
Sepeninggal Bisma ke kantor, Nabila menjaga Razik sendirian. Tak berselang lama, bunda pun datang dengan menenteng bekal di tangannya.
"Kenapa Bil? Senyum-senyum nggak jelas!"
"Eh, Bunda sudah datang? Nggak ada Bun, lagi pingin senyum aja tadi," jawabnya cukup membuat Bunda menaruh curiga.
"Gimana keadaan Razik? Kamu makan dulu, Bunda bawa sarapan untukmu," ujarnya seraya menaruh di atas nakas.
"Menunggu pemeriksaan dokter, Bun, kalau sudah tidak demam dan trombositya udah kembali normal, kata dokter, Razik sudah boleh pulang."
"Bunda sebenarnya kepikiran terus, sepanjang malam berbincang sama ayahmu, hampir setengah malam nggak bisa tidur, kepikiran Razik."
Hal yang sama sebenarnya, Bila juga tidak bisa tidur, melainkan ngobrol sama mantan, hingga senyum paginya muncul.
"Bisma ke mana, udah berangkat?"
"Udah Bun, barusan aku suruh berangkat, kasihan pekerjaannya terbengkalai."
"Bunda seneng lihatnya, kalian walaupun sudah pisah tetap kompak ngerawat Razik, semoga tetap begitu ya, kasihan Razik kalau tidak mendapat kasih sayang dari keduanya, semoga kalian tetap kompak untuk urusan anak."
"Iya Bun, Razik selalu menjadi prioritas kami."
Sementara Bisma sendiri baru saja tiba di kantor setelah pulang terlebih dahulu untuk keperluan pribadinya. Pria itu lumayan cukup sibuk karena ada projek iklan baru yang akan mensponsori sebuah film.
Sepintas, sudut matanya menangkap kertas akasia berpita cantik di mejanya. Sebuah undangan makan malam terbuka untuk perusahaan.
__ADS_1
Bisma terlihat cukup sibuk hari ini, bahkan seharian ia tidak berkabar dengan siapa pun. Terlalu fokus kerja, mereka baru saja keluar dari ruang rapat untuk sebuah iklan. Termasuk iklan apa saja yang akan menyeponsori film yang baru akan dirilis dari Buana Film.
Sementara Bila di rumah sakit sibuk mengurus si kecil. Anak itu sudah lebih mendingan dari hari kemarin. Hasil pemeriksaan jauh lebih baik. Diagnosa dokter menunjukkan Razik sudah lekas pulih. Kalau demamnya tidak muncul dalam pengamatan beberapa jam ke depan. Serta trombosit terus naik diangka normal. Bocah kecil itu bisa pulang segera.
Tentu kabar itu sangat membahagiakan untuk orang tua mana pun, jika mengetahui anaknya lekas sehat. Sayangnya hingga menjelang petang, Bisma tak kunjung mendatangi rumah sakit. Bila menjadi sedikit resah dan galau sendiri.
Berkali-kali mengecek handphone juga tak ada panggilan atau pesan dari mantan suaminya itu. Terakhir sebelum dhuhur, pria itu cuma berpesan untuk menunggunya.
"Bisma ke mana sih?" Bila ngedumel sendiri. Hingga malam menyapa, pria itu tak terlihat batang hidungnya. Tentu saja Bila jengkel.
"Dek, kalau tahu gini kita pulang dari sedari sore ya Dek, ayahmu mulai tidak bisa dipercaya?" Bila berceloteh di depan Razik yang sudah tertidur. Lebih tepatnya bergumam sendiri.
Hampir jam sembilan malam pria itu sampai di rumah sakit. Masuk kamar rawat dengan langkah gontai. Menemukan mantan istrinya sudah terlelap di kursi sofa. Sementara Razik sendiri terbangun begitu ayahnya masuk.
"Sayang, bagaimana kabar hari ini Nak, masih ada yang sakit?" tanya Bisma mendekat setelah membasuh tangannya dengan hand sanitizer. Bocah kecil itu menggeleng lucu.
"Besok kita pulang ya? Razik 'kan pinter sudah sehat, besok kita pulang ke rumah Ayah. Oke sayang."
"Asyik pulang ke lumah Ayah." Anak itu berseru riang.
Setelah Razik tertidur, Bisma mendekati sofa. Mantan istrinya masih terlelap damai. Terlihat sangat imut dan menggemaskan, berbeda sekali dengan posisi yang sewot dan jutek, terlihat garang walau tetap cantik. Bisma tersenyum sendiri mengamati mantan istrinya. Kasihan juga, sepertinya Bila kecapean, menunggu dan menjaga Razik seharian. Perempuan itu tertidur.
Mata lentik itu terbuka saat buaian halus menyentuh pipinya. Perempuan itu menyipit, menemukan sosok lelaki yang sebelum petang ditungguinya.
"Kamu udah di sini?" tanyanya mrengut. Tangan kanannya sibuk mengucek mata, kemudian beralih membenahi hijab yang bergeser karena pola tidurnya.
__ADS_1
"Maaf, keganggu ya? Bobok lagi aja, aku tadi cuma elapin iler kamu kok," ujarnya tersenyum.
"Hah!" Bila gelagapan sendiri, kedua tangannya sibuk mengusap pipi. Bisma terkekeh melihat calon istrinya yang salah tingkah.
"Ikh ... bohong ya, mana ada tidurku begitu, nakal banget bohongnya." Bila gemas sendiri.
"Aww ... jangan sayang, nggak boleh colak colek dosa!" Satu cubitan gemas berhasil Bila daratkan pada pinggangnya.
"Habisnya kamu ngeselin banget jadi orang, udah nungguin seharian nggak ngabarin, giliran datang malah ngledekin," keluhnya gemas.
"Kamu nungguin aku? Cie ... kangen ya?" tuduhnya ngeledek.
"Ya ampun ... aku kapoklah berharap sama manusia, kaya gini ekspektasi tidak sesuai realita. Nggak mau lagi menunggu kabar apapun dari kamu dari pada sakit hati," celetuknya membuat Bisma cemas sendiri.
"Eh, jangan, iya aku minta maaf, terima kasih sudah menunggu, tolong jangan bosan, aku yang hampir empat tahun saja tak pernah goyah, masak kamu belum genap sehari udah uring-uringan," paparnya.
Bila terdiam, memperhatikan sejenak pria itu. Merasa menemukan waktu yang tepat untuk mengobrol.
"Kenapa kamu bohong soal Mas Gema Bim?" tanya Bila tiba-tiba.
Bisma terlihat kaget mendengar pertanyaan darinya.
"Kamu tahu kondisi Kak Gema? Sejak kapan?" Bisma tidak pernah membagi informasi apapun tentang keluarga termasuk sahabat mereka sendiri.
"Dari sumber terpercaya, kenapa kamu rela ngelakuin semua ini, memilih untuk sakit sendirian? Mungkin kalau aku tidak tahu faktanya, aku akan membencimu seumur hidup," jelasnya sendu.
__ADS_1
"Apa alasan paling mendasar yang membuatmu nekat melakukan itu padaku?"