Noktah Merah

Noktah Merah
Part 38


__ADS_3

"Belum tidur?" Suara itu mampir ke telinga wanita cantik yang tengah menatap langit malam yang cukup terang bintang. Perempuan itu menoleh, menemukan mantan suaminya tengah berdiri di balkon kamarnya menatap lurus ke atas. Sama, tengah menatap langit juga.


"Belum, tidak bisa merem," jawabnya memindai pandangan dari Bisma menatap lurus ke depan.


"Kenapa, kepikiran Razik? Anak kita sudah tidur, jangan khawatir dia tidak rewel," curhatnya jelas.


"Langitnya cerah ya, indah," ujarnya terus mendongak, mengajak ngobrol orang di sebelahnya, namun pandangan keduanya sama-sama menatap langit.


"Iya ...." jawab perempuan itu dengan senyum mengulas. Keduanya saling terdiam menatap langit yang sama.


"Kamu juga belum tidur?" Terlihat aneh bisa mengobrol satu sama lain, namun sebelumnya memang mereka sudah saling kenal akrab sejak di bangku kuliah.


"Nemenin kamu, tidur yuk ... ini sudah larut, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu," kata pria itu beralih menatap mantap istrinya.


"Hmm ...." Bila hanya menjawab dengan gumamam, netranya menatap pria yang kini tengah menyorotnya begitu teduh. Dalam seperkian detik, keduanya sama-sama terdiam dan saling menatap satu sama lain. Cukup lama hingga perempuan itu memutus tatapan itu dan menunduk.


"Night," ucapnya seraya berlalu meninggalkan tempat itu.


"Night too," jawab pria itu tersenyum menatap punggung mantan istrinya yang bergerak masuk ke kamar. Baru Bisma juga masuk ke kamar dirinya. Merangkak ke kasur, mendekap dan mencium puncak kepala Razik dengan sayang. Lalu beralih ke alam mimpi.


Pagi harinya, Bisma terlihat sibuk. Selain harus menyiapkan dirinya, pria itu juga harus memandikan Razik dan menyuapinya sarapan. Untung hari ini hari libur, namun Bisma mempunyai jadwal bertemu dengan teman-temannya.


"Sayang, kamu mau ikut Ayah atau pulang ke rumah Bunda?" tawar pria itu memberikan pilihan.


"Ayah," jawab Razik diluar dugaan. Pria itu tersenyum mendengar Razik menyebut dirinya. Itu artinya Razik belum mau pulang, jadi ... kesempatan untuk bersama anaknya akan semakin panjang.


"Baiklah, tapi Razik telfon bunda dulu ya, nanti dicariin, hari ini Ayah mau ketemu sama teman-teman Ayah," ujar pria itu memberi penjelasan.


"Iya, itut ya ..." Razik terlihat semangat.


Bisma menghubungi mantan istrinya kalau Razik belum mau pulang. Mendengar hal itu, tentu saja Bila sedikit khawatir dan kesal, semalam saja perempuan itu tidak bisa tidur dengan tenang gara-gara memikirkan anaknya.


"Kamu ngomong apa sih, balikin sini, nggak tahu orang khawatir apa?" Bila menggerutu disepanjang telfon. Membuat Bisma mau tidak mau menyambangi rumah yang pernah ia singgahi dulu dan menjelaskan semuanya.


"Aku nggak ngomong apa-apa, Bila, Razik sendiri yang masih betah sama aku, salah ya ... anak dekat dengan ayahnya."


"Kamu nggak pernah tahu rasanya jadi aku, Bim, jadi bisa ngomong gitu. Razik sayang ... ayo nak, mau ikut Bunda nggak?" Bila tengah kesusahan membujuk anaknya yang masih betah bersama ayahnya.

__ADS_1


"Jangan dipaksa Bil, nanti Razik tidak nyaman, gini aja, kita bisa berangkat bareng ke acara reunian," ujarnya memberi solusi.


Tentu saja Bila tidak langsung mengiyakan, ia belum siap rasanya harus kepergok teman-temannya mempunyai anak dari Bisma, apa jawabnya nanti.


"Razik, bagaimana kalau hari ini gantian jalan-jalan sama Oma?" tawar Bu Rima mencoba mengambil hati cucunya. Ia mengerti betul, semalam putrinya cukup resah dan galau ditinggal Razik, kecemasan yang sangat wajar, di mana seorang ibu yang selalu bersama dalam situasi apapun tentu saja kalau tiba-tiba menghilang dan lebih dekat dengan ayahnya, tentu membuat Bila begitu kehilangan.


Berhasil, bocah kecil itu menurut. Dengan iming-iming berbagai hal, akhirnya Razik mau diajak Bu Rima.


"Terima kasih, Bun. Razik sayang ... main sama Oma jangan nakal ya?" Bisma mencium pipi gembul anaknya sebelum bocah itu digendong mantan mertuanya ke dalam.


"Maaf, Bila, semoga kamu tidak salah paham tentang presepsi Razik, aku pasti akan sering datang menemuinya."


"Hmm ...." Bila tersenyum dengan anggukan.


"Kamu mau datang? Bagaimana kalau kita bareng, kita berangkat layaknya sahabat satu sama lain," ucapnya hati-hati.


"Aku belum jelas datang, lihat nanti, ada hal lain yang tidak bisa aku tinggal," jawab Bila ngasal. Ia tidak ada kegiatan yang berarti hari ini, namun alasan itu yang terlontar dari mulut perempuan itu.


"Owh ... begitu ya, kalau begitu semangat untuk harimu, aku permisi dulu," jawab Bisma sedikit kecewa. Terlihat jelas mode dingin kembali menyapanya.


"Bisma!" seru Alan yang sudah hadir lebih dulu. Pria itu terlihat sendirian.


"Kamu sendirian? Katanya bawa gandengan, mana?" imbuh Alan celingukan.


"Kamu juga sendirian? Kenapa rempong sama urusan aku?"


"Pengennya sih ngajakin cewek, tapi adanya bini tetangga, ah ... gue belum nemu yang pas," ujarnya dramatis.


Satu persatu mulai berdatangan, kehebohan langsung melanda ketika Disya dan Pak Sky datang. Pasangan paling fenomenal seantero kampus itu, datang dengan membawa dua anak mereka si kembar.


"Hallo gaes ... kalian masih pada sama aja ya ternyata, cuma gue yang luar biasa. Luar biasa rempong dengan anak dua. Hehehe."


"Hai ... Disya ... Pak Sky ikut juga?" sapa Alan ramah. Menyalami keduanya dengan cepat.


"Hallo ... Reagen, Realy, kalian sudah besar ya, cakep bener anak lo, Sya?" Alan menjawil dagu Realy.


"Ish ... Om-om genit!" tegur Sinta yang baru saja gabung.

__ADS_1


"Sayang, kamu gabung sama cewek-cewek, area cowok kurang afdhol untukmu."


"Tenang Pak, ini area bebas tikungan, semua yang hadir bebas membawa pasangan kecuali yang jomlo."


"Kamu termasuk yang mana?"


"Hmm ... pinginnya yang pertama, tapi hilalnya belum kelihatan Pak. Hehehe."


"Kasihan sekali kamu, jomlo karatan dong!"


"Astaghfirullah ... Bapak kalau ngomong suka bener," jawab Bisma begitu saja, sontak membuat suasana heboh.


"Sayang, nikmati harimu, aku bawa anak-anak ya?" pamit Sky yang ternyata cuma mengantar saja. Terlalu sibuk untuk dirinya bergabung dengan mereka.


"Jangan lupa nanti jemput aku, Mas," pintanya sembari menerima uluran tangan takzim. Pria itu mengangguk, meninggalkan kecupan sayang sebelum beranjak.


Suasana semakin rame, hampir semua alumni hadir di sana. Disya nampak sibuk menghubungi Bila yang katanya mau datang.


"Telfon siapa sih beb, sibuk amad."


"Ada lah ... bentar gue tinggal sebentar." Perempuan itu mlipir ke pinggir mencari signal yang pas.


"Halo semuanya ... sorry telat ya, udah pada ngumpul semua ya?"


"Belum mulai kok, Num. Langsung gabung aja," jawab Faro seadanya.


"Hai, Bim, Al, kalian pada berangkat sendiri, nggak cs ah ... kemarin ditawari bareng pada nggak jelas." Hanum langsung mengambil duduk di dekat Bisma.


"Hai, sorry Num, kemarin banyak agenda takutnya nggak bisa datang, tapi alhamdulillah bisa."


"Diusahain lah ... ini 'kan ajang silaturahmi alumni, jadi pasti disempatin dong, Faro keren banget, trims fren udah udang aku. Sukses selalu buat acara kamu nantinya."


"Aamiin ... terima kasih doanya, Num."


Acara hampir dimulai ketika sebuah salam menggema ruangan, nampak sosok cantik berhijab datang sendirian dengan anggun memasuki area perkumpulan.


"Assalamu'alaikum ...." sapa ramah dari seseorang yang baru saja hadir. Semua mata tertuju padanya, dalam sekejap perempuan yang datang paling terlambat itu menjadi pusat perhatian semua yang hadir di sana.

__ADS_1


__ADS_2