
Nabila terlihat pucat, Bisma ingin membantunya tetapi Bila menolaknya. Cukup lama perempuan itu ada di dalam kamar mandi, hingga Bisma merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Bila! Bila! Udah belum Bil?" Bisma menggedor-gedor pintunya. Karena tidak ada sautan, pria itu pun menjadi cemas. Bisma yang panik langsung mendobrak pintunya begitu saja.
"Bila! Astaghfirullah ... bangun Bila." Bisma langsung berjongkok dan meneliti mantan istrinya. Pria itu menggendongnya dengan panik.
"Non Bila kenapa Den?" tanya Lastri yang tengah melintas.
"Pingsan Bik, aku mau bawa ke rumah sakit, titip Razik Bik!" seru pria itu tergesa.
Bisma melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih dari rata-rata. Pria itu belum pernah sepanik ini. Melihat Bila tak berdaya, membuat ia sangat ketakutan. Sesampainya di rumah sakit, Bila langsung mendapat penanganan medis.
Pria itu menunggu dengan gusar, pikirannya bercabang tak menentu.
"Bisma? Ngapain? Siapa yang sakit?" tanya seseorang berjas khas dokter menyapa.
"Hmm ... Nabila, Kak Ray."
"Nabila kenapa?"
"Pingsan," jawabnya masih tak tenang.
"Tenang ya, sedang ditangani 'kan? Semua pasti baik-baik saja."
"Aamiin ... semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
Nabila sudah dipindah ke bangsal, perempuan itu harus dirawat secara intensif karena tubuhnya terlalu lemah. Saat Bisma menuju ruang rawat, menemukan perempuan itu tengah terlelap. Bisma dengan sukarela menunggu wanita itu dengan sabar.
Pria itu duduk di kursi samping pinggir ranjang. Satu tangannya menggenggam erat tangan kiri Bila yang terbebas dari selang infus. Perlahan, mata lentik itu terbuka, pemandangan pertama yang Bila temukan saat membuka mata adalah mantan suaminya.
"Bim, kamu yang bawa aku ke sini?" tanya Bila mencoba bangkit untuk duduk, Bisma langsung gercep membantunya. Mengatur ranjang agar pasien nyaman.
"Kamu sudah sadar, istirahat saja jangan banyak ngomong dulu, tenang ya Bila, semua akan baik-baik saja."
"Aku mau pulang," ucap Bila merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Kok pulang? Kamu sakit Nabila, tolong jangan membantah, peduli dengan tubuhmu sekali ini saja, kalau kamu tidak nyaman dengan keberadaanku di sini, aku akan pergi dari ruangan ini, aku akan menunggu di luar," ujarnya salah mengartikan.
"Bukan Bim." Bila mencekal tangannya saat Bisma hendak menjauh. Perempuan itu menahannya.
"Sorry," ucapnya dengan suara lirih, perempuan itu langsung melepas cekalan itu. "Aku hanya tidak ingin merepotkanmu," sambungnya merasa tak enak hati.
"Aku ikhlas merawatmu, kamu sakit gara-gara kemarin kehujanan, aku minta maaf ya? Cepet sehat, aku tidak bisa melihatmu sakit."
"Aku baik-baik saja, minum obat pasti lekas pulih."
Asam lambung Nabila kumat. Efek capek, dan banyak pikiran, ditambah tubuh dengan imun yang melemah karena masuk angin memperparah keadaan. Perempuan itu juga sering begadang, bahkan insomnia.
"Razik gimana? Kamu pulang aja nggak pa-pa? Aku kepikiran."
"Kamu yang tenang, Bila, di rumah aku titip sama Lastri, nitip ke Pandu juga, barang kali butuh sesuatu."
"Kamu kenapa? Kata dokter, kamu banyak pikiran, apa itu ada hubungannya denganku? Aku minta maaf, selalu membuatmu dalam situasi tak menentu."
"Aku mau berkata tidak, nyatanya dokter sok tahu," selorohnya tersenyum tipis.
Nabila bergeming, memutus pandangan itu dengan merubah posisi tidurnya menjadi memunggungi pria itu.
"Jangan menatapku seperti itu," keluhnya merasa entah, pipinya mendadak memanas. Bisma beralih duduk di bibir ranjang, sedikit lebih dekat.
"Kamu kenapa?" Bisma kadang bingung sendiri menyikapi makhluk PMS yang satu ini.
"Sampai kapan kamu hanya akan diam dengan kebohongan itu, aku akan terus menutup hatiku sampai aku tahu, apa yang membuatmu terus membohongiku," ucap Nabila sendu. Selalu merasa sakit, mengingat masa lalu. Dirinya belum menemukan petunjuk atas dasar apa Bisma melakukan itu.
"Maaf, Bila, aku hanya tidak ingin melihat wanita yang begitu aku cintai terluka," ucapnya lirih. Satu tangannya mer*mas pundak perempuan itu, seperti ada beban yang ingin tumpah.
"Istirahatlah, aku akan menunggumu di luar." Bisma bangkit berdiri dengan wajah sendu.
"Hmm ... terima kasih," jawabnya tanpa merubah posisinya.
Kekhawatiran Bisma sedikit memudar, Bila hanya butuh istirahat dan perempuan itu akan segera pulih. Pria itu menunggu di luar, dan cukup lama tidak kembali. Terlihat orang tua Bila sudah hadir di sana.
__ADS_1
"Bun, Bisma mana?" tanya Bila begitu melihat Bu Rima dan Pak Rama datang menghampiri.
"Tadi Bunda suruh pulang dulu, dia terlihat kecapean dan kuyu, kasihan Bisma nungguin kamu seharian."
"Bunda kapan pulang, Bunda juga capek, baru pulang 'kan?"
"Mana Bunda tenang kalau kamu sakit, kenapa nanya-nanya mantan suami kamu? Menyesal, pengen balikan?" selorohnya mengerling.
"Apaan sih, Bunda ngawur saja kalau ngomong, Bisma berhak bahagia dengan wanita yang bisa memberikan cinta dengan tulus."
"Emangnya kamu tidak bisa?" goda Bunda tersenyum.
"Jangan menodongku, Bun, aku sedang sakit lho ini, Bunda jangan membuat moodku layu."
"Razik akan tumbuh besar, dia begitu tulus merawatmu seperti ini, kamu mungkin tidak akan menemukan pria sebaik dia lagi. Bunda melihat itu, Nak, terlepas dari perbuatan dia dulu, Bunda tidak membenarkan, itu sangat salah dan fatal, entah mengapa Bunda yakin, ada yang ditutupi dari Bisma untuk kebaikanmu."
Bila bergeming, tidak lagi menanggapi perkataan bundanya. Suasana mendadak rancu saat tiba-tiba Nadia datang menjenguk, ditemani calon suaminya Faro dan juga Ustadz Zaki. Tidak hanya itu, ada uminya Ustadz Zaki yang tengah berkunjung ke Jakarta menyempatkan menjenguk perempuan itu.
"Masya Allah, Nak Bila sakit apa? Cepet sembuh ya?" doa tulus umi diaminin seisi ruangan.
"Umi kok bisa ada di sini?" tanyanya kikuk. Perempuan sholehah itu telah banyak membantu dirinya melewati masa-masa transisi yang begitu sulit. Membuat dirinya sungkan dengan kebaikannya.
"Umi sengaja ingin menemuimu, Nak, umi kangen sama Razik. Maaf, abi belum bisa jenguk, mungkin lusa, berharap Nak Bila cepat pulih, kita bolehkan bersilaturahmi ke rumah Bila," ucapnya tersenyum.
"Boleh dong Umi," jawab Bila tanpa ragu. Ustadz Zaki tersenyum tipis melihat interaksi dua wanita yang begitu spesial di hatinya itu.
Bisma yang hendak masuk ke ruangan itu mengurungkan niatnya. Pria itu memilih menepi, asalkan berkabar dengan kondisi Bila yang semakin sehat, pria itu begitu lega dan bahagia.
Jam besuk telah usai, ruangan yang tadinya lumayan ramai terlihat bunda yang tersisa. Perempuan bergelar ibu itu masih setia menunggu putrinya.
"Kamu terlihat gelisah, kenapa Nak?"
"Aku ingin pulang, Bun. Aku kangen ... Razik."
"Mungkin besok Bil, nunggu pemeriksaan dokter dulu," ujar Bunda menenangkan.
__ADS_1
"Kamu kangen Razik, atau ayahnya Razik?" goda Bunda yang sukses membuat perempuan itu tak bisa berkutik.