Noktah Merah

Noktah Merah
Part 104


__ADS_3

Bila menunggu puding buatan suaminya sampai terkantuk-kantuk. Pria itu bolak balik meneliti apakah sudah mengeras atau belum, ternyata lama juga untuk menjadi gel.


"Sayang, kamu tidur dulu aja, ini kerasnya lama, ditinggal dulu nanti kalau udah jadi gampang tinggal makan."


"Temenin Mas, ayo!" seru Bila nampak lesu.


Perempuan itu berjalan mendahului suaminya, dengan Bisma mengekor di belakangnya.


"Sayang, ini buat apa?" tanya Bisma menunjuk guling yang dipasang di tengah sebagai pembatas.


"Ini tuh biar kamu nggak nempel-nempel aku, Mas, aku mual. Tapi aku kangen, kamu jangan jauh-jauh ya?" ujar perempuan itu sendu.


"Sepertinya anak ini tidak menyukaimu, kamu sih dibilangin aku belum mau hamil kamunya ngebet banget," gerutu perempuan itu kesal.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... nggak boleh gitu sayang, kok nangis, duh ... gimana dong?" tanyanya bingung.


Bisma nampak sibuk sendiri, mondar-mandir mencari solusi, pria itu akhirnya mengambil masker dan berharap menyelesaikan masalah.


"Coba kamu pakai ini sayang," titah Bisma menyodorkan masker. Bila mengiyakan dan langsung menerimanya.


Setelahnya Bisma mendekat, lalu merentangkan tangannya agar istrinya memeluk dirinya. Hatinya cukup diliputi waswas, takut istrinya mendadak mual lagi dan menolak dirinya. Entahlah, tubuhnya itu tadinya adalah favoritnya, tapi semenjak hamil istrinya itu akan sangat mual bila dipeluk olehnya.


"Gimana? Mual nggak?" tanya Bisma yang diiringi gelengan kepala oleh istrinya, sejenak pria itu pun bernapas lega, mendekap penuh kerinduan.


Perempuan itu tersenyum dibalik maskernya, ia mulai terbawa suasana dan pelan-pelan merapatkan matanya, istrinya tertidur dalam buaian suaminya. Setelah memastikan istrinya tertidur sempurna, Bisma meninggalkan jejak sayang di keningnya, lalu membuka masker istrinya, takut menjadi sesak napasnya karena terhalang alat pelindung mulut dan hidung dari polusi.


Pagi berjalan begitu cepat, bahkan pria itu merasa baru terlelap beberapa jam saja, namun kumandang subuh sudah menyapa. Setengah menyipit pria itu bergegas menuju kamar mandi wudhu, lalu mengambil sejumput air untuk menyipratkan pada wajah istrinya.

__ADS_1


"Sayang, bangun, ayo sholat dulu." Perempuan itu melenguh, sedikit membuka matanya sebelum akhirnya bangkit dari sana. Bisma lebih dulu menyiapkan sendal rumah yang ditata di bawah ranjang, memudahkan istrinya memakainya saat ingin beranjak, khawatir perempuan itu masuk angin, tentu Bisma harus ekstra menjaganya dengan limpahan kasih sayang.


"Kenapa, Mas? Kok lihatin gitu, ada yang salah?" tanya perempuan itu menyorot sendu.


"Nggak ada, merasa bersyukur aja walaupun repot tapi aku bahagia banget bisa ada di sampingmu menemani masa-masa yang tak mudah." Sudut matanya mengembun, ia terharu sekaligus bahagia.


Dua rakaat mereka tunaikan bersama, pria itu akan sangat manis memperlakukan istrinya walaupun kadang diketusin, direpotkan, bersyukurnya Bila mempunyai suami yang luar biasa sabar.


"Mas, maafkan aku ya, kadang aku nggak bisa ngontrol diri, belakangan juga baperan bikin hidup kamu susah, aku kangen Mas." Bila berhambur ke peluknya, tentu saja dengan mulut ditutup masker, entahlah jiwanya meronta rindu, namun raganya bahkan enggan menyapanya.


Usai sholat, Bila yang merasa luar biasa pada suaminya merasa bersalah, ia menutup hidungnya tersedu, menahan diri agar biasa saja, ia juga merasa rindu dengan suami tampannya itu.


"Maaf, Mas, aku nyebelin ya?" ungkapnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa sayang, aku ridho atas apa yang terjadi antara kita."


"Aku kangen Mas," ungkap Bila memeluk erat suaminya. Dibalas Bisma dengan begitu hangat, belum apa-apa Bila merasa lemes sebab tubuhnya mendadak bergejolak dan ingin memuntahkan semuanya.


__ADS_2