nggak?" Alan menaik turunkan alisnya.
"Nggak!" jawab Bisma kesal.
"Idih ... sensimin, dari dulu selalu gitu, nggak ada kejelasan apa-apa, giliran nikah sama abangnya mewek, sekarang udah bukan adik ipar lagi, tetep aja rempong."
"Sotoy banget sih?" Bisma kesal sendiri, selalu menyangkal saat-saat mengingat masa lalu mereka.
"Pulang bareng yuk Bim?" tawar Hanum antusias.
"Cie ... ehem ehem, banyak belokan nih kayaknya habis reunian." Bisma mendelik. Suasana di luar kebetulan tengah hujan pas sesi acara selesai.
"Assalamu'alaikum, Nabila?" sapa Ustadz Zaki ramah.
"Waalaikumsalam ... Ustadz." Perempuan itu menangkup kedua tangannya di dada menunduk sopan.
"Apa kabar, Bila, Razik sehat?"
"Baik, alhamdulillah sehat Ustadz."
"Syukurlah kalau begitu, kangen sama Razik," ucapnya sungguh-sungguh.
"Kamu kenapa tidak bareng sama suami kamu?" tanyanya kepo.
"Itu suami kamu 'kan? Bisma terlihat akrab dengan perempuan lain, apa terjadi sesuatu?" Pandangan Bila melirik samping lumayan berjarak, di mana Bisma dan Hanum tengah berdiri di luar kafe seperti dirinya menunggu hujan reda.
Mata mereka saling bertemu. Bisma menyorot dingin melihat dirinya yang tengah bersama Ustadz Zaki. Pria itu acuh saja tanpa mau menyapa atau mau merespon pria yang pernah dekat dengan anaknya.
"Kami ... sudah jalan di lembaran yang berbeda?" jawab Bila tertunduk.
"Owh ... maaf, tidak ada maksud mengungkit hal itu, yang sabar ya?" ucapnya tulus. Bila mengangguk.
"Kalau tidak keberatan, bolehkah aku mengantarmu pulang?"
__ADS_1
Tawaran Ustadz Zaki tiba-tiba membuat bila galau sendiri. Ia lebih dulu menatap Bisma di sebelah sana yang tengah bersenda gurau dengan Hanum dan juga Sinta.