Noktah Merah

Noktah Merah
Part 43


__ADS_3

"Bunda pulang saja, Bunda 'kan baru saja pulang dari luar kota belum sempat istirahat, biar Bila saya yang jagain, sekalian titip Razik, Bun," ujar Bisma saat malam menjelang. Pria itu sengaja datang saat semua orang telah pulang.


"Kasihan kamu, Nak, merepotkan kamu terus menerus." Bu Rima menatap prihatin pria yang masih begitu setia mencintai putrinya itu.


"Tak apa, Bun, Bisma senang ngelakuin ini," ujar pria itu yakin.


"Terima kasih, Nak, titip Bila ya, kabari rumah segera jika ada hal lain."


"Siap, Bun." Pria itu menyalim mantan mertuanya sebelum perempuan paruh baya itu pergi. Nabila sendiri tertidur setelah minum obat.


Pria itu mendekati ranjang, menatap perempuan yang selalu mengisi hatinya dengan perasaan campur aduk. Ibu dari anaknya itu terlihat pucat dan lebih kirus dari semenjak ia lihat kepulangannya ke rumah. Banyak yang berubah dari diri Bila, namun tak satu pun membuat pria itu berpaling. Berharap itu boleh, walau kadang seperti tidak mungkin lagi.


Perempuan itu bergerak lembut, terjaga dari tidurnya. Dengan hati-hati mengambil kantong infus, lalu turun dari ranjang. Sementara Bisma tengah duduk di sofa, pria itu sibuk dengan ponselnya langsung mendekat begitu perempuan itu beranjak.


"Bila, mau ke mana?"


"Astaghfirullah ... Bim, kamu di sini, ngagetin aja," keluh perempuan itu mengelus dadanya.


"Mau ke kamar mandi?" tebak pria itu sigap membantu.


"Iya, Bunda ke mana?" Perempuan itu meneliti isi ruangan.


"Pulang, aku yang nyuruh, kasihan Bunda belum istirahat," jawabnya tenang.


"Owh ...." Bila ngangguk ngerti.

__ADS_1


"Ayo, aku bantuin ya?" ujarnya perhatian.


"Nggak usah, Bim, aku bisa kok," jawabnya yakin. Merasa ada yang aneh saja dengan sikap ini setelah mereka resmi berpisah.


"Kenapa? Tidak perlu merasa sungkan, Bila, aku tidak akan meminta konpensasi kok," selorohnya tersenyum tanggung. Perempuan itu membalas juga dengan senyum tanggung.


"Kamu tunggu di situ aja, aku beneran bisa sendiri," kekeh Bila tak mau dibantu. Perempuan itu menuju kamar mandi dengan hati-hati, merasa canggung dan kurang etis dengan status mereka saat ini kalau terlalu dekat.


Pria itu menurut, walaupun khawatir, laki-laki itu takut Bila malah tidak nyaman kalau terus memaksa. Beberapa menit berlalu, pria itu merasa lega melihat Bila keluar dari kamar mandi.


Bila baru saja mengambil wudhu, perempuan itu belum mengerjakan sholat isya. Semua kegiatan yang dilakukan perempuan itu tak lepas dari pandangan Bisma.


"Apa doamu untuk malam ini, Bil?" tanyanya kepo. Pria itu mendekati ranjang.


"Ra ha sia, kamu kenapa mau nungguin aku? Kasihan Razik, aku kangen banget sama Razik," curhatnya sendu.


"Pertanyaan kamu aneh, aku baru saja melewati lembaran yang sulit, berakhir gagal total, gagal move on dan semua itu sakit, emang semudah itu hati seseorang berpaut?" jelas Bila apa adanya.


Pada kenyataannya perempuan itu tidak mudah untuk jatuh cinta. Lemahnya karakter Bila susah move on setelah berlabuh pada seseorang.


"Beruntungnya orang yang dicintaimu, kamu begitu setia, sampai lupa caranya menghibur diri," sindir pria itu.


Mata mereka bertemu, dua tatapan anak Adam itu mengandung banyak makna tanpa kata. Mereka bisa berbicara lancar layaknya sahabat, namun mendadak bingung menyikapi hatinya masing-masing.


"Sebenci apa dirimu padaku?" tanya pria itu yang masih setia menatap perempuan cantik berhijab itu.

__ADS_1


"Nggak tahu," jawab Bila memutus tatapan itu.


"Benci banget ya, sampai nggak bisa ngukurnya?" tangan Bisma terulur mengusap puncak kepalanya yang tertutup hijab.


"Mungkin, tapi ... lebih kepada kecewa, dengan semua yang melekat pada dirimu, bolehkah aku punya pilihan, kembali ke masa di mana kita masih akrab tanpa beban, tanpa masa lalu yang menyakitkan, dan tanpa melibatkan perasaan." Sudut mata perempuan itu mulai berembuan.


"Iya, boleh, kalau itu bisa membuatmu lebih bahagia, lebih tenang dan membuat perasaanmu lebih nyaman lagi damai," jawab Bisma tanpa ragu.


Bila mengepalkan tangannya, lalu meninju dada bidang pria itu seraya terisak.


"Aku membencimu! Aku benci, benci!" Nabila terus memukuli Bisma. Pria itu membiarkan saja perempuan itu meluapkan semua emosinya.


"Pukul aku semampu kamu, Bila, sentuh aku sebanyak mungkin, sampai traumamu hilang," ucap pria itu terpejam. Begitu menikmati timpukan bertubi itu. Sampai tangan itu melemah, dan Bila berhenti menangis.


Bisma langsung membawa tubuh itu dalam pelukan. Menyimpannya dalam dekapan.


"Maafkan aku yang tidak bisa berhenti mencintaimu, namun aku ikhlas melepaskan demi kebahagiaan itu. Jangan menangis lagi, biarkan status dan perasaan kita tetap begini, asal itu bisa membuatmu lebih nyaman di dekatku," ucapnya sendu. Mereka tersedu dalam pelukan. Entah berapa lama adegan itu berlalu, yang jelas perasaan itu lega, saat perempuan itu lebih banyak bicara dari pada mendiamkannya.


Selalu ada hikmah di setiap lembaran cerita luka, begitu pun dengan sakitnya Bila kali ini, mereka menjadi mempunyai kesempatan bersama. Tuhan selalu punya takdir yang indah di setiap rencana doa yang tulus. Senyum itu hadir pada sudut pria itu, walau hanya diakui sebagai sahabat hati, setidaknya Nabila tak lagi takut padanya saat hanya berdua. Perempuan itu lebih tenang.


"Istirahat lah, simpan energimu untuk besok, ingin cepat pulang peluk Razik 'kan?" selorohnya tersenyum.


"Kamu juga, tidur sana, ngapain lihatin aku terus," jawab Bila ngeles.


"Emang nggak boleh ya, lihatin dek Nabila Maharani?" godanya sukses membuat perempuan itu tersenyum.

__ADS_1


"Jangan menggodaku, nanti aku susah tertidur?"


"Hmm, baiklah selamat beristirahat," ucap pria itu tidak lekas beranjak.


__ADS_2