
Nabila menggendong Razik pulang, perempuan itu antusias menanyakan kegiatan bocah kecil itu sepanjang bersama ayahnya. Razik yang polos itu dengan senang hati menceritakan serentetan acara petualangan harinya bersama ayahnya. walaupun masih belepotan mengeja, ibu dari satu anak itu cukup paham. Sepintas ia tersenyum mengamati polah putranya yang lucu dan semakin akrab dengan ayahnya itu.
Bila langsung membawa Razik ke kamar, menyuruh anak itu untuk membersihkan diri seperti gosok gigi dan mencuci kaki terus berdoa untuk menuju peraduan mimpi.
"Bun, napa ayah ndak di cini aja, bobok baleng kita, bial lame," celoteh Razik sebelum tidur. Bila tersenyum tipis menanggapi celotehan anak pintarnya itu.
"Razik sayang, besok kalau Razik pingin bobok dalam pelukan ayah, Razik nginep di tempat ayah ya?" kata perempuan itu memberi solusi semanis mungkin. Tangannya sibuk mengusap-usap kepalanya dengan sayang.
Razik polos mengangguk-angguk ngerti, bocah itu tertidur dalam buaian bundanya. Berbeda dengan Bila yang masih setia terjaga, bahkan rasa kantuk pun belum menyapa, padahal jarum jam pendek sudah melewati angka sebelas.
Bila mengambil wudhu berharap mendapatkan ketenangan batinnya. Belakangan resah itu kembali menyapa. Sepintas bayangan masa lalu dan sekarang berirama mengisi otaknya.
Entah di jam berapa perempuan itu tertidur, ia terjaga di sepertiga malam. Perempuan itu bangkit dari pembaringan, membenahi selimut Razik terlebih dahulu, lalu beranjak ke kamar mandi, lekas mengambil wudhu. Dua rakaat ia tunaikan dengan khusuk memohon untuk kebaikan dalam hidupnya.
Hal yang sama dilakukan seorang pria di tetangga sebelah. Ia juga tengah berdoa di atas sajadah. Berharap kebaikan untuk jalan hidupnya. Lebih tenang, terlihat lebih lapang, mungkin memang jalannya sudah ditakdirkan begini. Pria itu memungkasi doa dengan membaca mushaf sebagai pengobat rindu.
Pagi menjelang begitu cepat, hari-hari ia sibukkan dengan bekerja, fokus pada diri sendiri, Razik dan juga karirnya. Berkali-kali mama menyuruh pria itu mengakhiri kesendiriannya, namun pria itu belum ingin melangkah ke tahap itu. Masih betah menjomlo, kalau kata Alan, sendiri terus, sendiri lagi, sampai kapan?
Kata itu sering sekali sahabatnya ucapkan. Alan benar, beberapa tahun ini tidak pernah sekali pun seorang Bisma Maulana Ikhsan Kamil menggandeng pasangannya. Pria itu hampir dikatakan pria tidak normal, saking gemas teman-temannya.
Hari ini kedua sahabat itu bertemu, hanya berdua, Faro sepertinya lebih sibuk. Sebentar lagi pria itu mau mengakhiri masa lajangnya, sudah barang tentu sibuk mempersiapkannya.
"Bis, bocil nggak ikut? Kenapa nggak balikan aja sama ibuknya anak lo? Sepertinya lo susah move on, hingga selama ini menduda tanpa status yang jelas."
"Hus, ngawur lo, cinta punya jalannya sendiri, mungkin jodoh dia dan gue cukup sampai di sini. Siapapun nanti seseorang yang bakal gue nikahi, yang pasti perempuan itu juga harus menerima Razik, kita satu paket."
"Iya lah, percuma juga nikah kalau cuma mau sama kita, tapi nggak suka sama keluarga yang dekat sama kita. Ngomong-ngomong, ibunya Razik kaya apa sih, hingga bertahun-tahun membuat lo gagal move on?" celetuk Alan kepo.
__ADS_1
Bisma tersenyum tipis menimpali, sebelum menjawab. "Dia ... perempuan kuat yang luar biasa. Beruntungnya aku mengenal dia, mencintai dia, walaupun tidak pernah memiliki hatinya," jawab Bisma menerawang.
Alan manggut-manggut, "Apa gue juga mengenalnya, perasaan gue nggak pernah lihat lo gandeng cewek dari semenjak masa kuliah. Jomblo mulu berabad-abad."
"Ngomongin diri sendiri kok kenceng amat," sindir pria itu menohok.
"Ah ... iya, kamu suka bener. Oh jodoh ... kapan kita dipertemukan di waktu yang tepat dan di saat hari yang pas." Pria itu lekas mendrama.
"Maaf Mas, tolong jangan menghalangi jalan, bisa saya lewat?" Seorang ukhti cantik menyapa tiba-tiba.
"Eh, masya Allah ... iya silahkan, maaf Mbak," jawab Alan kikuk. Mereka tengah bersantai di sebuah kafe setelah pulang kerja.
"Kedip woi ... lihat cewek sampai lupa sama gue," cetus Bisma geleng-geleng kepala.
"Bis, mungkinkah ini di waktu dan di saat yang tepat," oceh pria itu tanpa memutus pada pandangan perempuan itu.
Sekilas pandang pria itu menatap lurus ke depan mengikuti arah pandang pria di sebelahnya. Pria itu dibuat kaget dengan keberadaan seseorang yang tengah duduk dengan laptop di mejannya. Ada beberapa buku, nampak wanita tadi yang menabrak Alan menemuinya.
"Nabila," perempuan itu menyebut namanya seraya menyambut uluran tangan Meena. "Saya sudah membaca pesan yang terkirim ke email saya. Sebelumnya saya sangat berterima kasih, atas antusiasme Anda, tapi ... bolehkah nama saya tetap tidak dilibatkan. Cukup buku saya yang terkenal, saya di belakangnya saja." Nabila tidak mau dirinya terekspos banyak orang.
Meena tersenyum, "Tentu boleh, demi kenyamanan itu termasuk ranah privasi." Mereka berbincang cukup serius, hingga ke produk pasar pengiklanan, tentu akan menggaet sebuah perusahaan besar untuk mendapatkan wadah di sana.
"Biar kami yang bekerja, Mbak, yang penting kita sudah sepakat, tapi kita akan sering butuh Anda untuk sesekali datang memantau jalannya cerita, selama syuting nantinya." Bila mengangguk.
"Ini adalah undangan terbuka makan malam, kami mengundang semua yang terkait dan bekerja sama di dalamnya." Sebelum pergi, Meena menyodorkan sebuah kertas akasia di mejanya. Meena berjabat tangan lalu meninggalkan lokasi.
Perempuan itu baru saja menggeser kursi hendak beranjak, ketika seseorang dengan cepat menghampiri.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ... Bila!" sapa Alan mengambil duduk tepat di depannya.
"Waalaikumsalam ... eh Alan?" serunya cukup kaget dengan pria yang terkenal absurd dari dulu.
"Perempuan tadi siapa? Gue kepo?" tanya Alan tanpa basa-basi.
"Owh ... dia ... namanya kak Meena, kami juga baru kenal, jadi belum tahu persis tentangnya, kenapa? Lo di sini sendirian?" Bila menyapu pandang sekitar. Netranya menemukan ayah dari anaknya tak jauh duduk sendirian di meja sebrang.
"Tuh ... sama bestie, jomblo sejati." Alan terkikik sendiri. Bila menimpali dengan senyuman.
"Gabung yuk, kita juga baru datang mau pesen makan, gabung ya?"
Bila melirik sekilas, yang dilirik tetap tak merespon, pria itu masih sibuk dengan ponselnya. Mungkinkah pria itu belum melihat dirinya seperti Alan.
"Boleh?" jawab Bila mengiyakan. Perempuan itu pindah tempat duduk, bergabung dengan meja Alan dan Bisma.
Beberapa detik Bila sudah duduk di sana, Bisma masih juga belum menyadari atau memang sengaja. Sehingga perempuan itu berinisiatif sendiri.
"Hai, Bim ... !" sapanya mendadak kikuk. Seseorang yang berminggu-minggu mendadak hilang tanpa kabar, sekarang ada di depan matanya begitu dingin. Nabila pun menyadari itu.
"Hai, Bila, di sini juga?" tanyanya kalem, senyum tipis menghiasi wajahnya, namun tak pernah pria itu memandang ke arahnya. Hanya Alan yang terlihat semangat dalam obrolan.
"Pesan apa?"
"Chicken beef steak," seru Bisma dan Bila kompak.
"Cie ... barengan," ledek Alan tersenyum. "Minumnya?"
__ADS_1
"Nutella chocolate," koor mereka berdua yang membuat Alan berseru menggoda.
"Ya ampun ... memilih makanan aja jodoh, kalian bikin gue gemes!" celetuk Alan terkekeh.