
"Kita? Lo kali, gue udah nikah dan punya anak," ucapnya tenang. Sontak Faro dan Alan menyorot dengan kekehan pelan.
"Lo sehat 'kan? Kapan coba lo nikah, sama siapa? Pacar aja belum kelihatan hilalnya, ngaku-ngaku udah punya istri dan anak."
"Terserah kalian saja lah."
"Eh iya, ada Disya cs, kenapa nggak kepikiran dari tadi, rempong squad 'kan paling cetar tuh di kampus, eh tapi gue nggak pernah tahu kabar si Bila, ke mana ya? Sejak menikah, tuh anak ngilang." Mendengar nama istrinya disebut, Bisma menyorot Alan serius.
Jangankan elo, gue aja yang suaminya nggak tahu dia di mana.
"Kalau yang lainya 'kan, aktif di sosial media, apalagi Disya, hobinya pajang kemesraan dan foto anaknya mulu, bikin ngiri dan cepet pengen nikah, sebentar lagi gue juga bisa bikin caption keromantisan kaya gitu."
Mendengar celotehan Faro, Bisma merasa ngilu. Alih-alih bisa ngumpul dengan keluarga kecilnya yang bahagia, bahkan bertemu dengan anaknya secara kasat mata pun belum pernah. Mendadak jiwa terdalamnya tersentil, netranya memerah menahan gejolak yang meronta. Rindu itu sepertinya tidak bisa ditolerir lagi, Bila benar-benar sudah merampas masa-masa berdua yang seharusnya ia dapatkan dengan si buah hati.
"Gue mau undang teman-teman dekat semua, acara nikahan gue 'kan resepsinya rencananya mau di Bali, jadi gue butuh serangkaian acara yang terjadwal dari hari ini." Faro kembali mengemukakan rancangan indahnya.
"Bis, lo kenapa?" tanya Alan bingung, Faro ikut menyorot sahabatnya yang tiba-tiba muram. Pria itu terdiam, menggeleng lemah.
"Lo kalau ada masalah bilang, Bisma? Jangan dipendam sendiri, lo jarang nongol, lo jarang ngobrol, bahkan tak sekali pun lo mau kalau diajak hang out ke tempat hiburan."
"Iya, Bis, gue nggak pernah lihat lo, sampai kaya berat gini, apa ada kata kita yang nyakitin lo, lo ada masalah apa?"
"Gue rindu, gue hanya sedang rindu dengan seseorang dan anak gue," ucapnya tersendat.
Runtuh sudah pertahanan Bisma untuk tidak mengadu terhadap kedua sahabatnya. Alan dan Faro yang melihat itu langsung memeluk dan menepuk punggungnya, mentransfer kekuatan dan kepercayaan diri lagi. Ingin rasanya mereka tak percaya, tapi lihat dari kilatan sendu yang tersaji pada wajahnya, jelas, Bisma tidak sedang mendrama atau bercanda.
"Keluarin semua ganjalan lo di hati, Bis. Gue juga pernah menangis, itu sangat wajar di saat kita benar-benar terluka," ucap Alan menenangkan.
__ADS_1
"Jadi, beneran lo udah punya anak?" Faro masih belum yakin. Bisma mengangguk. Tangannya terulur membuka galeri di ponselnya.
Gambar-gambar bocah kecil, lucu nan menggemaskan jelas terpampang di sana. Alan yang melihat itu, meneliti begitu dekat.
"Bocah lucu ini ... kaya pernah lihat," Alan bergumam pelan. Mencoba mengingat-ingat otak pintarnya yang mendadak loading.
"Ya ampun ... ini beneran anak lo? Gue ketemu kemarin pas pulang dari luar kota, sumpah aku masih ingat mukanya yang lucu." Bisma langsung menatap sahabatnya serius.
"Lo lihat anak gue, di mana?" tanyanya tak sabaran. Muka kusutnya yang muram mendongak penuh harapan.
"Di restoran area, ini baru kemarin sore kejadiannya, eh tapi ... tunggu dulu, kok lo bisa nggak tahu anak dan istri lo di mana, gue masih nggak paham, sumpah otak gue nggak nyampai."
"Ceritanya panjang, belum saatnya gue cerita, yang punya kisah saja masih menutup cerita, gue mau ketemu, Al, lo bisa tunjukin di mana lo ketemu?"
"Di jalan, Bambang, gue dalam perjalanan pulang, dan dia juga sepertinya dalam perjalanan, dia bersama wanita yang begitu cantik nan anggun, ah ... gue masih terngiang sama wajahnya, bahkan belum bisa move on sama pandangan pertama."
"Halah, giliran sama cewek aja lo konek," cibir Faro menyela.
"Bis, sumpah kalau ini beneran anak lo, itu bocah ngegemesin banget, gue aja langsung suka begitu ketemu, gue cubit pipinya yang gembul."
"Lo kenapa nyolong star sih, gue bapaknya, gue kangen banget, lo ada petunjuk nggak tentang anak gue?"
"Enggak lah, orang kejadiannya juga cepet, aku baru aja dari kamar mandi, sepertinya anak lo dan tantenya itu juga mau ke kamar mandi terus nabrak, nggak sengaja gitu."
"Lo lihat ibunya bocah nggak?" berondong Bisma antusias.
"Itu cewek ... bilang bundanya di sana gitu, nunjuk seseorang yang agak jauh sih, duduk bertiga lagi makan sama dua cowok, gue nggak sempat lihat mukanya, posisinya agak jauh dan tuh cewek duduk memunggungi arah gue. Kenapa sih, istri atau mantan lo kah?"
__ADS_1
"Kemungkinan iya, tapi dia dengan siapa?"
"Saudaranya lah pastinya, 'kan tuh cewek bilangnya keponakan."
Bila sama siapa ya? Dua pria? Kok hati gue sakit, apa jangan-jangan Bila sudah menikah? Astaghfirullah ... bahkan gue belum menceraikannya, dan itu tidak mungkin.
"Sorry kawan, sepertinya gue harus pulang, terima kasih infonya, Alan. Kalau lo lihat lagi, lo wajib kabari gue segera."
"Sehat-sehat lo, Fa, calon pengantin semoga lancar." Bisma menepuk pundaknya seraya bergerak melangkah.
"Aamiin ... beneran udah mau pulang? Kapan ngumpul lagi, sebelum gue resmi nikah, pasti nggak banyak waktu kalau sudah sama bini."
"Atur aja waktunya, gue sibuk," jawab Bisma lalu.
Usai pertemuan, Bisma langsung pulang. Ia menempati rumah yang bersebelahan dengan orang tua Bila. Selain karena ingin memantau barang kali istrinya pulang, Bisma juga sering menginap di kamar lawas Bila, tentu saja karena di sana ada banyak jejak istrinya yang tertinggal. Sedikit mengobati rasa rindu, kala malam menyapa.
Pria itu tinggal di rumahnya, tapi kalau tidur suka mampir di kamar Bila yang tak jauh dari balkon kamarnya. Rutinitas itu sudah ia lalui bertahun, bahkan walau mertuanya itu sudah pulang ke rumahnya, Bisma masih wira-wiri di rumah itu. Hubungan kekeluargaan dengan kedua orang tua Bila masih begitu hangat sampai saat ini.
"Assalamu'alaikum ...." sapa Bisma, pria itu langsung pulang ke rumah mertuanya.
"Bisma, tumben jam segini sudah pulang, Nak?" Bapak dari satu anak itu menyalim takzim mertuanya.
"Pengen langsung pulang ke sini, Bun. Apa Bunda kemarin ada kabar dari Bila, hmm ... maksud Bisma, obrolan apa gitu?" tanyanya penuh harap.
"Biasa aja, Nak, mengabarkan kondisi kesehatan rumah, sama bercerita tentang Razik."
"Bu, apa Bunda punya petunjuk, aku rindu, Bu. Aku merindukan Razik, aku ingin memeluknya, bisakah Bunda memberitahu di mana saat ini Bila tinggal."
__ADS_1
"Maaf, Nak Bisma, Bila masih saja alot, Bunda tidak tahu di mana Bila tinggal, ia selalu berkata baik-baik saja, Bunda juga ingin menyusulnya kalau Bunda tahu. Kamu yang sabar ya, anakmu sudah besar, aku yakin Bila akan pulang," nasihat mertuanya begitu sendu. Bisma hanya mengangguk pasrah. Nyatanya walaupun sakit, tapi ia tak sanggup untuk melepaskan.
Bisma menuju kamar dengan langkah lesu. Menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang istrinya. Bertahun ia merindu dengan bayang-bayang semu. Terkadang, rindu itu begitu menyiksa.