
"Mas, kok aku masih kangen ya sama Razik, seharusnya dia ikut, dan sekarang tidur di sini." Mereka tengah mengobrol sebelum tidur, saling membaringkan tubuhnya dengan posisi saling berhadapan.
"Kan tadi udah telepon, dia juga nggak rewel kok, jadi tenang aja."
"Kamu jago banget sih gombalin pakai embel-embel oleh-oleh mainan yang banyak lagi. Di rumah aja udah sekarung, mau buat apa coba?"
"Biarin aja, sayang, yang penting dia happy dan kita di sini juga tenang. Aku takut kamu minta balik sebelum waktunya," ujarnya seraya mengelus pipi kanannya.
"Kalau lagi gini tuh, suka berasa kaya mimpi, kamu nyata, bisa dipeluk dan bisa dipegang, bukan hanya halusinasi seperti yang dulu sering aku rasakan. Memendam rindu yang melesakkan hati." Bisma mengambil tangan istrinya lalu menggenggam dengan kedua tangannya. Sesekali membawa dalam kecupan.
"Segitunya kamu nelangsa Mas, kasihan banget sih suamiku," balas Bila menatap teduh, dielusnya rahang yang kokoh itu, garis-garis wajah bijaksananya nampak jelas tertanam di wajahnya. Perempuan itu tersenyum.
"Aku beruntung memilikimu, Mas, terima kasih sudah menjadikan aku ratu di hatimu. Akulah orang yang paling beruntung, walaupun aku akui, aku terlambat mencerna kehadiranmu, terlambat mencintaimu."
"Bukankah ada pepatah yang bilang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, itu artinya ada restu dari-Nya, kita memang ditakdirkan berjodoh walau harus melewati jalan yang terjal dan berliku-liku," ujarnya menerawang.
"Ya, kalimat itu lebih cocok untuk kita berdua. Kamu semakin paham dengan perasaan aku."
"Tetapi kamu nggak," ujar Bila tiba-tiba menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Perasaan yang mana yang aku tidak paham sayang, aku kurang dalam melayanimu?" tanyanya serius.
"Ihk ... bukan itu, kamu mah suka nggak peka."
"Terus?" Pria itu menatap serius, apa yang menjadi ganjalan dalam hatinya.
"Aku boleh minta sesuatu, tapi ... mungkin akan sedikit merepotkan dan menguras kantongmu," ujarnya menatap serius.
"Boleh, kamu ingin apa? Insya Allah jika aku mampu, aku akan mengabulkannya," ujarnya sungguh-sungguh.
"Aku ... aku ingin rumah baru," jujur Bila pada akhirnya.
"Kok cuma oh doang, kalau uangmu tak cukup, aku ada sedikit tabungan, tidak sebanyak uangmu, tetapi lumayan untuk nambah-nambah. Aku ingin memulai dari nol, yang hanya ada aku, kamu, Razik, dan anak-anak kita lainnya di rumah itu," pungkasnya yakin.
"Kamu sedang menghindari sesuatu, aku tidak keberatan untuk itu, tetapi jelaskan padaku kalau ada hal lain, apa Pandu bersikap kurang ajar padamu?" tanyanya serius.
Bila terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan, ia tidak boleh bergosip atau mengadu hal yang nantinya akan memicu pertengkaran mereka, terlebih itu mengancam kelangsungan hidup pada dirinya.
"Bukan itu Mas, maaf, tetapi kamu 'kan tahu sendiri, aku punya trauma masa lalu, dan aku tidak nyaman ada pria dewasa di rumah kita, maaf Mas, tolong jangan pikir yang macam-macam dulu, aku hanya tidak ingin kejadian yang tempo lalu kecerobohan Pandu masuk kamar begitu saja membuat aku stress, aku terus dihantui rasa takut dan gelisah, aku takut ini tidak baik untuk kesehatanku," paparnya serius.
__ADS_1
"Iya sayang, aku setuju, jujur aku juga tidak nyaman kalau harus menumpang di rumahmu," ujarnya jujur.
"Dulu kayaknya nyaman-nyaman aja deh, kenapa sekarang nggak?"
"Beda sayang, kalau aku lagi jadi kumbang yang dahaga, tidak bisa langsung menghisap madu asmara. Aku harus nunggu suasana kondusif."
"Curhat Bang?" guraunya yang seketika membuat perempuan tersenyum.
"Iya Mah," jawabnya terkekeh.
Malam semakin merangkak, dan malam ini mereka hanya mengobrol semakin intens. Tentang keinginan mereka, rumah tangga mereka, dan mungkin planing kehidupannya mau seperti apa nantinya.
"Setelah resepsi pernikahan ya, untuk sementara kita tinggal di rumah sesuai keinginan kamu, mau hotel juga boleh. Biar bisa berduaan terus kaya gini."
"Hmm ... inget Mas, kita punya anak."
"Tahu ... aku tidak pernah lupa. Tetapi aku hampir lupa cara membuatnya, hehe." Pria itu terkekeh tanpa dosa.
"Kamu sedang memancing umpan? Atau modusin perempuan."
__ADS_1
"Dua-duanya. Hehe." Bila mulai awas saat tangan yang selalu menuntunnya itu bergerak mulai nakal.