
"Sayang, jalannya jangan cepet-cepet, sini tangannya," tegur Bisma pada istrinya.
Mereka tengah jalan pagi bersama. Bahkan, hampir setiap pagi selepas subuh, Bisma dengan telaten menemani istrinya berolah raga, supaya sehat dan persalinan lancar.
"Mas, aku lapar, bisa kita beli lontong sayur di prapatan yang biasa mangkal?"
"Boleh, aku juga kebetulan sudah lapar," ujar pria itu mengiyakan. Mereka berjalan dari taman komplek menuju perumahannya. Jaraknya tidak begitu jauh, namun cukup memberi keringat di pagi hari.
Bisma mengelap bangku yang akan buat istrinya duduk, lalu mempersilahkan istrinya duduk di bangku yang sudah dibersihkan.
"Pak, pesen dua porsi ya," seru Bisma memesan dua porsi lontong sayur.
"Sayang, haus," rengeknya manja.
"Kamu tunggu ya, aku beliin di warung sebrang, minum yang kita bawa udah habis," ujar pria itu menunjuk tempat minum yang kosong.
"Iya, Mas."
Bisma setengah berlari membeli minuman untuk istrinya, pria itu benar-benar menjadi suami siaga. Yang selalu siap sedia kala istrinya membutuhkan sesuatu.
"Sayang ini minumnya." Bisma menyodorkan aqua botol dalam kemasan yang sudah dibuka sealnya terlebih dahulu, memastikan istrinya minum dengan tenang.
"Mas aku kenyang," ujarnya menyudahi acara makannya, padahal baru beberapa suap.
__ADS_1
"Makan yang banyak, 'kan habis jalan, pasti lapar 'kan?"
"Udah kenyang, pengen pulang, kasihan Razik pasti udah bangun."
Setelah menghabiskan satu porsi lebih sama sisa istrinya, mereka bergegas pulang. Rasanya gerah dan ingin segera mandi. Benar saja, saat mereka sampai rumah, Razik sudah bangun dan baru saja mandi dengan Bu Santi. Bu Santi adalah asisten baru yang menginap di sana, khusus mengurus Razik dan keperluannya.
"Pagi jagoan Ayah, udah mandi ya, ganteng banget sih," puji Bisma pada putranya. Bocah itu tengah sibuk mengunyah sarapan yang dibuat Bu Santi.
"Anak Bunda sarapan apa? Mau dong!" ujar Bila mengintip isi piring Razik.
"Den Razik minta omelet, Non. Udah dibuatin tapi ini makanya kurang berselera." Bu Santi yang menjawab.
"Lho kok gitu, makan yang banyak, biar cepet gede."
"Bunda, kenyang," ujar bocah itu menunjuk gelas kosong sisa susu.
Bila menuju lantai dua, tepatnya di kamarnya. Suaminya sedang mandi, pria itu berangkat ke kantor sekalian mengantar Razik sekolah.
"Mas, ini udah aku siapin bajunya?" ujar Bila menyediakan satu stel baju kantor untuk suaminya.
"Makasih sayang, tapi hari ini aku free, mau nemenin kamu belanja, kemarin katanya mau nambahin perlengkapan bayi."
"Kamu inget aja, semangat banget lagi. Aku mandi dulu deh Mas, kalau gitu."
__ADS_1
"Iya, udah aku siapin airnya," ujarnya perhatian.
"Makasih sayang, terbaik," ujarnya tersenyum. "Sini bentar Mas, aku bisikin."
"Apa sayang ...."
"Turunin dong badan kamu, aku susah," ujarnya penuh rahasia.
Bisma membungkukkan badannya agar sejajar dengan istrinya, saat itulah Bila langsung memberi kecupan sayang di pipinya.
"Ini bisikannya, kamu manis banget dih yank, gumush aku. Sehat-sehat ya?" Pria itu menarik istrinya dan membalas dengan hujan kecupan di pipi kiri dan kanannya, membuat perempuan itu terkekeh geli.
"Udah Mas, udah, ini mah namanya gemes," protes Bila mengelap pipinya sendiri.
"Kalau kamu kasih aku satu kecupan, aku bakal balas kasih kamu sepuluh ciuman, biar makin sayang," ujarnya tersenyum.
"Udah Mas, becandanya, aku mandi dulu."
Perempuan itu baru selesai mandi, dan berganti baju. Rencana hari ini jalan-jalan sekaligus belanja.
"Udah belum?"
"Kamu antar Razik dulu aja Mas, aku tunggu sebentar, perutku sedikit kurang nyaman," ujar perempuan itu nyengir.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Sakit? Jangan-jangan adeknya udah mau lahir." Pria itu mendadak cemas dan bingung.
"Mas ....!"